Ayah yang Salah Bacok Anaknya Terancam 20 Tahun

280
Proses pemakaman Nijar. korban salah bacok ayahnya, di Desa Sukakarya, Banyuresmi, Rabu (31/8). (istimewa)

RadarPriangan.com, GARUT – Kepolisian Resor Garut menetapkan ER, 48, sebagai tersangka setelah membacok secara membabibuta pada Selasa (30/7) di Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut dan menyebabkan anaknya meninggal dunia dan tiga warga lainnya luka. Ia terancam hukuman 5 hingga 20 tahun.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Garut, AKP Maradona Armin Mappaseng menyebut bahwa pihaknya menjerat ER dengan pasal berlapis. “Sudah Jadi tersangka dengan alat bukti yang sudah kita dapatkan. Kita kenakan ER ini pasal 351 ayat2 dan 3, 76C juncto 80. Ancamannya 5 sampai 20 tahun. Sudah jadi,” kata Maradona, Kamis (1/8).

Maradona menyebut bahwa pihaknya sudah melakukan pemeriksaan kepada ER di Mapolres Garut setelah mendapat limpahan kasus dari Polsek Banyuresmi. Di hadapan penyidik Polres Garut sendiri, ER sendiri mengaku seluruh perbuatannya yang menyebabkan anaknya sendiri meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka.

Saat beraksi menggunakan senjata tajamnya, lanjut Maradona, ER mengaku gelap mata sehingga melukai banyak warga termasuk anaknya. Hal tersebut diakui ER karena kesal usai mendengar cerita dari anaknya tentang Andi, 20, yang sudah bersenggolan kendaraan dengan anaknya, Nijar, 18, di Desa Sukakarya, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut.

“Jadi tersangka ini mengakukalau sebelum melakukan aksinya menerima informasi kalau anaknya ribut dengan Andi usau senggolan kendaraan. Mendengar hal tersebut ia kemudian mendatanginya sambil membawa senjata tajam menggunakan kendaraan bermotor roda dua. Di sana tersangka menyabetkan senjata tajam secara membabibuta. Disaat bersamaan anaknya datang dan mencoba melerai karena khawatir mungkin. Pengakuannya begitu,” jelasnya.

Saat anaknya berupaya melerai, lanjut Maradona, ternyata senjata tajam yang digunakan ikut mengenai Nijar sehingga menyebabkan kepalanya dan mukanya luka parah. Berdasarkan hasil visum luar pun dipastikan bahwa kematian Nijar akibat luka dari sabetan senjata tajam yang dibawa ER hingga menyebabkan kehabisan darah.

“Kita tidak lakukan autopsi karena keluarga menolak. Tapi dokter sendiri berdasarkan hasil visum luar bisa memastikan bahwa penyebab kematian Nijar ini karena kehabisan darah akibat dalamnya luka sabetan senjata tajam ER,” ungkapnya.

Saat ini sendiri, kata Maradona, ER sudah berada di dalam tahanan Mapolres Garut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pihaknya pun sudah mengamankan sejumlah barang bukti, mulai senjata tajam hingga kendaraan bermotor yang digunakannya. (igo)