Batu Akik Padam, Yudi Lasminingrat Tertantang Membangkitkan Kejayaannya

296
Yudi Nugraha Lasminingrat menunjukkan koleksi batu akik miliknya (dok Radar Garut)

RadarPriangan.com, GARUT – Batu akik Garut pernah mengalami masa kejayaan. Seantero negeri tiada hari tanpa memperbincangkannya, bahkan gema batu akik sampai ke mancanegara.

Namun kini batu akik mulai redup. Jarang yang memperbincangkannya apalagi berniat memburu batu akik.

Dilihat dari sisi harga pun, batu akik saat ini merosot tajam. Dari yang sebelumnya bisa mencapai puluhan juta rupiah per satu buah untuk batu akik Garut super, sekarang hanya dihargai jutaan rupiah saja.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Garut, Yudi Nugraha Lasminingrat, mengaku prihatin dengan kondisi batu akik sekarang ini.

Yudi sendiri memang sudah lama menaruh perhatian terhadap batu akik. Bahkan menjadi salah satu tokoh di Garut yang ikut mempopulerkan batu akik.

Karena itulah, Yudi berniat akan kembali membangkitkan batu akik. Apalagi saat ini Yudi sudah menjabat sebagai Ketua Kadin Garut, tentu menjadi satu tantangan bagi dia untuk menghidupkan usaha batu akik.

” Kadin Kabupaten Garut, berkewajiban untuk membangkitkan lagi soal perbatuan, karena pilihan pengrajin batu akik sebagian besar gulung tikar, ” ujarnya Senin, (17/2/2020).

Kabar gembiranya kata Yudi, sekitar 50 pengrajin batu akik yang merupakan binaan Kadin Garut di wilayah Garut selatan, saat ini mulai bangkit. Para penambang batu akik terus melakukan galian, penggosok maupun yang mengikat batu akik terus memproduksi.

” Jadi kami terus memproduksi batu akik jangan sampai hilang begitu saja, ” ungkap Yudi.

Lanjut Yudi, selain membuat cincin batu akik, para pengrajin mulai merambah ke pembuatan aksesoris lainnya, seperti liontin, anting-anting, bros, pin, jepitan rambut dan jenis kerajinan lainnya. Batu akik yang dipergunakan juga bermacam-macam sesuai tingkatan, baik batu kelas paling rendah hingga batu yang berkualitas tinggi.

” Jadi kalau cincin umumnya untuk para lelaki, tetapi untuk aksesoris lebih cenderung untuk perempuan, ” katanya.

Pengrajin batu akik di selatan itu juga dinaungi oleh koperasi. Selain dibantu permodalan, pengrajin juga mendapatkan pembinaan dan dibantu dalam pemasaran.

” Hasilnya lumayan, walaupun masih sangat terbatas namun perputaran uang dalam produksi batu akik terus berjalan, ” tutup Yudi. (fer)