Sinyal Merapat Makin Kuat

57
Sandiaga Uno

Sandiaga Uno Ajak Semua Komponen kembali Bersatu

RadarPriangan.com, JAKARTA – Beda haluan ternyata biasa. Dan ketika kalah dalam medan pertempuran politik, maka jurus lain pun dilakukan. Salah satunya, memboyong gerbong partai, merebut posisi di parlemen, meski harus menundukan kepala untuk berkoalisi.

Ya, semenjak diputuskan untuk bubar, seluruh partai mantan Koalisi Indonesia Adil dan Makmur Prabowo-Sandi tengah disibukan dengan urusan internal. Pilihannya hanya dua. Oposisi atau koalisi.

Kebanyakan dari mereka beralasan menunggu rapat koordinasi (rakor) dan musyawarah nasional (munas) dari masing-masing partai. Namun, sinyal-sinyal untuk merapat atau tidak ke pemerintahan sudah mulai terdengar.

Sandiaga Uno misalanya. Calon Wakil Presiden itu secara mengejutkan mengucapkan selamat atas penetapan Jokowi-Maruf. Ucapan itu disampaikan melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya. “Selamat bekerja, selamat menjalankan amanah rakyat, selamat berjuang untuk terus mencapai cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya, Senin (1/7).

Menurut dia, perjuangan tidak berhenti sampai di sini. “Berjuang untuk bangsa dan negara tidak harus selalu dilakukan dari dalam struktur pemerintahan,” lanjutnya. Ikhtiar mewujudkan keadilan sosial bisa dilakukan dengan banyak cara. Yang terpilih akan memimpin di pemerintahan, sedangkan yang tidak terpilih akan berperan sebagai mitra penyeimbang untuk menjaga jalannya pemerintahan ke depan.

Sejak awal Sandiaga menganggap kompetisi bukan permusuhan, apalagi perang total. Hanya, menjadi penyeimbang bukan berarti tidak ingin bersama. “Justru karena kita ingin bersama-sama menjaga kepentingan negara,” tutur mantan Wagub DKI Jakarta itu. Apabila ada mekanisme saling cek, kontrol, dan saling mengingatkan, dia yakin pemerintahan ke depan berjalan dengan baik.

Sandiaga menambahkan, setelah ini seluruh komponen bangsa harus kembali bersatu. Bekerja sama dan bahu-membahu untuk memajukan bangsa. “Perbedaan pilihan politik tidak harus membuat kita bermusuhan,” katanya.

Pernyataan Sandi ini berbanding lurus dengan statmen yang dilontarkan Sekjen PAN Eddy Soeparno misalnya. Cukup jernih untuk ditangkap. Ini sejalan dengan sikap Ketua Umum Zulkifli Hasan. “Lho kan saya bilang. Mekanisme partai yang ditempuh. Check and balances masih bisa dilakukan sekali pun koalisi tersebut dibilang gendut,” terangnya, kemarin.

Dia menambahkan, kritik membangun merupakan hal biasa yang selalu terjadi di setiap koalisi. Dia memberikan contoh yang terjadi di PAN selama mereka bergabung dengan Indonesia Adil dan Makmur.

Mereka, sering berbeda pendapat dengan parpol lainnya. Namun, hal tersebut selalu mereka utarakan secara tegas. Sebagai kritik membangun (check and balances, red), yang memberikan perbaikan di kubu koalisi tersebut.

Secara tidak langsung, Eddy menjelaskan hal itu pun juga bisa diterapkan di kubu pemerintahan saat ini. “Ya gini ya, saya tidak bilang mendukung ya, saya hanya menyatakan andai itu terjadi seperti apa ke depannya,” kilah Eddy.

Bagaimana dengan Partai Berkarya misalnya. Sinyal untuk tetap berada di kubu oposisi selalu disuarakan oleh mereka. Setiap kali ditanya, apakah ada keinginan dari mereka untuk bergabung dengan pemerintahan. Berbagai alasan kerap mereka lontarkan. Salah satunya, datang dari Sekjen Berkarya Priyo Budi Santoso.

Dia menjelaskan, tetap harus ada terompet-terompet yang ditiupkan. Demi menjaga keberlangsungan demokrasi yang ada di negara ini. “Ya, kalau semuanya ikut berduyun-duyun masuk koalisi, akan menjadi koalisi yang gemuk dan bergelambir,” ucapnya, kemarin.

Namun, Priyo menegaskan, Partai Berkarya akan tetap menghormati. Setiap keputusan yang akan diambil oleh seluruh partai yang pernah menjadi koalisi mereka. Karena kedua kedudukan tersebut, merupakan kedudukan mulia dan tak kalah terhormatnya dengan menjadi oposisi. Sekali pun, dia masih tetap dalam pendiriannya sebagai oposisi. “Ini merupakan pikiran-pikiran awal. Biar lah sejarah yang mencatat seperti apa nantinya,” beber Priyo.

Senada dengan pernyataan Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily menegaskan, tidak menutup diri terhadap partai dari luar yang ingin bergabung ke dalam koalisi pendukung JokowiMaruf. “Kami selalu terbuka, baik koalisi di parlemen maupun pemerintahan,” terang.

Namun, kata dia, tidak menyatukan gagasan politik antara dua koalisi yang sebelumnya berseberangan selama pemilu. Ace menyatakan, perbedaaan dua kubu koalisi sanagt tajam selama kampanye Pilpres 2019. Partai koalisi Prabowo-Sandi selalu melontarkan kritik tajam terhadap Jokowi.

Misalnya, kata dia, mereka mengritik utang luar negeri yang dianggap menumpuk. Selain itu, mereka juga mengritisi proyek infrastruktur yang dilaksanakan pemerintahan Jokowi. “Mereka juga mengkritik keras kebijakan ekonomi yang dilaksanakan Presiden Jokowi,” terang jubir TKN JokowiMaruf itu.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah jika mereka diterima dalam pemerintahan Jokowi – Maruf, apakah mereka bisa langsung menyesuaikan diri. Jangan sampai mereka malah menjadi hambatan politik selama pemerintahan. Sebab, hal itu akan sangat menganggu jalannya pemerintahan.

Anggota DPR RI itu menegaskan bahwa rekonsiliasi bukan semata-mata bagi-bagi kekuasan, tapi juga menyangkut pandangan politik yang berbeda selama masa kampanye pilpres. Namun, kata dia, yang pasti partai beringin terbuka jika partai pendukung PrabowoSandi ingin bergabung ke dalam koalisi Jokowi-Maruf. (dbs/khf/ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here