Desa Cikedokan Garut Kembangkan Ternak Ayam Pelung, Satu Ekor Bisa Dihargai Puluhan Juta Rupiah

928
Kepala Desa Cikedokan, Kecamatan Bayongbong bersama pengurus HIPPAPN foto bersama di tempat latihan dan silaturahmi

RadarPriangan.com, GARUT – Pemerintah Desa Cikedokan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut bersama warga saat ini tengah mengembangkan ternak ayam pelung. Ternak ayam pelung ini dinilai bukan hanya sebagai hobi semata, namun dirasakan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Karena sebagaimana diketahui, nilai jual ayam pelung rupanya sangat jauh dibandingkan dengan ayam biasa. Nilai jualnya bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Kebetulan di Desa Cikedokan menjadi pusat dari Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Nusantara (HIPPAPN). Karena itu pula, pengembangan ayam pelung di Desa Cikedokan sangat memungkinkan.

Melihat potensi yang cukup besar itu, Pemerintah Desa Cikedokan siap memberikan support melalui anggaran dana desa untuk pembinaan kelompok peternak.

Kepala Desa Cikedokan, Kamaludin Apendi menjelaskan, sebetulnya di tahun 2020 sudah dianggarkan dalam APBDes untuk pembinaan kelompok ternak. Namun karena pandemi Covid-19 melanda tanah air, sehingga anggaran tersebut ditangguhkan dan dialihkan kepada penanganan Covid-19.

“Pada akhirnya alokasi yang sudah dicantumkan di APBDes kami tangguhkan pada tahun 2021,” ujarnya saat ditemui di tempat latihan ayam pelung Desa Cikedokan bersama HIPPAPN, Rabu (1/7/2020).

“Adapun dengan potensi ini dikarenakan budidaya ayam pelung kami yakin akan mendongkrak dan meningkatkan perekonmian masyarakat. Dikarenakan ayam pelung ada nilai jual, lain dibanding ayam kampung, ayam petelur dan ayam pedaging. Bahkan kami evaluasi ayam pelung kalau betul-betul diolah itu usia sehari netas bisa mencapai Rp 100 bahkan Rp 250 ribu per ekor,” tambah Kamaludin Apendi.

Hal itu dibuktikan langsung oleh Kamaludin Apendi yang kebetulan juga peternak ayam pelung dan pernah mendapatkan juara dalam kontes ayam pelung tingkat nasional. Dari dua indukan juara ayam pelung miliknya, dia bisa menjual anakan usia satu hari setelah netas dengan harga Rp 250 ribu per ekor.

” Kebetulan kami punya ayam juara banyak yang ngeboking ketika punya telur. Usia sehari netas itu dibeli Rp 250 ribu per ekor. Taruhlah kalau rata-rata punya 10 butir telur, berarti penghasilan mencapai Rp 2,5 juta. Kalau dari usia netas itu kan 21 hari berarti dalam satu bulan pendapatan per kapita dari satu indukan ayam sudah menghasilkan setara dengan siltap (gaji) kepala desa,” ujar Kamaludin sembari tersenyum.

Bahkan indukan ayam pelung miliknya yang pernah menjuarai kontes besar tingkat nasional pernah ditaksir hingga Rp 50 juta per ekor.

Harga yang cukup fantastis ini menurutnya bukan main-main. Karena jika berbicara hobi memang tak terpikirkan oleh sebagian orang awam bahkan terkesan tidak percaya. Namun dalam dunia hobi, nilai uang yang besar itu sangat sebanding dengan tingkat kepuasan.

” Karena ini sangkut paut dengan hobi rata-rata orang awam tidak percaya. Apa sih nilai ratusan juta atau puluhan juta untuk satu ekor burung, nah dalam ayam pun sama kalau sudah senang. Bahkan ayam kami ada yg taksir sampai 50 juta bahkan lebih,” ujarnya.

Karena itu pula, Kamaludin sangat mengharapkan ada support dari Pemerintah Daerah maupun Pusat agar potensi ayam pelung ini dikembangkan.

“Kami harapkan ini satu permohonan kepada pemerintah dalam hal ini dari Kabupaten melalui dinas terkait sampai ke pusat, supaya perhatian lagi kepada peternak, khususnya di komunitas ayam pelung. Sejauh ini belum ada perlakuan khusus atau perhatian khusus terhadap kami. Yang kami rasakan kami berjalan sendiri,” ujarnya.

Sementara itu Ketua DPD Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Nusantara (HIPPAPN) Kabupaten Garut, Uyung (44) menjelaskan, saat ini di Kabupaten Garut terdapat 14 DPC HIPPAPN.

Dalam kegiatannya, HIPPAPN selalu aktif memfasilitasi anggota untuk ikut dalam berbagai kontes lokal maupun tingkat nasional. Namun sayang karena di tahun ini ada pandemi Covid-19 maka kontes besar tingkat nasional belum digelar lagi.

Kabupaten Garut sendiri menurut Uyung, memiliki potensi besar dalam ayam pelung. Dalam setiap even/ kontes ayam pelung tingkat nasional, Kabupaten Garut selalu masuk juara umum.

” Alhamdulillah Garut selalu juara umum untuk skala nasional. Dari kontes itu dari tahun 2002 selalu juara umum sampai tahun 2019. Adapun tahun 2020 belum ada kontes besar karena ada pandemi,” katanya.

Dalam kontes sendiri kata Uyung, pada dasarnya ada 3 kategori penilaian ayam pelung, diantaranya dari suara, kemudian penampilan dan juga bobot. Namun yang paling utama tentu saja adalah penilaian suara.

Karena itu pula, Uyung bersama anggota HIPPAPN senantiasa melaksanakan latihan dan kumpul-kumpul. Silaturahmi itu mereka namai dengan Konggur (Ngawangkong bari tafakur) dengan tujuan untuk mematangkan mental ayam pelung maupun saling bertukar pengetahuan sesama anggota.

“Yang pertama mematangkan mental ayam kedua berbagi pengetahuan dari para anggota kita. Supaya kita tahu bagaimana ayam yang layak kontes dan layak nominasi juara itu,” ujarnya.

Sementara menurut Humas HIPPAPN, Tijey (53), di Kabupaten Garut sendiri yang menjadi sentra dan unggulan ayam pelung adalah Kecamatan Bayongbong. Ada beberapa hal yang mendorong kenapa Bayongbong selama ini menjadi unggulan, diantaranya karena faktor nasab (keturunan/bibit) ayam unggul.

“Nasab di Bayongbong itu nasabnya kental sekali. Bayongbong kan merupakan ikon. Bahkan Bayongbong ada pasar ayam pelung tiap Jumat di stasiun Bayongong Simpang, di sana juga banyak ayam berkualitas,” ujarnya.(RP)