Siap-siap, Lulusan Putih Biru sudah tak Terpakai

96
Sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja, maka lulusan sekolah menengah terus tergerus oleh lulusan SMA/K. (ilustrasi: jp)

RadarPriangan.com, JAKARTA – Kebutuhan pasar terhadap tenaga kerja global benar-benar selektif. Bekal ijazah S1 saja tidak cukup. Apalagi ijazah SMP sederajat. Kemungkinan pada 2025 nanti sudah tidak ada lagi tenaga kerja lulusan “putih-biru”. Sebagai gantinya tenaga kerja bakal didominasi lulusan SMK atau SMA.

Kondisi tersebut disampaikan oleh Kepala Badan SDM Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Mujiono di kantornya kemarin (8/4). Dia mengatakan kondisi tersebut merupakan imbas dari kebutuhan pasar tenaga kerja. “Perhitungan kami 2025 zero (tenaga kerja, red) lulusan SMP,” katanya, kemarin (9/4).

Kondisi zero tenaga kerja lulusan SMP tersebut bukan berarti yang ada sekarang bakal di-PHK semuanya. Tetapi para tenaga kerja yang sekarang berijazah SMP akan hilang secara alamiah, misalnya karena pensiun. Kemudian juga ada yang mengikuti pelatihan sehingga memiliki kerangka kualifikasi nasional Indonesia (KKNI) level dua sampai level tiga. “KKNI level dua atau level tiga itu setara lulusan SMK,” tuturnya.

Selain itu kondisi “hilangnya” tenaga kerja berijazah SMP juga disebabkan rekrutmen baru yang didominasi lulusan SMK sederajat. Selain itu tenaga kerja yang sekarang berijazah SMK, akan bergeser menjadi berijazah diploma 1 karena mengikuti sejumlah pendidikan sambil bekerja.

Pada kesempatan tersebut, industri yang bakal mengalami zero tenaga kerja SMP paling banyak adalah industri padat karya. Seperti industri tekstil, alas kaki atau sepatu dan sandal, hingga industri rokok serta makanan dan minuman. Menurut dia industri-industri tersebut selama ini banyak menyerap tenaga kerja.

Mujiono menjelaskan dengan pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen setiap tahunnya, industri nasional tetap membutuhkan tenaga kerja banyak. Dia memperkirakan kebutuhan tenaga kerja di Indonesia mencapai 600 ribu setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 350 diantaranya adalah kebutuhan kerja lulusan SMK.

Sayangnya yang terjadi sekarang SMK terkadang kesulitan menghasilkan lulusan yang siap diserap industri. Diantaranya karena adanya kesenjangan kompetensi. Antara kompetensi yang ada di kurikulum dengan di dunia industri. Untuk itu perlu ada kolaborasi antara industri dengan SMK.

Saat ini sudah ada program satu unit industri bermitra atau membina langsung sejumlah SMK. Data sementara ada 855 unit industri yang mengikuti program tersebut. Dengan jumlah SMK binaan mencapai 2.612 unit. (din/wan/ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here