Fikom Uniga Munculkan Gagasan Kearifan Lokal dalam Pencegahan Covid-19

83

Prof Atie : Pandemi Covid-19 Berpotensi Bentuk Budaya Baru

RadarPriangan.com,GARUT – Sebagai upaya mitigasi penyebaran corona virus disease (Covid-19) atau virus korona, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Garut menggagas program cegah korona berbasis kearifan lokal.

Gagasan tersebut muncul dalam Webinar Komunikasi dengan Tema “Pencegahan Covid-19 Berbasis Kearifan Lokal Budaya Masyarakat Indonesia” pada Rabu (20/5/2020).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda kerja dari Fakultas dan Program Studi dalam rangka memberikan wawasan secara praktis dan teoritis terkait dengan Covid-19 berbasis kearifan Lokal.

Webinar ini dibuka secara langsung oleh Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Prof. Dr. Hj. Ummu Salamah, M.S, serta dipandu oleh Moderator Dr. Zikri Fachrul Nurhadi, M.Si sekaligus sebagai Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Garut.

Dalam sabutanya, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Prof. Dr. Hj. Ummu Salamah, M.S, mengungkapkan, saat ini virus korona (covid-19) yang telah ditetapkan sebagai pandemi global menuntut masyarakat untuk bekerjasama, saling bersinergi dengan pemerintah dalam mencegah dan juga menanggulangi virus tersebut.

Menurutnya, berbagai cara bisa diterapkan dalam menghadapi hal tersebut salah satunya dengan menangkal korona dengan cara kearifan lokal.

Dengan diselenggarakanya Webinar ini diharapkan hendaknya kita sebagai masyarakat yang mempunyai kebudayaan yang sangat beraneka ragam dapat menjalankan atau melakukan suatu tindakan dengan cara kearifan lokal, yang mampu menjalankan suatu kegiatan tanpa menyalahi aturan apapun.

“Penerapan kegiatan yang disesuaikan dengan kearifan lokal juga diharapkan dapat menjadi sesuatu yang memiliki nilai dari semua aspek baik dari segi ekonomi, sosial, agama dan lainnya,” katanya.

Webinar ini diikuti oleh para peserta dari beberapa Perguruan Tinggi Ilmu Komunikasi di Indonesia, meskipun para peserta dibatasi hanya sampai 100.

Beberapa narasumber menjadi pemberi materi pada acara dengan tema pencegahan Covid-19 berbasis kearifan lokal ini, diantaranya Prof. Dr. Hj. Atie Rachmiati, M.Si selaku Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (UNISBA) sekaligus sebagai Ketua Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indonesia Wilayah Jawa Barat, Dr. Puji Lestari, S.I.P, M.Si dari UPN Veteran Yogyakarta sekaligus sebagai Ketua Asosiasi Penerbit Jurnal Ilmu Komunikasi Indonesia (APJIKI) dan Drs. Bambang Subarnas, M.Sn sebagai Kurator Budaya di Jawa Barat.

Prof. Atie menjelaskan, Pandemi Covid-19 ini memiliki potensi untuk membentuk budaya dan gaya hidup baru, menimbulkan perilaku/habit baru, saling berpengaruh dengan sistem politik, ekonomi, sosbud, serta menimbulkan perubahan sosial, menimbulkan perubahan individu, perubahan pada nilai-nilai (Values) kehidupan.

Sementara itu, Dr. Puji menjelaskan bahwa Kearifan lokal dibangun melalui beberapa sosialisasi, yakni sosialisasi kearifan lokal seni, kearifan lokal makanan, kearifan lokal perilaku (gotong royong, gerakan jogo tonggo).

Sedangkan Drs. Bambang Subarna, M.Sn memandang bahwa Pandemi Covid-19 ini disikapi oleh masyarakat Indonesia khususnya Oleh Masyarakat Sunda: di dalam khasanah budaya sunda, penyakit / sasalad dipandang sebagai bagian dari siklus alam untuk menemukan keseimbangannya, dimana Manusia merupakan bagian dari siklus tersebut.

Ada 3 istilah yang dikemukakan Bambang mengenai Pandemi Covid-19 ini yaitu: SASALAD (Bahasa Sunda); Pageblug (Bahasa Jawa); Wabah (Bahasa Indonesia). Tentunya dalam penanganan Covid 19 ini perlu adanya pendekatan kultur berbasis RT dan RW jadi standardisasi utama dalam menangani korona sehingga rapid test dan swab test harus dilakukan secara massif. Alat tesnya harus ada di kecamatan sehingga setiap hari orang di kampung diperiksa, sedangkan orang dari luar dikunci dan jika ada diisolasi. (erf/rls)