3 Seismograf Gunung Papandayan Dicuri, Aktivitas Terpaksa Dipantau dengan Kasat Mata

444
Kawasan TWA Gunung Papandayan masih ditemukan jejak macan kumpang. (dok. RADAR GARUT)

RADARPRIANGAN.COM, GARUT – Petugas pos pantau Gunung Papandayan, saat ini tidak bisa melakukan pemantauan aktivitas salah satu gunung berapi di Garut secara maksimal. Hal tersebut dikarenakan tiga unit seismograf dan sejumlah perangkat lainnya yang berfungsi mencatat dan mengukur aktivitas kegempaan di sana hilang dicuri.

“Semuanya ada empat unit dan yang dicuri tiga. Jadi sekarang untuk pemantauan kita mengandalkan satu unit seismograf yang tersisa dan pemantauan langsung secara kasat masa saja,” kata Momon, petugas pos pantau Gunung Papandayan, Senin (18/3).

Momon menyebut bahwa hilangnya seismograf tersebut sebetulnya terjadi sejak 2016, tepatnya saat Gunung Papandayan dikelola oleh pihak swasta, PT AIL (Alam Indah Lestari). Yang terakhir, perangkat tersebut hilang di awal 2019.

Ia mengaku heran dengan hilangnya alat tersebut karena berdasarkan pengakuan PT AIL mereka melakukan pengawasan selama 24 jam penuh oleh puluhan petugas keamanan.

“Seharusnya kalau diawasi 24 jam penuh ketahuan. Dulu pas masih dikelola BKSDA tidak pernah ada alat kita yang hilang,” katanya.

Kerugian akibat hilangnya alat deteksi sendiri, diungkapkan Momon mencapai ratusan juta rupiah. Hal ini dikarenakan yang diambil belasan solar cell, accu, power, sensor lapangan, hingga transmiter.

“Jadi ada tiga stasiun yang hilang yang berada di Walirang, Nangklak, dan Tegal Panjang. Sekarang tinggal satu stasiun aja, jadi kurang maksimal pemantauannya,” ungkapnya.

Momon mengaku bahwa pihaknya sudah melaporkan hilangnya alat tersebut kepada pihak kepolisian. Namun hingga saat ini belum terungkap siapa yang mencuri alat-alat tersebut.

Gunung Papandayan sendiri merupakan salah satu gunung berapi di Kabupaten Garut. Terakhir, Gunung Papandayan meletus di tahun 2002, dimulai pada tanggal 11 November terjadi peningkatan aktivitas vulkanis.

Erupsi yang besar terjadi di 13-20 November dan aktivitas menurun hingga 21 Desember.

Akibat dari erupsi ini terjadi longsoran pada dinding kawah Nangklak dan banjir disepanjang aliran sungai Cibeureum gede hingga ke sungai Cimanuk sejauh 7 km, merendam beberapa unit rumah dan menyebabkan erosi besar sepanjang alirannya. (igo)