Jambore Kebangsaan Pesantren Ath-Thoriq, Sarana Diskusi Masalah Ekologi Hingga Kemanusiaan

252
Sebanyak 150 orang peserta ikuti jambore Kebangsaan Pesantren Ath-Thoriq kedua

GARUT – Pondok Pesantren Ekologi Ath-Thoriq yang berada di Kampung Citeureup Kelurahan Sukagalih Kecamatan Tarogong Kidul, kembali menggelar jambore kebangsaan. Kegiatan tersebut merupakan kali kedua dilakukan.

Sebanyak 150 peserta turut ramaikan acara itu, mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selama dua hari mulai Sabtu (14/9/2019) hingga Minggu (15/9/2019) mereka bertukar pikiran soal ekologi hingga isu-isu kemanusiaan.

Pimpinan Pondok Pesantren Ath-Thoriq, Ustad Ibang Lukmanurdin, mengungkapkan, jambore kebangsaan kali ini, mengambil tema “Menjaga Ekologi Indonesia dan Kemanusiaan”. Tema ini diambil dari kegelisahan banyak kalangan akan krisis ekologi dan kemanusiaan di Indonesia hingga dunia.

“Hutan rusak, keanekaragaman hayati berkurang, maka muncul bencana banjir, polusi udara, pencemaran air sungai dan laut, ini contoh-contoh kejadian yang membuat semua gelisah,” katanya.

Tidak hanya soal ekologi, keresahan juga menyeruak pada isu-isu kemanusiaan dimana ancaman konflik agama, ras dan suku mulai terbuka. Karenanya, menurut Ibang, jambore kebangsaan ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang organisasi dan agama.

Sementara itu, pengasuh pondok pesantren Ath Thoriq, Nissa Wargadipura, mengatakan, selama dua hari mengikuti jambore kebangsaan. Para peserta diajak berdiskusi tentang pandangan ekologi dan kemanusiaan dari sudut pandang tiap-tiap agama dan kepercayaan.

Setelah itu, menurut Nissa para peserta juga diajak melihat praktek cerdas dalam upaya menjaga keseimbangan ekologi dan kemanusiaan yang telah dilakukan aktivis-aktivis lingkungan dan kemanusiaan di Indonesia dengan menghadirkan para aktivisnya.

“Puncak acaranya, ada deklarasi Ath-Thoriq yang diikuti oleh para peserta yang isinya 9 poin kesepakatan para peserta menyikapi kondisi saat ini,” katanya.

Adapun sembilan poin yang ada dalam deklarasi tersebut diantaranya adalah, semua pihak sepakat membangun gerakan masyrakat melek ekologi, menanamkan pertobatan dan kesalehan ekologi demi kesucian alam dan mewujudkan keberlanjutan lingkungan untuk kehidupan generasi masa kini dan mendatang.

Poin kesepakatan lainnya diantaranya mengelola dan bertanggungjawab terhadap sampah demi kelestarian alam, memanfaatkan peluang-peluang untuk mewujudkan kedaulatan pangan yang berwawasan ekologis dan melestarikan keanekaragaman dan hubungan yang harmonis antara sesama makhluk demi keseimbangan alam.

Tiga poin sisanya adalah, mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan berpijak pada ekonomi yang ramah lingkungan, menjaga persaudaraan dan cinta kasih dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan untuk kedamaian semesta dan melakukan tindakan-tindakan diatas secara nyata dan konkret sejak dini mulai dari diri sendiri dan keluarga. (erf/rls)