Sinyal PAN Ikuti Jejak Demokrat

66

Kontrak Politik PAN-Prabowo Segera Berakhir

RadarPriangan.com. JAKARTA – Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan semakin intensif menjalin komunikasi dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pendekatan pun terus dilakukan. Sinyal ini bukan berarti PAN tidak siap menjadi partai penyeimbang. Sebaliknya, partai berlambang matahari terbit itu, membuktikan dukungan terhadap konstitusi yang memenangkan presiden terpilih nantinya.

Dalam penjelasannya, Pria asal Lampung itu menegaskan PAN akan mendukung presiden terpilih. Menurut Zulhas, Indonesia telah melaksanakan pesta demokrasi lima tahunan. Pemilu yang digelar secara serentak antara pemilihan umum presiden (Pilpres) dan pemilihan umum legislatif (Pileg).

“Saat ini, kata dia, masyarakat masih menunggu penetapan dari KPU siapa yang akan keluar sebagai pemenang pilpres.Sesuai jadwal, pemenang pemilu akan ditetapkan pada 22 Mei. Maka kita dan rakyat menunggu saja,” terang Zulhas, kemarin (12/5).

Zulhas mengajak semua pihak bersabar menunggu. Jika setelah penetapan ada paslon yang tidak sepakat dengan KPU, mereka bisa mengajukan sengketa pemilu ke Mahkamah Konstitusi (MK). “Kan sudah ada regulasinya. Gugatan ke MK sudah diatur dalam undang-undang,” tutur dia.

Ditambahkannya, setelah penetapan pemilu, MPR mempunyai tugas mengajak masyarakat tetap bersatu, menjaga kerukunan dan NKRI. Jangan ada yang bercerai-berai. Persatuan dan kesatuan harus dikedepankan. “Yang kemarin-kemarin kan sudah kita tunjukan. Dan wajib bagi MPR akan menjaganya. Menjaga situasi lebih sejuk,” timpalnya.

Mantan menteri kehutanan tersebut menyatakan, menang atau kalah dalam pilpres adalah hal biasa. Namun, imbuh dia, pemenang sebenarnya adalah mereka yang bisa menjahit kembali persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat. Mereka yang bisa merajut kembali merah putih. Jika mereka bisa menjahit merah putih, persatuan dan kesatuan, barulah Indonesia menang.

Zulhas menegaskan, siapa pun yang nanti ditetapkan sebagai pemenang, semua pihak harus mendukung. Khususnya semua programnya sehingga Indonesia semakin maju. Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi lima besar dunia. Hal itu akan tercapai jika program presiden terpilih mendapat dukungan masyarakat. Jika Indonesia sukses, rakyatlah yang akan diuntungkan. “Rakyat Indonesia yang mendapatkan manfaatnya,” ujar dia.

Dengan sikap itu, apakah PAN akan bergabung dengan koalisi Jokowi? Zulhas menegaskan bahwa dirinya berbicara atas nama ketua MPR, bukan ketua umum partai. “Ya, ini ketua MPR dulu yang berbicara,” elak dia.

Sementara itu, Sekjen PAN Eddy Soeparno menyatakan, pertemuan Zulhas dengan Jokowi merupakan silaturahmi biasa. Menurut dia, tidak ada pembicaraan khusus dalam pertemuan tersebut. Terkait dengan pilpres, lanjut dia, saat ini pihaknya masih berfokus menyelesaikan tugas pascapilpres. “Kami juga akan menunggu penetapan 22 Mei,” ucap dia seusai acara.

Eddy menambahkan bahwa kontrak politik PAN dengan Prabowo selesai sampai pilpres. Dia memperkirakan nanti Prabowo memanggil seluruh anggota koalisi untuk membahas langkah selanjutnya. Jadi, pihaknya masih menunggu hasilnya, baru akan membahas langkah yang akan diambil.

Terpisah Pengamat Politik dari Rumah Rakyat, Maruli Hendra Utama mengatakan, sudah menjadi tradisi di PAN, merapat ke koalisi pemenang Pilpres. “Ini bukan barang baru. PAN punya perhitugan itu. Meski baru lisan bahasa Zulhas, yang menyebut atas nama ketua MPR, tapi bahasa itu kan sudah memberikan tanda. Orang politik biasa seperti itu,” papar Maruli.

Dosen Sosiologi Universitas Lampung itu menambahkan, hampir satu bulan terakhir, Zulhas sudah tidak lagi menampakan tubuhnya di lingkaran BPN. Nyaris di sejumlah media, Zulhas juga tidak pernah menyampaikan langkah-langkah BPN menjelang 22 Mei.

“Coba tanya, apa PAN siap. Apakah nanti tetap konsisten menjadi partai penyeimbang. Berani seperti PDIP? selama 10 tahun Partai Demokrat berkuasa, menyadi partai yang kontra. Saya rasa jauh api dari panggang,” timpal mantan aktivis 98 itu.

Posisi yang sama, sambung Maruli, juga akan terjadi pada Partia Demokrat. Partai besutan Soesilo Bambang Yudhoyono ini, lebih siap dibandingkan PAN untuk menjadi partai yang paling cepat merapat ke lingkaran kabinet Jokowi-Maruf Amin.

“Partai Demokrat lebih dulu diundang. Melalui Komandan Kogasma DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), komunikasi itu terjadi. Ada kemesraan setelah Pilpres. Terlebih, Partai Demokrat paling getol menyodorkan AHY sebagai capres 2024. Saya merasa yakin hitungan ini yang menjadi bahan pertimbangan,” pungkas Maruli. (ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here