Ada Anak Mengaku Nonton Adegan Mesum Bayar Pake 2 Sachet Kopi

455
KPAID menanyai salah satu anak yang menonton adegan mesum. (IST)

RadarPriangan.com, TASIKMALAYA – Kantor KPAID Tasikmalaya, Rabu (19/6) didatangi salah satu anak yang diduga ikut menonton adegan ranjang pasutri di Kecamatan Kadipaten, Kota Tasikmalaya. Kedatangan anak yang didampingi orang tua dan sejumlah tokoh tersebut untuk meminta pendampingan proses hukum dan meminta bantuan karena kondisi psikis anak yang terganggu.

“Kita kedatangan salah satu dari korban yang melihat adegan itu yang didampingi oleh guru ngajinya juga orang tua asuhnya dan juga tokoh agama silaturahim ke kantor KPAID. Inti dari silaturahim itu mengajukan 2 hal, yang pertama memohon KPAI berkenan mendampingi proses hukum dari awal sampai akhir. Dari proses penyidikan sampai putusan pengadilan,” ujar Ketua KPAID Tasikmalaya, Ato Rinanto, Rabu (19/6).

Selain itu, kata Ato, korban dan yang mendampinginya pun mwminta bantuan kepada pihaknya karena kondisi psikisnya terganggu akibat peristiwa tersebut dan berharap bisa memulihkan kondisinya. “Karena itu merupakan tuposki dari kami dari KPAID, sebetulnya tanpa dimintapun kami akan melakukan itu,” ucapnya.

Saat datang ke kantor KPAID Tasikmalaya, ia mengaku sempat menanyai anak tersebut dan mengakui beberapa hal yang serupa. Sang anak sendiri, mengaku melihat adegan intim pasutri bersama beberapa anak dan diminya bayaran.

“Kebetulan yang tadi nonton kesini itu dia bayarnya pakai kopi. Kopi 2 sachet,” ungkapnya.

Ato menyebut bahwa baru satu anak saja yang datang langsung ke pihaknya didampingi keluarga. Hal itu sendiri dilakukan pihak keluarga karena terjadi efek langsung kepada anak.

“Kalau efek langsung itu adalah 6 anak itu yang menyaksikan. Efek yang kedua kami sedang diskusi panjang lebar dengan yang terkait di Tasikmalaya karena ibu dari terduga pelaku ini juga kan punya anak 4 yang notabene semuanya masih anak anak. Yang 2 anaknya balita sehingga kami juga perlu penanganan khusus,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahsa satu dari enam anak yang menonton adegan ranjang adalah anak tiri dari suami terdahulunya. Saat ini sendiri, seluruh anak dari pasutri tersebut tinggal di rumah kakek dan neneknya.

“Nanti mungkin dalam waktu dekat ini kami akan masuk kembali ke keluarga untuk bisa mengadvokasi baik korban langsung maupun korban tidak langsung. Sebetulnya dampak itu ada, setelah anak anak itu menyaksikan adegan itu maka 4 dari 6 anak itu meniru perbuatan yang sama dilakukan pada anak usia 3 tahun,” ubgkapnya.

Ato menyebut bahwa pihaknya belum bisa melakukan pendalaman secara utuh dari para anak yang menonton adegan ranjang L dan K. “Kita juga mempertimbangkan aspek psikologis anak,” ucapnya. (igo)