Tambah Kekuatan, TNI Kirim 4 Pesawat F-16

61

JAKARTA – Tentara Nasional Indonesia (TNI) memperkuat armada keamanannya dalam menjaga wilayah Indonesia di perairan Natuna, Kepulauan Riau. setelah mengerahkan delapan Kapal Republik Indonesia (KRI), kini empat pesawat tempur F-16 diterbangkan atas instruksi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Komandan Lapangan Udara (Danlanud) Roesmin Nurjadin Marsekal Pertama Ronny Irianto Moningka mengatakan TNI Angkatan Udara menerbangkan empat pesawat F-16 ke Pulau Natuna. Pesawat tempur dari Skadron Udara 16 Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin itu diterbangkan untuk memperkuat patroli di wilayah terluar Indonesia itu.

“Empat pesawat F-16 berangkat sekarang,” katanya, Selasa (07/01/2020), seperti dikutif dari FIN (Grup Radar Garut).

Dijelaskannya, pengerahan empat F-16 berserta enam penerbang serta puluhan personel angkatan udara ke Natuna merupakan instrusksi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

Pesawat-pesawat tersebut akan berpatroli di wilayah kedaulatan NKRI dengan sandi Operasi Lintang Elang 20.

“Ini sebenarnya operasi rutin di wilayah barat yang kita geser ke Natuna,” ujarnya.

Ditegaskannya, selain empat F-16, Lanud Roesmin Nurjadin yang merupakan pangkalan militer terlengkap di Pulau Sumatera dan diperkuat dua Skadron tempur itu juga tengah siaga. Dia menuturkan siap untuk mengerahkan seluruh kekuatan jika ada perintah dari panglima TNI.

Namun, dikatakannya, pengiriman F-16 murni untuk menjaga wilayah kedaulatan Ibu Pertiwi. Tak ada niat untuk memprovokasi pihak manapun, terutama China yang kini sedang mengirimkan kapal-kapal Coast Guard dan nelayan ke perairan kaya akan ikan itu.


“Kita tidak buat provokasi pihak manapun, kita jaga wilayah kita,” ujarnya.

Terpisah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo (Bamsoet) meminta pemerintah memperkuat armada penjaga pantai atau “coast guard” di Natuna. Sebab China telah berulang kali melakukan pelanggaran.

“Saya mengingatkan pemerintah bahwa petualangan China di Laut Natuna Utara akan terus berlanjut atau berulang. Oleh karena itu, penguatan armada penjaga pantai Indonesia di perairan Natuna menjadi sangat relevan,” kata Bamsoet.

Menurutnya, provokasi China di Perairan Natuna pekan kedua Desember 2019 lalu merupakan pengulangan pada Maret 2016. Saat itu, kapal ikan China juga masuk dengan cara ilegal ke perairan Natuna dengan tujuan mencuri ikan dan upaya penangkapan kapal oleh TNI dihalang-halangi kapal Coast Guard China.

“Modus yang sama dipraktikkan lagi pada Desember 2019, puluhan kapal ikan China masuk perairan Natuna dikawal pasukan penjaga pantai China plus kapal perang fregat untuk kegiatan IUUF (Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing). Jadi, semacam rencana bersama mencuri ikan yang diketahui dan melibatkan organ resmi pemerintah China,” ujarnya.

Selain itu, menurut Bamsoet, China juga sudah angkat bicara menentang inisiatif Indonesia mengubah nama Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara pada Juli 2017.

Dia menjelaskan, inisiatif Indonesia itu dikecam Beijing, dan saat itu Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang menilai penggantian nama itu tidak masuk akal.

“Pengadilan Arbitrase Internasional tentang Laut China Selatan pada 2016 memutuskan bahwa klaim China tentang sembilan garis putus-putus di perairan Natuna sebagai batas teritorial laut China tidak mempunyai dasar historis,” katanya.

Bamsoet menduga China akan berusaha menguasai Natuna. Dan akan melakukan provokasi.

“Untuk mewujudkan ambisinya menguasai perairan Natuna, boleh dipastikan China akan melanjutkan petualangannya di Laut Natuna Utara. Mereka akan terus memprovokasi Indonesia, khususnya pasukan TNI yang bertugas di perairan itu,” katanya.

Oleh karena itu, menurut dia, penguatan armada penjaga pantai Indonesia di perairan Natuna menjadi sangat relevan.(gw/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here