Setnov Tepergok Makan di Restoran Padang

128
Mantan Ketua DPR RI menjalani vonis di LP Sukamiskin, Bandung, dalam kasus korupsi e-KTP.

RadarPriangan.com, JAKARTA – Terpidana kasus korupsi Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP), Setya Novanto, tepergok sedang makan di restoran masakan padang di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Padahal, dirinya seharusnya tengah berada di sel tahanan Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, untuk menjalani vonis yang dijatuhkan hakim.

Menanggapi hal ini, Kepala Lapas Sukamiskin, Tejo Harwanto menjelaskan, Setnov berada di RSPAD Gatot Subroto untuk menjalani perawatan. Ia mengatakan, kepergian Setnov ke luar lapas telah sesuai dengan prosedur dengan dikawal oleh petugas lapas dan pihak kepolisian.

“Memang benar saudara Setnov sekarang berada di RSPAD Gatot Subroto, melaksanakan perawatan dan tindakan medis,” ujar Tejo ketika dikonfirmasi, Senin (29/4).

Tejo menerangkan, mulanya Setnov mengeluh sakit. Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh tim dokter Lapas Sukamiskin, dirinya kemudian dirujuk ke salah satu rumah sakit di Bandung. Lalu, terungkap bahwa Setnov terjangkit sejumlah penyakit kronis.

“Setnov didiagnosa CKD (gagal ginjal kronis), CAD (kelainan pembuluh darah arteri koroner pada jantung), DM Tipe 2 (Diabetes melitus tipe 2), vertigo, Radikulopati L4-5,” jelasnya.

Senada dengan Tejo, Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Permasyarakatan (Ditjen Pas) Kemenkumham, Ade Kusmanto membenarkan kabar Setnov yang tengah menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto. Ia mengungkap, perawatan Setnov berdasarkan rujukan dokter Lapas Sukamiskin, Dr Susi Indrawati, dan dokter luar lapas, dr Ridwan Siswanto.

“Betul bahwa narapidana atas nama Setya Novanto sedang berada di luar Lapas Sukamiskin untuk mendapatkan tindak lanjut perawatan kesehatan di RSPAD Jakarta ,” kata Ade.

Ia pun memastikan proses perawatan Setnov selama berada di luar lapas telah sesuai dengan prosedur. “Pengeluaran dan pengawalan sesuai prosedur, dilaksanakan pada tanggal 24 April 2019,” terangnya.

Sementara itu, Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengaku tidak bisa berbicara banyak soal informasi tersebut. Karena, kata dia, masalah kedisplinan tahanan telah sepenuhnya menjadi kewenangan lapas dan Ditjen Pas.

“Memang dulu kasusnya itu ditangani KPK, tapi kewenangan KPK tidak bisa menyentuh sampai dengan selama-lamanya, karena domain kewenangannya setelah eksekusi ada di lapas,” ucapnya.

Seperti diketahui, majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) menyatakan Setya Novanto terbukti bersalah dalam kasus korupsi e-KTP yang merugikan negara lebih dari Rp2,3 triliun. Mantan Ketua DPR dan Ketua Umum Golkar itu dijatuhi hukuman 15 tahun penjara, denda Rp500 juta, dan dicabut hak politiknya selama lima tahun. (riz/ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here