Soal USBN Dinilai Mendiskreditkan Banser NU, Disdik Dikecam LP Ma’arif NU dan Banser

61
Ketua LP Ma'arif sekaligus Wakil Sekretaris 1 Bidang Organisasi Nahdlatul Ulama, Dr. H. Hilman Umar Basori, M.Pd melayangkan protes ke Dinas Pendidikan Garut terkait soal USBN yang mendiskreditkan Banser NU. (MUHAMAD ERFAN/RADAR GARUT)

RadarPriangan.com, GARUT – Munculnya soal ujian akhir sekolah berstandar nasional (USBN) SMP mata pelajaran Bahasa Indonesia yang dianggap mendiskreditkan ormas Banser NU berbuntut kecaman, termasuk dari Lembaga Pendidikan Ma’arif, GP Anshor dan Banser.

Soal yang membahas insiden pembakaran bendera bertulis kalimat Tauhid yang dilakukan oknum Banser saat Hari Santri Nasional di Limbangan Garut itu dinilai mendiskreditkan organisasi tersebut.

“Ada kesalahan yang sangat fatal yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan. Di mana, soal tersebut ini mengandung sifat-sifat yang provokatif yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah pendidikan yang seharusnya dilakukan,” kata Ketua LP Ma’arif sekaligus Wakil Sekretaris 1 Bidang Organisasi Nahdlatul Ulama, Dr. H. Hilman Umar Basori, M.Pd saat ditemui wartawan di SMK Ma’arif Garut, Rabu (10/4).

Pihaknya mengaku heran kenapa soal tersebut harus menyingung kelompok lain. Hal tersebut dinilainya bisa menjadi sara, provokatif bahkan mengakibatkan ketersinggungan yang bisa memecahkan belah anak bangsa.

Dalam waktu dekat, LP Ma’arif NU Garut berniat untuk mengkoreksi kenapa soal tersebut bisa muncul.

Soal nomor Bahasa Indonesia nomor 9 yang berada di halaman 3 itu membahas persoalan pembakaran bendera yang disebut polisi merupakan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dilakukan oknum Banser saat gelaran Hari Santri Nasional (HSN) di Garut.

“Tokoh ulama Garut Tatang Mustafa Kamal mengecam aksi pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dilakukan Bantuan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU). Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Melangbong Garut itu mendesak agar anggota Banser NU segera menyampaikan permintaan maaf karena anggotanya telah menghina kalimat tauhid dan umat Islam di seluruh dunia,” demikian isi teks dalam soal nomor 9 USBN Bahasa Indonesia SMP.

Dalam kolom jawaban dimuat dua teks dengan pilihan ganda A,B,C,D. Dalam pilihan A teks 1, ditulis “Kecaman dan desakan agar anggota Banser NU pembakar bendera minta maaf”. Sementara itu untuk teks 2 pilihan A ditulis “Permintaan agar Banser NU dibubarkan karena tidak berguna dan cenderung arogan”.

Soal Bahasa Indonesia yang dinilai mendiskreditkan Banser NU

Hilman mengungkapkan, pihaknya menyayangkan soal tersebut bisa keluar dan lolos dalam penyaringan Dinas Pendidikan. Ia pun secepatnya akan melayangkan audiensi dengan DPRD Kabupaten Garut untuk merunut masalah ini.

“Intinya tidak ada validasi terhadap soal dalam pengawasan pembuatan soal, soal tidak dikoreksi, tidak dilihat tapi asal dibuat, disebarkan. Ini tidak profesional jika dilihat berbagai kasus,” katanya.

Tidak hanya LP Ma’arif, pembuatan soal itu juga dikecam oleh GP Anshor dan Banser Garut. Sejumlah massa yang terganggu dalam organisasi tersebut akhirnya mendatangi kantor Disdik Garut untuk meminta klarifikasi terhadap Disdik Garut. (erf) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here