Gunung Sawal Diusulkan Jadi Hutan Konservasi

302

CIAMIS – Macan sering muncul ke permukiman dan meneror warga di Kabupten Ciamis. Karena itu, tiga kawasan diusulkan menjadi hutan konservasi. Terutama Gunung Sawal yang memiliki suaka margasatwa. Kawasan lainnya, yakni Gunung Madati dan Geger Benteng.

Saat ini hutan negara tersebut dikuasai oleh Perhutani sebagai hutan produksi. Adanya kawasan hutan konservasi ini diusulkan DPRD Kabupaten Ciamis.

“Kita sudah memutuskan dan masuk dalam rencana tata ruang wilayah, bahwa wilayah Gunung Sawal, Madati dan Geger Bentang, ditetapkan dan segera diusulkan jadi hutan konservasi dan atau hutan lindung atau taman hutan raya,” ujar Ketua DPRD Ciamis Nanang Permana,

Menurut Nanang, ketika hutan Gunung Sawal tetap jadi hutan produksi, banyak hewan di suaka margasatwa turun gunung ke permukiman, karena terganggunya ekosistem dan terputusnya rantai makanan. Terutama macan yang diketahui sering turun meneror warga di kaki Gunung Sawal.

Kasus terbaru, terjadi pada 28 September 2018 lalu, seekor macan tutul yang turun gunung kena perangkap yang dipasang warga Dusun Cikupa, Desa Cikupa, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Macan tutul itu sempat meneror warga setempat selama tiga bulan terakhir.

Hewan buas ini kerap memangsa ternak milik warga. Kasus macan teror warga ini menurut infomasi warga terjadi hampir setiap tahun, terutama saat musim kemarau. “Kan tidak ada buah pinus dimakan monyet. Juga tidak ada daun pinus dimakan kijang. Monyet tidak ada, kijang tidak ada, macan tidak ada makanannya, sehingga terputus rantai makanannya. Lalu hewan itu turun ke permukiman warga untuk mencari makan,” ucap Nanang.

Selain teror hewan buas turun ke permukiman, menurut Nanang, warga sekitar kawasan Gunung Sawal mengalami kekurangan air setiap musim kemarau panjang.

“Dulu kemarau enam bulan, Sungai Cileueur di bawah kaki Gunung Sawal tak pernah kering. Sekarang tidak ada hujan langsung kering. Karena sumber airnya rusak. Sekarang hanya di puncaknya saja sebagai Suaka margasatwa. Ini persiapan untuk generasi ke depan supaya tersedia sumber alam,” ujarnya.

Mewujudkan usulan itu, pihak DPRD mengaku sudah komunikasi dengan Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK). Hasil komunikasi itu, menurut Nanang, pihak KLHK siap memproses tiga kawasan itu jadi hutan konservasi.

“Menunggu usulan dari kita, kita sudah menetapkan dan kemudian kita memohon rekomendasi ke gubernur Jawa Barat untuk diajukan,” ucap Nanang.

Dia menitipkan catatan ke Gubernur Jabar Ridwan Kamil bahwa kawasan tersebut harus jadi hutan konservasi. Menurut Nanang, saat ini rencana tata ruang wilayah Jawa Barat belum ditetapkan. Sewaktu ditetapkan nanti ternyata kawasan tersebut tidak sesuai harapan, pihaknya akan melakukan perlawanan.

Menurut Nanang, manfaat hutan secara ekonomi tidak diukur oleh berapa uang yang masuk kas daerah atau masuk pengusaha. Tapi diukur seberapa mudah akses air bersih secara gratis, baik untuk persawahan atau rumah tangga. Serta seberapa mudah mendapat udara bersih.

“Sehingga nilai ekonomis suatu hutan, itu tidak angka-angka, tapi letak manfaatnya secara sebesar-besarnya gratis bagi masyarakat,” pungkasnya. (mg1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here