BPBD Sebut Beberapa Wilayah di Garut Sudah Kekeringan

229
Ilustrasi (Dok. RADAR PRIANGAN)

RadarPriangan.com, GARUT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut menilai sebagian wilayah Garut sudah mulai memasuki musim kemarau. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut Dadi Djakaria mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih terus melakukan pengecekan ke lapangan.

“Kita masih terus mengecek di lapangan, saat ini di Kecamatan Pamengpeuk. Kita cek ke kecematan dan desa,” kata dia saat dihubungi wartawan, Senin (24/6).

Menurut dia, berdasarkan laporan Dinas Pertanian Kabupaten Garut, beberapa lahan sawah sudah mulai kekurangan air. Namun, BPBD masih melakukan pengecekan untuk menentukan titik yang akan didistribusikan pasokan air.

Dadi menambahkan, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk mendistribusikan air ketika kekeringan sudah melanda. Namun, BPBD masih menunggi hasil informasi cek lapangan.

“Kita tak menghitung jumlah armada yang disiapkan. Intinya kita siap bergerak,” kata dia.

Menurut dia, pada tahun sebelumnya, wilayah yang biasa mengalami kekeringan antara lain Kecamatan Cibatu, Cibiuk, dan Leuwigoong. Tiga kecamatan itu dinilai sebagai wilayah yang paling sering menjadi target BPBD Kabupaten Garut untuk mendistribusikan air bersih.

Ia memrediksi, tiga kecamatan itu pula yang akan terjadi bencana kekeringan pada tahun ini. “Kalau di Cibatu itu Desa Kertajaya, dan Kecamatan Cibiuk secara keseluruhan, juga Kecamatan Leuwigoong,” kata dia.

Bedasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri, puncak kekeringan di wilayah Jawa Barat akan terjadi pada Agustus. Namu, Dadi mengatakan bahwa saat ini banyak terjadi anomali cuaca.

“Artinya cuaca bisa berubah sewaktu-waktu. Namun kita berharap bencana kekeringan yang menimpa Garut tahun ini tidak terlalu parah,” ucapnya.

Dadi mengatakan, kekeringan memang sudah menjadi bencana tahunan yang menimpa Kabupaten Garut. Karena itu, lanjut dia, Bupati Garut juga sering ke lapangan untuk melakukan pengecekan dan mencari solusi.

Menurut dia, masyarakat harus lebih peduli untuk menjaga kelestarian alam, sehingga sumber mata air yang ada tidak hilang. “Sekarang juga banyak mata air ditemukan. Yang sudah ditemukan harus dijaga dengan menjaga alam,” kata dia.

Sebelumnya, Kodim 0611 Garut juga tengah melakukan pendataan wilayah yang rawan terjadi kekeringan di Kabupaten Garut. Komandan Kodim 0611 Garut, Letkol Infanteri Asyraf Aziz mengatakan, pada tahun sebelumnya terdapat daerah yang kekurangan air bersih dan sawah-sawah yang kering.

Karena itu, pendataan dilakukan sejak dini untuk antisipasi kekeringan lebih awal. “Saya sudah memerintahkan para Danramil untuk mulai melakukan pendataan di wilayahnya, baik sawah yang rawan kekeringan hingga perkampungan yang krisis air bersih saat kemarau. Nantinya kita akan koordinasikan dengan instansi terkait,” kata dia.

Menurut dia, sejumlah wilayah di Kabupaten Garut mengalami kekeringan yang berdampak cukup luas pada 2018. Ia menyebutkan, ribuan hektare pesawahan mengalami kekeringan sehingga memengaruhi pada produktifitas hasil pertanian.

Ia mengatakan, wilayah yang paling rawan terjadi kekeringan adalah Garut baguan utara seperti Cibatu, Leuwigoong, dan sekitarnya. Ketersediaan air bersih berkurang karena debit air yang berkurang lantaran daerah resapan air yang berubah fungsi.

Ia menegaskan, untuk mengatasi persoalan daerah resapan air, pihaknya sudah mengambil langkah melakukan penanaman pohon tegakan di daerah sumber mata air. Namun, untuk bisa menghasilkan kualitas air yang maksimal masih membutuhkan waktu dan perawatan.

“Kita berharap agar masyarakat senantiasa sadar untuk menjaga daerah resapan air jangan sampai gundul atau ditebangi pohonnya karena dampaknya akan kembali kepada semuanya,” kata dia. (igo)