Akibat Sepi, Emak-emak di Pantai Rancabuaya Garut Mengamuk

150
Tangkapan video saat emak-emak mengamuk membuka blokade (istimewa)

RadarPriangan.com, GARUT – Warga pelaku usaha objek wisata di pantai Rancabuaya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, mengamuk dan membuka blokade yang dipasang di pintu masuk pantai.

Warga yang terdiri dari emak-emak itu diduga merasa kesal karena kawasan tersebut menjadi sepi selama ditutupnya objek wisata oleh Pemkab Garut di masa pandemi korona.

Aksi emak-emak itu menjadi viral karena rekaman video amatir beredar luas di media sosial. Dalam video yang beredar itu, para emak-emak nekat memindahkan water barrier yang menutup akses menuju pantai Rancabuaya.

Setelah terbuka, merekapun mempersilahkan sebuah kendaraan bak yang mengangkut penumpang untuk masuk ke kasawan pantai, bahkan meminta mobil lainnya untuk masuk.

Dalam video, sang perekam pun terdengar tertawa sembari berucap “Hahahaha masuk masuk,”. Sejumlah petugas yang terlihat dalam video tampak tidak berbuat banyak. Mereka hanya bisa menyaksikan aksi emak-emak itu.

Salah seorang warga, Asep Hidayat (42), menyebut bahwa aksi emak-emak membuka blokiran terjadi pada Selasa (26/5/2020) sore.

“Mereka yang membuka ini adalah pedagang musiman di Pantai Rancabuaya. Aksi itu dilakukan karena mereka kesal sebab karena penutupan mereka tidak bisa mendapatkan penghasilan. Kan jadinya tidak ada wisatawan,” ujarnya, Rabu (27/5/2020).

Menurutnya, aksi pembukaan blokiran tersebut terjadi karena adanya kesalahpahaman dengan penyekatan yang dilakukan petugas. Sepengetahuannya, penyekatan dilakukan petugas untuk mencegah masuknya wisatawan dari luar Garut masuk ke area pantai.

“Yang dilarang itu memang wisatawan yang datang dari luar Garut, seperti Bandung atau Jakarta. Kalau wisatawan lokal mah boleh, asal tidak sambil berkumpul. Harus menjaga jarak. Memang sekarang kan banyak yang datang ke Pantai Rancabuaya karena Santolo, Sayang Heulang, bahkan Jayanti di Cianjur ditutup,” sebutnya.

Sementara itu, Kasubag Humas Polres Garut, Ipda Muslih mengungkapkan bahwa dari informasi yang diterimanya dari Kapolsek Caringin, awalnya emak-emak tersebut menyebut bahwa penutupan portal menyebabkan penghasilan mereka berkurang. Padahal menurutnya, sepinya pengunjung di sana karena pandemi Covid-19.

Petugas yang ada di lokasi, kata Muslih, tak bisa memenuhi permintaan emak-emak untuk membuka blokiran. Akhirnya mereka pun membuka portal sendiri. “Petugas yang berjaga hanya diam karena tak mau terjadi keributan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa emak-emak itu mengeluh jika penghasilannya dengan tahun lalu sangat jauh berbeda ditambah suami mereka yang berprofesi sebagai nelayan tak bisa melaut karena gelombang tinggi.

“Protes saja karena omzetnya menurun drastis. Setelah diberi penjelasan sama petugas, mereka mengerti. Malah disorakin sama ibu-ibu yang lain. Keterangan Kapolsek Caringin, kejadian kemarin jam 2 siang. Bukan pengunjung tapi ibu-ibu yang dagang,” ujarnya.

‘Mereka minta dibuka total dan memaksa seperti itu. Sebenarnya kalau wisatawan lokal masih boleh. Kecuali yang dari Bandung atau Cianjur dibalik-balikan. Petugas selektif tak menerima pengunjung dari luar,” tambahnya.

Terpisah, Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, juga membenarkan kejadian tersebut. Pihaknya sendiri mengaku sudah meminta tim satgas kecamatan untuk melakukan edukasi ke warga.

“Satgas kecamatan sudah melakukan edukasi ke warga dan wisatawan juga diberi pemahaman agar tak masuk dulu,” singkatnya. (igo)