Irawan, Warga Garut Korban Selamat Aksi Jahat KKB Masih Trauma

337

GARUT – Irawan Maulana, 22, warga Kampung Papandak, RT 2/6, Desa Sukamenak, Kecamatan Wanaraja menjadi salah satu korban yang selamat dalam aksi brutal penembakan di Nduga, Papua, akhirnya Selasa (11/12/2018) bisa berkumpul dengan keluarga. Ia dijemput dari Timika, Papua oleh Komandan Brimob Subden 4 Detasemen A Pelopor Polda Jabar (Brimob Garut), AKP Saeful Bahri bersama staff IT dari Brimob Polda Jabar.

Saeful menyebut bahwa dirinya bersama staff IT dari Brimob Cikeruh mendapat tugas langsung dari Kapolda Jabar melalui Dansat Brimob Polda Jabar untuk menjemput Irawan dari Papua. Ia mulai bergerak melakukan perjalanan sejak Sabtu (8/12) pagi dan sampai di Bandara Timika pada Minggu (9/12) siang setelag sebelumnya sempat transit di Makassar.

“Jadi memang Irawan ini satu-satunya warga Jawa Barat yang menjadi korban selamat pada peristiwa di Nduga Papua sehingga Kapolda memerintahkan Dansat Brimob untuk menjemput. Karena mungkin Irawan ini warga Garut, maka Danki Brimob Garut yang mendapat perintah langsung untuk menjemput Irawan ditemani staff IT Brimob Cikeruh,” ujarnya, Selasa (11/12).

Ia mengatakan bahwa Irawan diketahui sudah berada di Timika selama 3 hari dan tinggal di salah satu Hotel di wilayah Timika dalam pengamanan dari TNI dan Polri. Ia bergabung bersama sejumlah warga yang juga selamat dari peristiwa berdarah dan menghilangkan belasan nyawa pekerja yang tengah melakukan pembangunan di Papua.

“Kita baru bergerak menuju Jakarta pada Senin (10/12) dan sampai di Bandara Soekarno Hatta pada malam harinya skeitar pukul 20.50 dan dijemput langsung Kapolres Garut juga dibawa langsung ke Bandung. Sesampainya di Bandung Irawan diepriksa kesehatan dan sempat melakukan konsul kepada psikiater, dan hasilnya memang Irawan mengalami trauma yang cukup berat akibat peristiwa tersebut,” katanya.

Selama proses penjemputan Irawan, diungkapkan Saeful, awalnya Irawan sempat enggan menceritakan apa yang dialaminya karena berusaha melupakan kejadian yang hampir membuatnya terbunuh itu. Namun setelah melakukan komunikasi Irawan pun kepadanya menceritakan seluruh kejadian yang ia alami di salah satu pos penjagaan di Nduga.

“Jadi memang Irawan ini stres berat karena terlalu banyak ditanya, apakah oleh wartawan, mungkin juga oleh petugas sehingga usahanya untuk melupakan kejadian karena sering ditanya ingat terus. Tapi akhirnya Irawan mau cerita setelah saya ajak ngobrol dengan bahasa Sunda, dan dia kemudian menceritakan semua pristiwa yang dialaminya,” ungkapnya.

Kepada Saeful, Irawan menceritakan bahwa pada 2 Desember ia tengah melakukan pemasangan instalasi menara seluler di salah satu distrik di Nduga. Saat tengah melakukan pekerjaan, ia didatangi anggota TNI yang tidak jauh dari tempatnya bekerja dan meminta untuk tinggal di pos penjagaan karena situasi cukup genting.

“Kepada Irawan anggota TNI meminta agar Irawan tinggal di pos setelah peristiwa penembakan pekerja PT Istaka Karya karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Lalu Irawan pun ke pos bersama beberapa pekerja lainnya dan sampai besok paginya tidak ada masalah, tetapi justru pada pagi hari ada serangan KKB ke pos TNI dan menyebabkan seorang anggota gugur dan baku tembak terjadi hingga malam harinya,” paparnya.

Irawan juga kepada Saeful menyebut bahwa dirinya sempat diberi senjata untuk jaga diri dari serangan KKB, namun ia tinggalkan karena berat dan tidak bisa menggunakannya. Setelah situasi dirasa aman, Irawan pun bersama anggota TNI dan warga lainnya bergerak menyusuri jalanan meninggalkan pos jaga karena khawatir situasi semakin tidak aman.

“Dalam perjalanan sendiri, rombongan anggota TNI yang bersama Irawan bertemu dengan tim patroli sehingga langsung bergerak menuju Wamena dan tinggal selama tiga hari disana. Setelah dari Wamena, Irawan bersama warga lainnya yang selamat dibawa ke Timika dan tiga hari juga tinggal disana hingga kemudian saya jemput,” jelasnya.

Saeful mengungkapkan bahwa dirinya juga sempat bertanya kepada Irawan apakah akan kembali bekerja di Papua atau tidak, dan ia langsung mengatakan kalau bisa tidak. Hingga saat ini, kepada Saeful, Irawan mengaku masih sangat trauma meski sudah beberapa kali melakukan pekerjaan di wilayah Indonesia Timur.

“Jadi memang Irawan ini kerjaannya mengaktifkan menara seluler di wilayah timur, sebelumnya sempat ke Sulawesi dan sudah bekerja sekitar satu tahun di perusahaannya. Tetapi kejadian terakhir dan melihat langsung ada yang meninggal dunia kena tembak, ia menjadi cukup trauma apalagi baku tembak di pos TNI berlangsung belasan jam,” ungkapnya.

Saat ini, disebutkan Saeful, Irawan telah berkumpul bersama keluarganya di Kecamatan Wanaraja setelah diantarkan langsung oleh Kapolres Garut beserta jajaran dan Komandan Brimob Subden 4 Detasemen A Pelopor Polda Jabar, AKP Saeful Bahri. “Meski sudah di rumah, Irawan memang masih terlihat trauma, dan dari Polda Jabar juga akan melakukan pendampingan berupa trauma healing,” katanya. (igo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here