Ibu Mucikari, Jadikan Anaknya PSK

582
Pelaku prostitusi online diamankan Polres Garut saat operasi penyakit masyarakat di kawasan Cipanas. (IQBAL GOJALI/RADAR GARUT)

Polres Garut Ungkap Prostitusi Online

RadarPriangan.com, GARUT – Satuan Reserse dan Kriminal Polres Garut, melalui UPPA (Unit Perlindungan Perempuan dan Anak) dan Resmob (Reserse Mobile) membongkar jaringan prostitusi online di Kabupaten Garut. Sedikitnya 3 orang mucikari dan 7 PSK diamankan dalam kegiatan operasi pekat di bulan Ramadan.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna menyebut bahwa awal terbongkarnya jaringan prostitusi online tersebut saat dilakukan penyelidikan setelah pihaknya menerima info dari masyarakat. Usai menerima info tersebut, pihaknya langsung menerjunkan tim dan langsung melakukan penggerebekan di salah satu penginapan di kawasan objek wisata Cipanas, Kecamatan Tarogong Kaler.

“Penggerebekan dilakukan Jumat (24/5) malam. Di sana kita mengamankan sejumlah PSK dan mucikari yang diduga terlibat dalam jaringan prostitusi online ini,” kata Kapolres, Minggu (26/5).

Di lokasi penggerebekan, polisi mengamankan sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan kegiatan prostitusi online. Di antaranya adalah buku tabungan, pakaian dalam, dan alat kontrasepsi yang belum dan sudah dipakai di kamar hotel.

Kapolres menjelaskan, kegiatan prostitusi online ini diketahui dijalankan melalui salah satu aplikasi perpesanan online.

“Dari informasi yang kita terima, omzet kegiatan prostitusi online ini mencapai jutaan rupiah. Kita terus melakukan pendalaman,” ungkapnya.

Ia menyebut bahwa para mucikari, PSK, termasuk pengguna jasanya sudah berada di Mapolres Garut. Pihaknya terus memeriksa untuk melakukan pengembangan kasus tersebut.

Setelah pihak kepolisian melakukan penyelidikan mendalam kepada 3 orang mucikari dan 7 PSK yang diamankan pada Jumat (24/5) malam, 3 mucikari ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya diketahui menjual anak perempuan kepada sejumlah lelaki hidung belang melalui aplikasi pesan.

Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna menyebut bahwa dua orang mucikari yang menjadi tersangka berisinial TA, 44, dan SA, 18. TA sendiri rupanya juga ikut menjual anaknya dengan dasar permasalahan ekonomi yang dihadapinya.

“Berdasarkan pengakuan yang bersangkutan (TA), ya memang benar (menjual anaknya kepada lelaki hidung belang). Pengakuannya karena butuh sesuatu. Jadi kegiatan prostitusi online ini sendiri memang tujuannya untuk mencari keuntungan,” kata Kapolres.

Kapolres mengungkapkan bahwa tersangka TA diketahui warga Bandung dan memiliki dua anak yang berusia 17 dan 19 tahun. Saat diamankan, TA diketahui bersama salah seorang anak perempuannya dan sudah tinggal selama beberapa hari di salah satu penginapan yang ada di kawasan objek wisata Cipanas.

“Tinggalnya mereka di penginapan ini tujuannya untuk melayani para tamu. Jadi ada tersangka SA yang membawa calon konsumen. Kemudian dia bawa ke si TA. TA yang menyediakan PSK-nya, dia bawakan beberapa PSK untuk dipilih,” jelas Budi.

Sekali kencan, kata Budi, tarif yang ditawarkan berkisar dari Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Menurut Budi, ada dua korban yang masih di bawah umur.

“Jadinya ada tiga pasal yang dikenakan kepada tersangka. Pasal 296 junto pasal 506 untuk muncikarinya dan UU perlindungan anak karena ada dua orang yang dibawah umur. Serta UU ITE pasal 45 junto 28 dengan ancaman kurungan maksimal 15 tahun penjara,” katanya.

Salah seorang tersangka, SA mengaku terpaksa melakukan hal tersebut karena ingin menebus obat untuk anaknya yang masih bayi dan tengah sakit. Mamah muda asal Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut ini sendiri memang tertangkap tangan bersama TA dan yang lainnya di waktu yang sama.

SA sendiri rupanya saat diamankan pihak kepolisian diketahui membawa serta anak bayi laki-lakinya yang masih berusia 2 tahun.

“Setiap hari saya harus menebus obat anak yang menderita penyakit epilepsi seharga Rp200 ribu. Alasan itu lah yang membuat saya nekat begini,” kata SA. (igo)