Dana Riset Butuh Rp120 Triliun Lagi

206
Menristekdikti Mohamad Nasir (jpc)

Baru Rp30 Triliun, Idealnya Rp 150 Triliun

RadarPriangan.com, JAKARTA – Dana riset dan pengembangan di Indonesia saat ini masih sekitar 0,3 persen dari GDP (gross domestic product). Angka tersebut menurut Kepala Lembaga Bantuan Teknologi Prasetyo Sunaryo masih sangat kecil. Baginya angka ideal dana riset dan pengembangan di Indonesia bisa mencapai Rp150 triliun.

Prasetyo menuturkan dana riset saat ini yang masih 0,3 persen dari GDP itu setara dengan sekitar Rp30 triliun. Perlu ada ambang batas anggaran riset dan pengembangan minimal 1,5 persen dari GDP, katanya dalam diskusi Iptek di Jakarta, kemarin (20/6).

Menurut Prasetyo dana riset yang mencapai 1,5 persen dari GDP itu setara dengan Rp150 triliun. Dengan demikian dana riset di Indonesia masih membutuhkan suntikan yang cukup besar. Yakni mencpai Rp120 triliun. Menurut dia alokasi anggaran riset yang besar itu tidak hanya dari APBN, tetapi juga dari swasta atau industri.

“Kami berharap dana riset ini menjadi prioritas pada pemerintahan mendatang,” katanya.

Dia mengatakan, siapapun Presiden yang nanti dilantik, diharapkan bisa meningkatkan dana riset dan pengembangan secara nasional. Sebab menurut dia penguasaan iptek merupakan salah satu faktor peningkatan kinerja suatu bangsa.

Prasetyo berharap secara bertahap dana riset dan pengembangan di Indonesia bisa ditingkatkan. Sehingga tidak kalah dengan negara-negara tetangga. Dia mencontohkan dana riset di Malaysia sebesar 1,3 persen dari GDP mereka. Kemudian di Singapura sudah mencapai 2,6 persen GDP. Lalu di Korea Selatan dan Jepang masing-masing 4,6 persen dan 3,5 persen dari GDP.

Selain itu, Prasetyo menuturkan dana riset sampai saat ini masih tersebar di banyak instansi. Mulai dari di Kemenristekdikti, Kemendikbud, dan kementerian serta lembaga lainnya.

Tahun depan dana fungsi riset dan teknologi di Kemenristekdikti sekitar Rp715 miliar. Sementara jika digabung dengan dana fungsi pendidikan tinggi, total pagu indikatif Kemenristekdikti mencapai Rp40,21 triliun.

Menristekdikti Mohamad Nasir menuturkan tahun depan ada sejumlah program prioritas di bidang iptek. Di antaranya adalah pembangunan taman sains dan teknologi, pengembangan pusat unggulan iptek, beasiswa SDM iptek, teknologi untuk masyarakat, dan pengembangan teknologi industri. Kemudian pengembangan startup berbasis teknologi dan pengembangan inovasi industri.

Lembaga penelitian lainnya mendapatkan pagu indikatif yang beragam. Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mendapatkan Rp710 miliar, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebesar Rp1,8 triliun, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Rp616 miliar, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Rp1,6 triliun. (wan/ful)