Enam Perusuh Target Habisi Empat Pejabat Negara

269

RadarPriangan.com, JAKARTA – Polri membeberkan hasil investigasinya terhadap para tersangka kerusuhan pada 21-22 Mei 2019 lalu. Ternyata target dari enam anggota perusuh menghabisi empat pejabat negara.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol M Iqbal mengatakan hasil investigasi terhadap para tersangka kerusuhan, ada enam tersangka yang mengaku menerima perintah untuk melakukan pembunuhan terhadap empat pejabat negara.

Dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (27/5), Iqbal mengakui, jika pihaknya kembali menemukan bukti-bukti dan fakta hukum baru dari keterangan para tersangka kerusuhan. Bukti baru berupa adanya pihak ketiga yang menunggangi aksi massa guna menciptakan martir.

“Iya, hasil investigasi ada enam orang yang mengakui mendapat perintah menciptakan martir saat itu. Selain itu, mereka juga mendapat perintah untuk membunuh empat pejabat negara,” kata Iqbal, Senin (27/5).

Terkait pejabat negara yang dimaksud salahnya satunya adalah presiden, Iqbal mengatakan,” “Pejabat negara, tapi bukan presiden. Tapi bukan kapasitas saya menjelaskan hal ini. Sudah dilakukan survei oleh semua pelaku, difoto sudah, digambar istilahnya. Ketika itu terjadi, itulah ‘setting’-nya bahwa negara akan goyang. Kami diberi jalan untuk melakukan upaya pengungkapan ini.”

Untuk mengetahui detail lebih lanjut, kata dia, kepolisian sedang melakukan pendalaman dan penyidikan.

“Sedang proses pendalaman, penyidikan, saat semakin mengerucut akan disampaikan ke publik,” jelasnya.

Adapun keenam tersangka tersebut adalah HK, AZ, IR, TJ, AD, dan AF alias VV. Mereka ditangkap di beberapa lokasi berbeda saat kerusuhan 21-22 Mei.

Di antara enam tersangka itu, diakui Iqbal, fakta hukum ditemukan dari keterangan tersangka HK. Dia menyebut, pada Oktober 2018, yang bersangkutan pernah mendapat perintah mencari dua pucuk senjata laras panjang dan pendek di kawasan Kalibata.

“Tentu seseorang ini tidak dapat kami sampaikan, yang jelas kami sudah mengetahui identitasnya dan saat ini sedang didalami,” ungkap Iqbal.

“Tak hanya itu, pada 5 Maret 2019 lalu juga, HK juga mengakui berhasil mendapat senjata api dari tersangka AF alias VV seharga 50 juta,” sambungnya.

Berdasarkan pengakuan HK, dia diperintah untuk menghabisi dua pejabat negara pada 2 April. Tapi lagi-lagi, Iqbal tak mengungkapkan siapa saja pejabat yang dimaksud.

Masih di bulan April 2019, Iqbal menuturkan, jika selain ada perencanaan pembunuhan terhadap pejabat, tersangka juga mendapat perintah untuk membunuh pemimpin lembaga survei bersama dengan tersangka IR.

“Saat itu Pengakuannya, mereka sudah beberapa kali mensurvei rumah tokoh tersebut untuk jalani perintahnya guna mengeksekusi. Bahkan tersangka IR sudah mendapat bayaran Rp5 juta,” terang Iqbal.

Satu tersangka lain berinisial TJ juga mengakui pernah mendapat bayaran Rp25 juta dari seseorang yang kini identitasnya sedang didalami. Dia diperintah untuk membunuh dua pejabat negara.

“Dua tokoh itu tidak disebutkan, tapi kami sudah paham tokoh nasional. Dengan demikian, totalnya ada empat tokoh yang mereka sasar untuk dibunuh,” tutur Iqbal.

Terpisah, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menduga enam tersangka penyelundupan senjata api ilegal yang telah ditangkap merupakan kelompok yang menewaskan tujuh korban di kerusuhan 21-22 Mei lalu.

“Iya, patut diduga kelompok-kelompok mereka yang bermain. Cuma dari kelompok teroris tetap kita masih pantau juga. Karena sudah ada 6 ya. Enam dari kelompok teroris dari hasil pemeriksaannya mereka mengaku juga akan melakukan amaliah dengan merebut senjata api, dan pernah diperintah membunuh empat tokoh nasional,” kata Dedi.

Dedi juga menyampaikan, keenam tersangka itu juga telah merencanakan melakukan serangan-serangan dengan menggunakan bom saat aksi massa 21-22 Mei lalu, dalam rangka membuat martil yang seolah-olah nantinya aparat yang akan disalahkan.

Terbukti, diakui Dedi, dari tangan mereka petugas menyita sejumlah barang bukti lima senjata. Selain itu juga, ada tiga pucuk senjata kita amankan dari kelompok lainnya yang saat ini sudah diamankan .

“Total 8 senjata ini menjadi bukti dugaan, mereka yang bermain. Dan dari hasil keterangan mereka, masih ada satu DPO juga sedang kita kejar,” tegasnya. (mhf/gw/fin)