Hari ini Gerindra Tentukan Sikap

172
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto

Sowan ke Istana, PSI Bantah Bahas Posisi Menteri

RadarPriangan.com, JAKARTA – Arah Partai Gerindra dalam menentukan sikap apakah berkoalisi maupun oposisi akan ditentukan hari ini (19/7). Langkah itu diambil setelah mendengar usulan dalam diskusi dengan dewan pembina, meski pun, Prabowo Subianto sebagai Ketua Umum memiliki hak prerogatif.

“Besok ya (Hari ini, red). Ya, kita menggelar rapat dewan pembina. Ini dimaksudkan untuk mendapatkan penjelasan dan keterangan,” terang Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani, di Kompleks Parlemen, Jakarta, kemarin (18/7).

Dikatakannya, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memiliki tradisi sebelum mengambil kebijakan yaitu berdiskusi dengan anggota Dewan Pembina, termasuk menentukan arah politik.

“Terkait hal yang krusial, Prabowo memiliki tradisi selalu mengundang dewan pembina untuk berkonsultasi dan mendengarkan pandangan pikiran berbagai macam yang berkembang. Namun pada akhirnya beliau sendiri yang harus ambil keputusan,” kata Muzani.

Menurut dia, Prabowo sebagai memiliki kewenangan secara penuh mengambil kebijakan partai ke dalam dan ke luar. Sebenarnya Prabowo tanpa perlu berkonsultasi atau rapat, sudah memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan partai.

Rapat Dewan Pembina yang berlangsung di Hambalang itu merupakan rapat rutin dan akan membahas berbagai hal. Pertama, Prabowo akan menyampaikan tentang hasil pemilu legislatif karena KPU sudah mengetuk jumlah kursi DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.

Kedua, menurut Muzani, Prabowo akan menyampaikan beberapa hal terkait perkembangan situasi politik terkini pasca-Pemilu Presiden dan pasca-Putusan MK terkait Perselisihan Hasil Pemilu Umum (PHPU).

Dia tidak bisa memperkirakan apakah Prabowo akan menyampaikan sikap pribadinya terkait sikap politik partai ke depan.

“Pokoknya Prabowo memiliki kewenangan apakah akan putusnya besok, lusa, bulan depan tapi semua pandangan yang berkembang dari masyarakat, para pendukung, partai koalisi yang telah mengusungnya, beliau mencermati dengan seksama,” katanya.

Menurut dia, perbedaan pandangan di internal Gerindra merupakan hal yang biasa namun perbedaan itu akan bersatu ketika Prabowo sudah mengambil keputusan dan melaksanakan sikap politik tersebut.

Di tempat terpisah, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dipimpin oleh Ketua Umum PSI Grace Natalie memperkenalkan kader-kadernya kepada Presiden Joko Widodo. Kepada wartawan ia pun menampik adanya pembahasan soal menteri.

“Kami update memperkenalkan teman-teman semua, dan ternyata beliau juga sudah sangat familiar dengan teman-teman yang banyak berperan kemarin jadi jubir TKN (Tim Kampanye Nasional), juga sebenarnya dari jaman Pilkada DKI Pak Jokowi juga sudah familiar dengan orang-orang ini,” kata Grace di lingkungan istana kepresidenan Jakarta, kemarin.

Ada sekitar 45 orang fungsionaris PSI yang bertemu dengan Presiden Joko Widodo, antara lain Ketua Umum PSI Grace Natalie, Sekretaris Jenderal Raja Juli Antoni, ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Isyana Bagoes Oka, Ketua DPP PSI Tsamara Amany, Wakil Sekretaris Jenderal Danik Eka Rahmaningtiyas serta sejumlah Juru Bicara PSI yaitu Rian Ernest, Dini Purwono, Giring Ganesha, Andy Budiman, Guntur Romli, Yurgen Alifia dan lainnya.

“Kami menyatakan bahwa banyak di antara kami di PSI ini yang masuk ke politik inspirasinya dari Pak Jokowi. Spirit kami itu inspirasinya Pak Jokowi, jadi apakah kita akan bisa tetap membantu beliau atau tidak, kami serahkan kepada beliau,” ungkap Grace.

Meski begitu, Grace mengaku dalam pertemuan itu Presiden Jokowi sempat berbicara langsung dengan sejumlah kader muda PSI.

“Tapi kami perkenalkan siapa saja kader-kader muda di PSI, kan ada 44 orang. Beliau mengajak ngobrol tadi, ada Giring, Guntur Romli, Tsamara, kalau nanti ada yang spek-nya dirasa cocok oleh kebutuhan Pak Jokowi, kan beliau sudah lihat langsung dan berbincang-bincang ya kita tunggu, Pak Jokowi yang paling mengerti apa yang menjadi kebutuhannya saat ini,” tambah Grace.

Menurut Grace, Presiden Jokowi masih membutuhkan lebih banyak menteri-menteri yang berani untuk mengeksekusi perintah-perintahnya.

“Bagaimana di periode kedua butuh lebih banyak boldness, keberanian, atau mengeksekusi hal-hal yang sebenarnya sudah diperintahkan, tapi tidak juga dieksekusi. Butuh berani untuk menjelaskan ke publik,” tutur Grace.

Sekadar diketahui, PSI pada Pemilu 2019 gagal melenggang ke DPR karena perolehan suaranya tak mampu menyentuh angka 4 persen yaitu hanya 1,89 persen atau 2.650.361 suara. (lut/ful/fin)