Anti Arab atau Anti Islam? Waspadai Sikap Membenci Bangsa Arab

184
ilustrasi: pixabay

Manuver untuk Membenci Rasulullah

RadarPriangan.com – Akhir-akhir ini kita sering melihat narasi-narasi yang menghina bangsa Arab. Belum diketahui secara pasti apakah kebencian itu memang murni ditujukan kepada bangsa Arab atau jangan-jangan adalah sebuah manuver untuk membenci Islam itu sendiri.

Sering kita temui istilah yang terkesan menghina bangsa Arab misalnya adalah istilah kadrun (kadal gurun) juga narasi lainnya yang terang-terangan ditujukan memang untuk memojokkan bangsa Arab. Namun sangat disayangkan, ungkapan ini tak jarang justru dilontarkan oleh orang Islam itu sendiri.

Lantas apakah boleh kita sebagai seorang muslim menghina bangsa Arab?. Seberapa bahaya dalam pandangan Islam jika seorang muslim menghina bangsa Arab?.

Jika kita merujuk terhadap hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebetulnya fenomena seperti ini sudah pernah diingatkan oleh Rasulullah 14 abad silam.

Suatu ketika Rasulullah pernah berkata kepada Salman al-Farisi (salah seorang sahabat Nabi yang bukan berasal dari keturunan Arab), “Wahai Salman jangan engkau membenciku, maka jika engkau membenciku niscaya engkau telah memisahkan agamamu.” Salman berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana aku membencimu padahal dengan perantaramulah kami diberi hidayah oleh Allah? Beliau menjawab, “Ketika engkau membenci Arab, berarti engkau membenciku.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Ahmad dan para ulama muhadits lainnya.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Iqtidha as-Shirath al-Mustaqim (155) ketika menjelaskan hadits ini, “Nabi menjadikan benci terhada Arab sebagai sebab terpisahnya agama dari seseorang dan menjadikan kebencian terhadap orang Arab sebagai tanda kebencian terhadap diri beliau.

Abu ‘Ala al-Mubarakfuri mengomentari hadits ini dalam kitab beliau Tuhfatu Ahwazi (10/296), “Membenci Arab bisa berujung benci terhadap saidul kholqi (Rasulullah).”

Apa yang dikatakan oleh Syaikh Islam dan Abu ‘Ala adalah realita hari ini, banyak orang yang membenci Arab sehingga kebencian mereka berefek terhadap kebencian terhadap Rasulullah. Mereka menolak jenggot dengan alasan, ‘Itu kan budaya Arab.’ Mereka juga menolak hijab dan lain sebagainya yang pada akhirnya dinisbatkan terhadap budaya Arab.

Pada dasarnya doktrin anti Arab merupakan usaha para musuh Allah untuk memadamkan cahaya-Nya, karena sumber agama Islam adalah dari Bangsa Arab. Kewajiban kita adalah memperkuat imunitas pada keluarga kita dan kaum muslimin dari kelompok anti Arab atau Syu’ubiyah, serta kelompok-kelompok sesat lainnya dengan menjelaskan penyimpangan mereka dan membantah argumen-argumen mereka.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ Fatawa (28/231), “Hadirnya kelompok-kelompok pengusung bid’ah, yang tulisan dan ibadah mereka menyelisihi Al-Qur’an dan as-Sunnah, maka menjelaskan keadaan mereka dan memperingatkan umat dari mereka hukumnya wajib menurut kesepakatan kaum muslimin”.

Bahkan Imam Ahmad pernah ditanya, manakah yang lebih utama antara seseorang yang berpuasa, salat (sunnah) dan beriktikaf atau seseorang yang berbicara (memperingatkan manusia) tentang ahlu bid’ah? Beliau pun menjawab, “Jika ia melaksankan salat, puasa dan iktikaf maka itu hanya buat dirinya sendiri adapun jika berbicara (mengkritisi) tentang ahlu bid’ah maka manfaatnya bagi seluruh kaum muslimin, inilah yang lebih utama.”

Dengan demikian kita perlu mewaspadai maraknya fenomena anti Arab. Karena bisa jadi sikap seperti itu adalah sebuah manuver untuk menjauhkan umat Islam dari Arab sekaligus dari Islam itu sendiri.

Karena itu sebagai muslim kita wajib mencintai Arab, namun juga jangan dipahami setiap yang datang dari Arab harus ditelan bulat-bulat. Selain itu, sebagai bangsa Indonesia, kita juga wajib mencintai tanah air dan budaya bangsa Indonesia yang memiliki nilai-nilai luhur dan tidak bertentangan dengan syariat Islam.

(RP/kiblat.net)