Gereja Bar

548

Oleh :
Dahlan Iskan

Ada yang
kenal dengan ibu di belakang saya itu? Yang pasti ia bukan Theresa May.

Namanya
Billy Ripley.

Umur 13
tahun. 

Hari itu ia
dapat hadiah ulang tahun yang menggetarkannya. Juga menggetarkannya seisi
stadion Anfield, Liverpool.

Saya
menyaksikan adegan itu. Sabtu lalu. Tempat duduk Billy di depan-kanan-bawah tempat
duduk saya.

Saya pun
terbengong. Sampai tidak mengabadikannya.

Begitu wasit
meniupkan peluit tanda pertandingan selesai, Sadio Mane mencopot kaus
Liverpoolnya yang nomor 10 itu.

Ia pun lari
ke arah tribun saya. Rupanya ia melihat sesapuan. Ada anak mengacungkan poster.
Bunyinya: hari ini saya berulang tahun, adakah pemain yang mau memberikan
hadiah untuk saya?

Kurang
lebihnya begitu.

Mane pun ke
arah anak itu. Memberikan kausnya. Lalu merangkul anak itu. 

“Ini
hadiah ulang tahun terindah bagi saya,” kata Billy ke media di Liverpool.
“Saya sampai bergetar dan bingung,” tambahnya. “Mane adalah
pujaan saya,” kata Billy lagi.

Hari itu
Billy nonton bersama bapaknya. Jatah Billy hanya tiga kali setahun nonton
langsung di stadion. 

Hari itu
Mane cetak gol dua kali. Moh Salah satu. Liverpool menang 3-1 lawan
Newcastle. 

Tapi
Liverpool kalah dari Chelsea. Soal lokasi stadionnya. 

Untung hari
itu saya tidak naik subway.  

Letak stadion
Chelsea benar-benar strategis: di mulut stasiun kereta bawah tanah. Mulutnya
buaya. (Adakah yang lebih panjang dari mulut buaya?).

Letak
stadion Liverpool FC begitu jauh dari stasiun. Mungkin 2000 buaya
disambung-sambung pun masih kurang panjang. Dari stasiun itu masih perlu jalan
kaki 40 menit.

Tapi banyak
juga yang pilih naik kereta bawah tanah. Saya membayangkan begitu pulalah
suporter Bonek. Yang banyak juga harus jalan kaki. Jauh sekali. Sejak dari
pertigaan Jalan Veteran di Kabupaten Gresik. Ke stadion Gelora Bung Tomo di
wilayah Surabaya Barat. Yang di tengah tambak garam itu.

Untung, saya
tadi naik bus. Turunnya tepat di mulut buaya –bahkan di gigi taringnya. 

Sepagi itu,
pukul 9.30, sudah banyak yang tiba di stadion Liverpool. Pertandingan baru
mulai jam 12.30.

Pedagang
kaki lima juga sudah menggelar dagangan mereka –jersey Liverpool yang tidak
asli. Mereka berdagang di seberang jalan depan stadion.

Di halaman
stadion saya bertanya ke lebih 20 orang yang sudah datang sepagi itu – -semua
mengaku baru sekali itu ke stadion Liverpool. Ada yang dari Hongkong. Dari
Jepang. Shanghai. Islandia. Rumania. Ghana. Mesir. Amerika. Mereka menggunakan
jersey lengkap: kaus, jaket, dan sal.

Selama masa
penantian 3 jam itu mereka foto-foto. Begitu banyak obyek yang bisa jadi latar
belakang foto. Apalagi ada kejutan. Ada yang begitu miripnya dengan Jürgen
Klopp –pelatih Liverpool. Atau mirip Mohamed Salah. 

Tampilannya
pun dimirip-miripkan Klopp atau Salah: rambutnya, kaca matanya, gayanya. Mereka
pun jadi obyek selfie.

Tapi saya
tadi belum sempat sarapan.

Banyak
sekali bar di sepanjang jalan depan stadion. Apalagi kalau mau belok kiri. Saya
menelusuri jalan itu. Melewati pedagang-pedagang kaki lima lainnya. 

