Di Masa Pandemi Covid-19, Mahasiswa Butuh Perhatian, Berikut Curhatan Kader GMNI Garut

284
Sehabudin (istimewa)

RadarPriangan.com, GARUT – Pada masa pandemi covid-19, hampir semua lini terdampak. Tak terkecuali sektor pendidikan juga yang paling besar mengalami dampak dari wabah korona (covid-19) ini.

” Lantas bagaimanakah arah pendidikan di tengah pandemi covid-19 ini?” ujar Moh Sehabudin kader GMNI Kabupaten Garut, Kamis (14/5/2020).


Menurut Sehabudin, pendidikan seharusnya mengalami kemajuan di setiap tahunnnya. Tapi sayangnya kata dia, pendidikan di Indonesia saat ini masih belum ada kemajuaan dan juga tidak dilandasi dengan sistem pendidikan yang gratis, ilmiah dan demokratis sebagaimana semestinya. “Ditambah lagi di tengah pandemi covid-19,” imbuhnya.

Pada masa pandemi covid-19 ini kata Sehabudin, banyak sekali yang dirugikan “ Sekitar ratusan ribu mahasiswa dan puluhan juta pelajar sekolah dasar dan menengah pun ‘dipaksa’ untuk melakukan pembelajaran dari rumah,” katanya.

” Disrupsi teknologi terjadi di dunia Pendidikan, pembelajaran tatap muka yang dilaksanakan 100 persen di sekolah, secara tiba-tiba mengalami perubahan yang sangat drastis,” tambahnya.

Tak bisa dipungkiri kata Dia, di atas 50 persen pelajar dan mahasiswa berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Yang sangat jauh dari kata efisien karena para pengajar tidak langsung bertatap muka melainkan harus melakukan pembelajaran via online yang sangat kurang jelas.

“Ditambah lagi minimnya fasilitas untuk mendapatkan pembelajaran tersebut membuat para pelajar kebingungan. Belum lagi di tengah covid -19 biaya spp/ukt yang sama sekali tidak dikurangi. Padahal penghasilan di tengah covid-19 ini sangat jauh harapan bahkan banyak perusahaan mengharuskan merumahkan pekerja,” katanya.

Pemerintah kata Sehabudin, harusnya memberikan keringanan atau discount untuk pelajar khususnya mahasiswa dalam pembayaran spp/ukt. Pemerintah pusat khususnya juga daerah harus mengambil langkah yang tepat dan terukur.

“Di tengah pandemi ini, sektor pendidikan juga wajib diperhatikan oleh pemerintah dan kita semua, karena bagaimanapun pendidikan itu bersifat penting karena bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta sarana untuk mencapai konsep memanusiakan manusia. Memanusiakan Pola pikirnya, Pola Pandangnya, Gaya Berbicaranya, Wataknya, Sifatnya, bukan hanya sekedar memperlakukannya”.

” Artiannya mendidik karakter itu tidak kalah penting dengan kegiatan belajar mengajar. Dengan waktu berbulan-bulan baik tingkat Perguruan Tinggi maupun tingkat Sekolah yang menerapkan belajar online dari rumah, apakah itu relevan dan efektif untuk sebuah pendidikan? bisa jadi malah mengurangi semangat belajar Mahasiswa maupun Siswa (Peserta Didik), karena tidak sesuai dengan Standar Operasional prosedur (SOP), apalagi tidak ditunjang dengan Fasilitas dan indikator belajar yang memadai,” katanya.

Di sini Pemerintah wajib bertanggungjawab, karena fenomena wabah covid19 ini sudah menjadi Bencana Nasional bahkan internasional, maka menurut UU No. 24 Tahun 2007 yang mengatakan bahwa ketika semua wilayah yang potensial terdampak bencana nasional berarti pemerintah wajib memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Salah satunya Sektor Pendidikan. “Karena ini berdampak kepada Ekonomi yang kemudian Orangtua/Wali murid harus tetap memenuhi kebutuhan administrasi pembiayaan seperti UKT atau SPP yang kiranya akan memberatkan Orangtua, sehingga dikhawatirkan pasca fenomena wabah covid ini tidak menutup kemungkinan Mahasiswa / Siswa akan melakukan cuti Studi karena tidak mampu untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) Perguruan Tinggi maupun SPP Sekolah,” katanya.(fer/rls)