Tujuh Tahun Penjara Menanti Jokdri

122
Mantan pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum PSSI Joko Driyono mengikuti sidang perdana kasus dugaan penghilangan barang bukti kasus mafia bola pengaturan skor di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (6/5/2019). Sidang tersebut beragendakan pembacaan dakwaan. (Iwan Tri Wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK)

RadarPriangan.com, JAKARTA – Bulan Ramadan hari pertama juga menjadi momen sidang perdana kasus-kasus yang selama ini ditangani Satgas Antimafia Bola. Kemarin (6/5) ada tiga persidangan berlangsung di dua lokasi berbeda. Satu persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel) serta dua lainnya di PN Banjarnegara.

Di PN Jaksel, persidangan berjalan untuk kasus perusakan barang bukti dengan terdakwa mantan Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono. Pria yang disapa Jokdri itu tiba pukul 13.45 WIB. Dia memakai baju batik cokelat dengan rompi oranye hitam bernomor 43.

Pria asal Ngawi itu masuk ke ruangan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Selama persidangan, dia lebih banyak diam dan mendengarkan dakwaan dengan seksama. Flash dari kamera yang berulangkali diarahkan ke wajahnya sama sekali tak mengubah sikapnya. Tetap tenang.

Dalam pembacaan dakwaan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sigit Hendrawan mendakwa Jokdri dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara. Sebab, dia dianggap melanggar 3 pasal KUHP sekaligus. Yakni, pasal 363, 265, dan 261.

“Walaupun itu barang sendiri, tapi dalam penguasaan Satgas Antimafia Bola. Sudah dipasang police line juga, yang artinya tidak boleh diambil. Ancaman 7 tahun penjara, tuntutannya belum dipastikan,” ujar Sigit.

Nah, dalam pembacaan dakwaan, ada beberapa fakta menarik yang selama ini sama sekali belum terungkap. Salah satunya bahwa informasi terkait pemasangan police line oleh satgas di Gedung Rasuna Office Park (ROP) DO-07 yang didapat oleh Jokdri berasal dari pesan singkat Whatsapp Direktur Utama Persija Jakarta Kokoh Afiat. Dalam pembacaan dakwaan itu disebutkan Kokoh memberitahu Jokdri kalau kantor itu didatangi polisi.

Setelah itu, Jokdri langsung bertindak. Dia menghubungi bawahannya, tepatnya sang supir pribadi, yakni Muhamad Mardani Mogot. Jokdri meminta Mardani untuk mengambil semua kertas-kertas kecuali buku bacaan dan majalah yang ada di laci meja kerja Jokdri. Ditambah notebook yang ada di lokasi tersebut juga.

Fakta baru yang kedua adalah setelah mengambil beberapa kertas, Mardani tidak langsung memusnahkannya. Tidak langsung membawanya pergi jauh. Dokumen-dokumen itu sempat ditaruh sementara di Pos Pemadam Kebakaran yang letaknya tepat di seberang ROP.

Setelah itu, Mardani mengajak Mus Mulyadi untuk masuk ke kantor yang sudah di-police line itu untuk menghilangkan rekamana CCTV. Caranya dengan hanya mencabut DVR yang ada di sana. Kemudian, DVR diganti dengan DVR rusak oleh Mardani dan Mus. Selanjutnya baru DVR yang ada rekaman aktivitas di ruangan itu dimasukkan ke mobil milik Jokdri beserta dokumen yang sebelumnya ada di Pos Pemadam Kebakaran tersebut.

Jokdri tidak membantah sedikitpun atas pembacaan dakwaan itu. Dia diam dan berjanji mengikuti proses persidangan hingga selesai. “Mohon doanya saya bisa menjalani dengan baik dan sehat dan inilah proses yang terjadi. Jadi, mari kita ikuti bersama proses ini sampai selesai. Terima kasih, katanya usai persidangan.

Rencananya, persidangan selanjutnya akan digelar pada Kamis (9/5). Agenda persidangan kedua itu adalah pembuktian dan mendengarkan penjelasan saksi plus mendatangkan barang bukti. (rid/ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here