Siber Polri Siap Tindak Konten Provokasi

169

RadarPriangan.com, JAKARTA – Pasca pemungutan suara pada 17 April 2019 lalu, bermunculan akun-akun media sosial (medsos) berisi konten provokasi. Dalam hal ini, aparat kepolisian akan menindak tegas akun provokasi.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Muhammad Iqbal menegaskan, tidak akan mentolerir penyebaran berita bohong atau hoakas, dan narasi-narasi berkonten provokasi di medsos yang membuat keresahan di masyarakat.

“Pada prinsipnya, hoaks maupun informasi yang bersifat provokasi tidak boleh di tolerir. Kita akan melakukan proses hukum terhadap pelakunya, apalagi saat ini pasca pemungutan suara, jangan meresahkan masyarakat,” kata Iqbal melalui pesan tertulis, Jumat (19/4).

Adapun saat ini, kata Iqbal, Direktorat Siber Bareskrim terus berpatroli di semua medsos guna melakukan penyelidikan terhadap pelaku penyebaran hoaks, dan konten yang bersifat provokasi.

“Siapapun pelakunya akan kami tindak. Untuk itu kami berharap, agar tidak ada kegaduhan di dunia maya (medsos), sebab kalau ada kegaduhan tentunya dapat berimplikasi di dunia nyata. Sekali lagi, pada prinsipnya polri akan menindak tegas pelakunya,” jelas Iqbal.

Sebelumnya, Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo meminta, tokoh bangsa di republik ini tidak melakukan provokasi di tengah proses penghitungan suara Pemilu 2019 yang dilakuka KPU. Khususnya, untuk tidak menyebarkan narasi-narasi provokasi di media sosial.

Menurut Dedi, pihaknya mengidentifikasi pasca hitung cepat atau quick count, media sosial ramai diisi oleh konten dan narasi yang bersifat provokasi khususnya, dari para tokoh bangsa.

“Dari hasil patroli tim Direktorat Bareskrim Polri, tercatat ada peningkatan konten berisi narasi yang provokatif di media sosial sebanyak 40 persen, pasca hitung cepat atau usai proses pencoblosan selesai kemarin. Dan beberapa dari para tokoh bangsa,” kata Dedi.

Dedi pun berharap, para tokoh bangsa tidak menyampaikan konten atau narasi yang provokatif agar tidak menimbulkan keresahan dan kegaduhan di masyarakat. Selain itu, kepada masyarakat, khususnya para pendukung setiap paslon untuk tetap tenang dan sabar, tunggu hasil resmi KPU.

“Harapan kami, tokoh-tokoh tidak provokatif dan massanya pun harus sabar, tenang, tunggu hasil pengumuman resmi dari KPU,” tambah Dedi.

Dedi menegaskan, Polri tidak akan mentolerir bagi para pelaku yang menyebarkan narasi bersifat provokatif di medsos. Adapun sampai saat ini, pihaknya terus memantau setiap narasi yang muncul di medsos untuk memastikan delik pelanggaran pidana atau tidak.

“Semua narasi-narasi yang ada di medsos terus dipelajari. Dan kami sudah mengidentifikasi akun tersebut, kalau pun dinilai memprovokasi massa, hingga ada aksi akan kita tindak,” tegasnya.

Kepada para tokoh-tokoh bangsa, Dedi meminta untuk memberikan kesejukan pada masyarakat, bukan sebaliknya menyulut kekisruhan.

“Mohon seluruh tokoh dapat mengendalikan masyarakat, bisa menyampaikan atau memilih diksi dalam narasinya yang sejuk, yang menjaga persatuan kesatuan, tidak provokatif, menjaga toleransi. Jangan sampai diksinya dalam narasi sifatnya memprovokasi karena itu berbahaya,” pungkasnya. (Mhf/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here