Intoleransi Meningkat, PCNU Garut Sanksikan Rekrutmen PAH

799
Rois Syuriah PCNU Kabupaten Garut, Kh. Rd. Amin Muhyiddin Maulani didampingi Sekertaris PCNU Kabupaten Garut Deni Ranggajaya saat ditemui wartawan di Kantornya, selasa (17/12).

GARUT – Pimpinan Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut Jawa Barat mempertanyakan rekrutmen tenaga Penyuluh Agama (Islam) Honorer (PAH) yang dilaksanakan oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Garut yang seakan hanya formalitas belaka. Sekretaris PCNU Garut, Deni Ranggajaya, melihat, yang lolos testing sepertinya masih orang lama yang memiliki prioritas, padahal kinerjanya belum tentu bagus.

“Terkait seleksi Penyuluh Agama Islam Honorer atau PAH khusus di Garut, ternyata setelah seleksi administrasi, setelah tes tertulis, dan terakhir wawancara, ternyata setelah dibuka Senin kemarin oleh kantor Kemenag, ternyata yang diprioritaskan itu PAH yang lama yang jumlahnya 340 orang. Kalau jumlahnya sebanyak itu, berarti tidak ada penambahan yang baru. Maksud kami, kalau prioritasnya yang lama, tidak perlu ada seleksi (terbuka, red) kasihan pendaftar yang jauh terlalu banyak pengorbanan, waktu dan biaya,” katanya.

Lanjut Deni, kalau jika menambal sulam kekurangan personel yang lama, sebaiknya dilakukan tes penerimaan secara tertutup, sebab dengan cara terbuka yang melibatkan massa yang banyak , justru mengakibatkan banyak pihak yang dirugikan.

“Kalau kebijakannya seperti itu, lebih baik jangan ada seleksi terbuka,” tegasnya.

Ia juga mempertanyakan kinerja PAH terdahulu yang dinilainya jelek. Jika melihat data, kasus intoleransi di Garut mengalami kenaikan dari 30 persen menjadi 50 persen.

” Kami menilai intoleransi di Garut itu meningkat dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan hasil seminar masalah khilafah kemarin, intoleransi di Garut ini meningkat dari 30 persen menjadi 50 persen. Padahal salah satu tugas PAH adalah bisa menjaga NKRI, bisa menjaga tumbuhnya intoleransi. Kami melihat pada saat Pilpres kemarin justru orang-orang PAH yang .emprovokasi.menyerang pemerintah,” katanya.

Sementara itu, Rois Syuriah PCNU Garut, KH. Rd. Amin Muhyiddin Maulani, melihat, seleksi yang dilaksanakan terkesan kurang perhitungan dalam aspek kemaslahatan umat.

“Kita di Garut tahu, dua tahun belakangan sudah 50 persen pemahaman intoleran di Garut. PAH seharusnya berperan membandung itu tapi ternyata belum begitu nampak, malah nambah dari 30 ke 50 persen (Intoleransi, red). Adanya momentum seleksi ini, seharusnya seleksi itu dilakukan sebaik mungkin, tidak ada peraturan bahwa yang sebelumnya masuk dalam PAH bisa otomatis lolos pada seleksi kali ini, karena jika melihat hasilnya sekarang kaitan intoleransi justru meningkat. Jadi orang-orang di dalamnya harus yang tidak cukup mengerti agama, tapi juga paham dan mengerti tentang ideologi kebangsaan. Kami (PCNU Garut, red) menyodorkan untuk nilai agama dan kebangsaan harus ada prioritas, sejauh ini terlihat komitmen NU dalam kebangsaan, keumatan memiliki peran strategis. Keberpihakan terhadap NU bukan berarti keberpihakan terhadap ormas, tapi terhadap umat yang memiliki nilai-nilai kebangsaan,” katanya. (erf)