Bandara Pindah ke Kertajati, Bandung Shock

244
Kondisi Bandara Husein Sastranegara yang kurang tertata karena kondisinya sulit untuk dikembangkan. (Jabar Ekspres)

RadarPriangan.com, BANDUNG – Mulai 1 Juli 2019 nanti, ada 12 rute penerbangan yang akan pindah dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Namun, perpindahan ini memiliki dampat tersendiri bagi Kota Bandung.

Pengamat Ekonomi Universitas Padjajaran (Unpad) Profesor Yayan Satyakti mengatakan, Kota Bandung akan terkena dampak secara langsung pada perpindahan bandara ini. Sebab, selama ini keberadaan Bandara Husein Sastranegara merupakan pintu gerbang Kota Bandung melalui jalur domestik maupu internasional.

Menurutnya, akibat perpindahan ini jumlah penumpang di Bandara Husein Sastranegara akan menurun secara drastis kemudian bagi kota Bandung akan rugi karena akan ada sejumlah pendapatan yang diperoleh menjadi berkurang.

’’Wilayah Bandung pasti akan Descruption atau akan terjadi kontraksi,” kata Yayan dalam sebuah diskusi Focus Group Discussion bertema “Bandara Kertajati: Era Baru Industri Aviasi di Tanah Pasundan” di Grand Ballroom Hotel Grand Mercure, Jalan Setiabudi, belum lama ini.

Dia menyebutkan, berdasarkan proyeksi pessenger Bandara Husein Sastranegara pada 2023 sebetulnya akan ada 2,3 juta penumpang. Namun, perpindahan ke BIJB Kertajati maka selama 2 tahun akan terjadi pergeseran Leisure Traveller.

’’Kota Bandung akan jadi yang menikmati negatif efek akibat adanya perubahan perpindahan bandara ini,’’ kata Yayan.

Kendati begitu, lanjut dia kondisi ini sudah menjadi ketetapan. Sehingga, mau tidak mau harus dipaksakan. Terlebih BIJB Kertajati adalah pusat pengembangan yang telah diinvestasikan untuk masa datang dan memiliki kepentingan seluruh masyarakat Jawa Barat.

Selain itu, berdasarkan kajian Pendapatan Domestik Bruto (PDRB) Kota Bandung akan mengalami penurunan. Namun tidak signifikan hanya sebesar 0,31%.

Kota Bandung selama dua tahun ke depan akan mengalami Shock akantetapi selama 2 tahun kota Bandung akan bisa menyesuaikan kembali dan bisa recovery.

’’jadi jangan ragu kalau mau dipindahkan jangan besok atau lusa regulasi sekarang tapi harus cepat. Karena kalau ada regulasi pasti akan ada pro dan kontra tapi lama kelamaan pasti akan menerima lagi,’’kata dia.

Yayan menambahkan, pengembangan kawasan sehitiga rebana juga akan menggerus terhadap produktivitas ketahanan pangan jika tidak ada perencanaan matang. Sebab, berdasarkan pemetaan pengembangan industri segitiga rebana akan memakan 52 juta hektar lahan. Sehingga akan ada puluhan juta ton padi hilang.

’’Ini harus dipikirkan bagaimana mengatasinya. Kita harus memberikan kompensasi akibat dampak dari pembangunan industri. Sehingga kebutuhan pangan di wilayah segitiga Rebana tidak hilang.

Dia menuturkan, segitiga Rebana sudah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang memiliki potensi ekonomi besar melalui pengembangan Aerocity dan Aerotropolis dan pengembangan industri kedirgantaraan.

Untuk itu, agar pengembangan KEK ini terwujud Pemdaprov Jabar harus melakukan gerak cepat dan melakukan koordinasi dengan seluruh steakholder agar mendapat kepastian datangnya para Investor.

’’Ini juga harus dilihat secara objektif karena konsep aerocity dan aerotropolis masih dan baru disediakan lahannya dan kuncinya harus terus bergerak,”kata dia.

Lihat Juga: Kepuasan Masyarakat Jadi Modal Jokowi
Sementara itu, berdasarkan informasi akan ada perpindahan 56 penerbangan yang meliputi 13 rute domestik ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB).

Sementara itu, Director of Engineering & Operation AP II, Djoko Murjatmodjo menambahkan, Pemerintah Daerah dan masyarakat Jawa Barat tidak akan bisa menikmati manfaat yang lebih besar dari sektor pariwisata, jika masih tetap mengandalkan Bandara Husein Sastranegara sebagai pintu masuk wisatawan ke daerahnya.

“Bandara Husein bertahun-tahun tidak berkembang. Untuk menambah landasan jadi 2.200 meter saja kita harus menebang gunung, sementara disana ada lapangan tembak TNI,” kata Djoko.

Dia menegaskan, sesuai instruksi dari Kementerian Perhubungan, AP II tidak akan mengalihkan seluruh penerbangan komersial dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati. Namun hanya akan memindahkan penerbangan domestik bermesin jet saja.

“Mengapa internasional masih di Bandara Husein, karena mempertimbangkan kelangsungan bisnis pariwisata di Bandung. Hal-hal ini tentu kami perhatikan,” katanya.

Sedangkan, Direktur Bandar Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), M. Pramintohadi Sukarno menjelaskan, dalam menyetujui pembangunan suatu bandara pemerintah tidak hanya membuat perencanaan untuk waktu 2-3 tahun saja.

“Tetapi kami membuat perencanaan pengembangan untuk 20-30 tahun. Kalau kita ingat, dulu Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng juga hasil pemindahan Bandara Kemayoran di Jakarta Pusat. Hasilnya ada pembangunan yang terjadi di daerah,” tegasnya.

Lihat Juga: Langkah Gugat Oded Sudah Benar
Dalam catatan Kemenhub, pertumbuhan lalu lintas udara di Jawa Barat sudah tidak terakomodasi oleh Bandara Husein Sastranegara.

“Sepanjang 2016-2018, jumlah penumpang tumbuh 6% menjadi 3,86 juta pax. Kargo tumbuh 40% jadi 19,21 juta kilogram, dan lalu lintas pesawat tumbuh 11% jadi 31.865 pergerakan pesawat. Jadi mau tidak mau harus pindah karena Bandara Husein sudah maksimal dikembangkan,” jelas Pramintohadi

Sementara itu ditempat sama Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Agus Taufik Mulyono meminta seluruh masyarakat untuk tidak mencibir kebijakan pembangunan Bandara Kertajati.

“Jangan hanya mencaci-maki, tetapi seharusnya cari solusi. Jangan hanya melihat kepentingan Bandung saja karena saya yakin dengan pemindahan penerbangan itu pariwisata Bandung tidak akan mati karena sudah dikenal sebagai kota Pendidikan dan wisata kulinernya,” kata Agus.

Terkait kendala yang dihadapi penumpang pesawat yang harus melalui perjalanan darat cukup jauh menuju Bandara Kertajati, Agus yang juga Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta harus diselesaikan.

“Solusinya, diperlukan angkutan shuttle bus yang andal dengan penambahan simpul pemberangkatan ke Bandara Kertajati dari Bandung maupun kota-kota lain di sekitarnya. Dan tidak kalah penting lagi, angkutan itu harus bersubsidi agar masyarakat bisa tertarik menggunakannya,” ujarnya.

Jalan keluar berikutnya, Pemerintah harus mempercepat pembangunan tol Cisumdawu. Karena dengan beroperasinya tol tersebut, waktu tempuh penumpang dari kota-kota di sekitar Bandara Kertajati menjadi lebih cepat. (yan)