Saya harus
cari sarapan yang cocok dengan selera.

Saya pun
tertarik pada bangunan yang di kiri jalan itu. Yang sangat mirip gereja itu.
Banyak orang masuk ke situ. Saya kira mereka lagi mau kebaktian pagi. 

Tapi ini kan
hari Sabtu. Di Inggris tidak banyak pengikut Advent –yang kebaktiannya di hari
Sabtu.

Dan lagi
semuanya mamakai jersey suporter bola. Mana ada kebaktian pakai jersey sepak
bola. 

Saya terus
melangkah ke sana. Tulisan di dinding depannya membuat saya terhenyak: Church
Bar. Bar Gereja. 

Saya pun
menapaki tangga naik ke terasnya. Lalu masuk. Penuh dengan orang minum bir.
Sepagi itu.

Ternyata,
ini bukan gereja. 

Saya pun
memesan sarapan. 

Roti keju,
kacang merah bersaus, sosis veggie, tomat goreng, dan kentang hash brown

Roti kejunya
luar biasa lezatnya: toast yang dibakar sambil ditumpahi keju. 

Sambil makan
saya amati ruang itu. Besar sekali. Saya amati bentuk dinding dan
lengkung-lengkung interiornya. Saya amati juga bangku-bangku panjang yang
jadi  tempat duduk ini.

Begitu mirip
dengan dalamnya sebuah gereja.

“Apakah
bangunan ini dulunya gereja?” tanya saya ke pelayan bar itu.

“Betul.
Dulu sekali,” jawabnya.

“Sejak
kapan berubah menjadi bar?” tanya saya lagi.

“I have
no idea. Sudah lama sekali”.

“Bar
ini sudah berapa tahun?”

“Baru akan
tiga tahun, Natal nanti”.

Yang masuk
ke Church Bar ini pun kian banyak. Rupanya tidak semua akan ke stadion. Banyak
juga yang hanya akan nonton bareng di situ. Ada layar lebar di posisi altar
itu.

Semua bar di
sepanjang jalan itu sama: menyelenggarakan nobar. Penuh semua.

Begitu
banyak saya sarapan. 

Terlalu
kenyang. Gara-gara toast bakar berkeju. Ukuran besar. Yang harus saya
habiskan. Terlalu enak. 

Saya pun
kembali ke stadion. Ada panggung musik yang sangat besar di halaman stadion. Di
pojok kiri dekat toko suvenir. Saya agak lama menonton di panggung itu.
Menunggu dalam hati –siapa tahu Saskia Gotik akan tampil di situ. Kalaupun
bukan Saskia,  –Gothiknya pun jadi.

Yang
ditunggu tidak muncul.

Saya ingin
pindah. Ingin masuk ke toko itu. Ups, yang antre mengular. Ratusan buaya pada
mengantri –ingin beli jersey. 

Saya pun
mengalihkan langkah. Lebih baik mengelilingi stadion ini. Ke belakangnya.

Belakang
stadion ini ternyata seperti depannya juga. Banyak penonton yang datang dari
arah belakang –mereka yang datang dengan mobil pribadi. Lapangan parkirnya di
belakang stadion itu –di hamparan lembah di bawah sana. Mobil mereka tidak
terlihat dari sini.

Di halaman
belakang ini ada bar terbuka. Kios-kios makanan pun berjajar: burger, sandwich,
kebab, ayam goreng…

Anak-anak
kecil berbaris antre di sebelah food court ini: antre melakukan
tendangan penalti. Di sebuah lapangan bola mini yang dipasangi gawang
–sekalian dengan kipernya, orang dewasa.

Mane, Salah,
Arnold, Firmino ikut antri di situ –terlihat dari kaus yang dipakai anak itu.

Sudah jam
11.30.

Satu jam
lagi pertandingan dimulai.

Saya pun
masuk pintu C –yang tiketnya seharga Rp 6 juta itu. Tiket saya diperiksa.
Ok. 

Saya diminta
naik lift ke lantai 2. 

