Ada Paguyuban Mirip Sunda Empire di Garut, Begini Kata Bakesbangpol

180
Wahyudijaya, Kepala Bakesbangpol Garut

RadarPriangan.com, GARUT – Sebuah paguyuban di Kabupaten Garut tengah menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.

Paguyuban yang dikabarkan memiliki anggota ribuan orang itu diduga memiliki kemiripan dengan Sunda Empire.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Garut, Wahyudijaya membenarkan perihal paguyuban tersebut. Paguyuban itu, disebutnya memiliki nama lengkap Paguyuban Tunggal Rahayu.

“Beberapa waktu lalu memang sempat datang ke kita mengajukan izin terkait legalitasnya,” ujar Wahyudijaya, Senin (7/9/2020).

Saat perwakilan paguyuban mengajukan izin, Wahyu mengaku bahwa pihaknya melihat sejumlah kejanggalan. Karena melihat hal tersebut, pihaknya pun kemudian melakukan penelusuran dan pemantauan terkait aktivitas paguyuban tersebut.

“Diantara kejanggalan yang kami lihat, paguyuban ini berani menggunakan burung Garuda yang diubah. Kepalanya jadi menghadap ke depan, dan tulisan Bhineka Tunggal Ika diganti dengan kalimat lain,” ucapnya.

Wahyu mengaku sempat menanyakan langsung kepada perwakilan paguban yang datang itu. Namun sayangnya, perwakilan paguyuban itu tidak bisa menjelaskan. Pihaknya pun sempat menanyakan kelengkapan administrasi lainnya, namun tidak ada jawaban yang pasti.

Wahyu mengaku sudah berkoordinasi dengan Camat Caringin untuk mengetahui lebih jauh terkait paguyuban Tunggal Rahayu itu.

“Dari informasi sementara, mereka ini baru sebatas melakukan pengajian seminggu sekali. Namun memang jumlah pengikutnya dikabarkan sudah ribuan. Mereka bukan hanya dari Kecamatan Caringin saja, ada juga dari kecamatan lainnya, termasuk dari luar Garut,” ungkapnya.

Wahyudijaya mengatakan, atas kehadiran paguyuban ini kabarnya sempat terjadi penolakan dari warga setempat. Wahyu pun menilai keberadaan paguyuban ini rawan terjadi konflik.

Dalam aktivitasnya sendiri, pimpinan paguyuban Tunggal Rahayu ini selalu menjanjikan materi dalam bentuk uang kepada para pengikutnya. Bahkan, kepada pengikutnya yang memiliki utang, paguyuban berjanji akan melunasi utang-utangnya.

Bahkan, uang yang dijanjikan itu akan diberikan kepada pengikutnya dari Bank Swiss.

“Sepintas, paguyuban ini mirip dengan organisasi Amalillah yang beberapa tahun lalu juga sempat menghebohkan Garut. Hanya saja, kami belum bisa memastikan apakah anggota paguyuban diwajibkan membayar iuran sebagaimana yang terjadi pada anggota Amalillah atau tidak,”jelasnya.

Wahyu juga memastikan, pengikut paguyuban ini bukan hanya dari Garut saja, namun ada juga dari luar. Hal tersebut diketahui setelah beberapa hari kemarin ia kedatangan tamu dari Bakesbangpol Majalengka yang mempertanyakan keberadaan Paguyuban Tunggal Rahayu.

Pihak Bakesbagpol Majalengka, kepadanya menyebut bahwa di sana terdapat pengikut paguyuban yang jumlahnya ribuan.

“Mereka juga menyebut bahwa pusat kepengurusan paguyuban ini ada di Garut sehingga mereka pun datang langsung ke Garut,” sebutnya.

Di Majalengka, pusat kegiatan Paguyuban Tunggal Rahayu rupanya di kampung halamannya Bupati Majalengka. Keberadaan paguyuban tersebut pun rupanya juga menimbulkan keresahan kepada warga lainnya.

“Dengan adanya hal ini, kami mengimbau kepada warga untuk tidak mudah tergiur dengan janji-janji yang diberikan pihak-pihak tertentu, termasuk janji pemberian materi dalam bentuk uang atau pelunasan utang dengan dana berasal dari Bank Swiss. Selain itu, warga juga diharapkan tidak mudah masuk organisasi atau paguyuban yang belum jelas mempunyai perizinan. Dan untuk paguyuban ini, saat ini masih kita telusuri lebih jauh,” tutupnya. (igo/RP)