Di lobi lantai
2 saya diarahkan ke belok kiri. Sesuai dengan kode di karcis. Di situ saya
dipasangi gelang hijau. Bertuliskan hari pertandingan dan tim yang bertanding.

“Meja
No 23,” tulis wanita muda di konter lobi itu.

Ternyata
saya ini belum masuk stadion. Harus masuk ruang makan dulu. 

Ruang makan
itu ditata persis seperti restoran. Tiap meja diisi 4 kursi. Saya di meja 23.
Bersama satu keluarga dari Liverpool: bapak-istri-anak yang masih kecil.

Makanannya
disajikan prasmanan. Ada steak, burger, sandwich, kentang, dan banyak lagi.
Minumannya lengkap: wine, bir, minuman ringan, teh, dan kopi.

Saya sudah
terlanjur kenyang dengan toast berkeju tadi.

Belakangan
saya menyesal kok tidak mencicipi sama sekali makanan itu. Kan harus tahu
kualitas rasanya. Tapi bayangan saya jelas: tidak mungkin ada yang bisa
mengalahkan toast berkeju di bar gereja itu.

“Saya
tidak makan. Bolehkah saya langsung ke dalam stadion?” tanya saya.

“Pintunya
baru dibuka setengah jam lagi,” jawab petugas resto.

Tapi saya
tetap tidak akan makan dan minum.

Akhirnya
saya boleh langsung ke stadion. Saya harus ke lantai 4. Tempat duduk saya di
level 2. Di barisan ke dua. Enak sekali. Menghadap ke tempat pemain keluar ke
lapangan. Saya bisa melihat kedua pelatih.

Sebelah
kanan saya orang Mesir. Pengacara. Tidak henti hentinya merekam video. Saya
bantu ia merekam video dirinya –sekedar alasan agar saya juga bisa dibantu
mereka video. 

Kanan saya
satu keluarga dari Liverpool. Rumahnya 25 km di selatan stadion. 

Tempat duduk
di stadion sepak bola Inggris beda: sangat dekat ke lapangan. Barisan penonton
paling depan paling hanya tiga meter dari lapangan. 

Stadion di
sana memang khusus hanya untuk sepak bola. Tidak harus ada trek yang melingkar
itu. Yang biasanya untuk lomba lari itu.

Selebihnya
Anda sudah tahu: kapasitas stadion ini 50 ribu tempat duduk. Dulunya mau pindah.
Dianggap kurang besar. Pemda Liverpool sudah setuju menyediakan lokasi.

Tapi
akhirnya pilih membangun tambahan saja. Biayanya cukup Rp 2 triliun. Daripada
membangun stadion baru yang  Rp 5 triliun. 

Liverpool di
mata saya adalah hasil sukses dari sebuah sakit hati. 

Jangan lupa:
banyak orang sukses dengan dorongan sakit hati seperti itu.

Misalnya
akibat konflik –dengan teman, keluarga, atau pun partner. Pun karena pernah
dihina. 

Sakit hati
itu dipakai sebagai dorongan untuk mengalahkan mantan rivalnya.

Pun di
Liverpool. Di Kecamatan Everton ini. Sebelum ada klub Liverpool di kecamatan
ini sudah ada klub Everton. Yang didirikan tahun 1888.

Klub Everton
menyewa lapangan ke John Houlding. Sewa menyewa itu berakhir dengan
sengketa. 

Everton
tidak mau lagi pakai lapangan John. Membangun stadion sendiri. 

John pun
sakit hati. Mendirikan Liverpool FC. Di tahun 1892. Juga membangun stadion
sendiri. Masih di Kecamatan Everton. Hanya berjarak sekitar 1 km dari stadion
Everton. 

Liverpool
lebih sukses. Tapi klub Everton masih tetap jaya.

Itulah
persaingan abadi. Pun setelah pemilik dua klub itu berganti.

Sakit hati
rupanya bisa diregenerasi. 

Kalau
Liverpool lagi bertanding lawan Everton masih terbawa –sakit hati yang sudah
berumur 127 tahun itu.(Dahlan
Iskan)