Saat Lebaran, Deras Putaran Uang di Daerah

104
Calon Penumpang KA Gumarang tujuan Surabaya dan KA Brantas lebaran tujuan Blitar mengantri untuk masuk ke peron Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Kamis (30/5/2019). Direktorat Jenderal Perkereta apian Kemenhub memprediksi pemudik yang menggunakan jasa angkutan kereta api mengalami peningkatan pada 29 Mei hingga 4 Juni dengan puncak arus mudik pada Jumat, 31 Mei. (Iwan Tri Wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK)

RadarPriangan.com, JAKARTA – Lebaran sebentar lagi. Masyarakat yang sejak kemarin (30/5) mulai mudik biasanya juga membawa uang THR untuk sanak saudaranya di kampung halaman. Mereka juga akan melakukan berbagai transaksi ekonomi, baik di sepanjang perjalanan mudik maupun ketika sudah sampai di tempat tujuan.

Aktivitas belanja dan tradisi memberikan uang kepada keluarga di tempat asal itu diyakini mampu membawa perekonomian daerah lebih baik.

Sebab, aktivitas konsumsi selama Ramadan hingga Lebaran akan menimbulkan transaksi ekonomi yang merata, baik di kota maupun di desa. Bukan hanya itu. Pembayaran zakat juga akan menaikkan kemampuan konsumsi rumah tangga masyarakat miskin.

Dampaknya, aktivitas ekonomi dan konsumsi terjadi tak hanya oleh masyarakat dengan daya beli yang tinggi, tapi juga dirasakan masyarakat yang daya belinya rendah.

“Sebenarnya Lebaran itu tidak hanya meningkatkan konsumsi, tapi sebelumnya didahului dengan meningkatnya aktivitas produksi untuk mengantisipasi kenaikan demand. Ini terjadi di berbagai daerah sehingga pertumbuhan ekonomi bisa terdorong dengan lebih baik,” papar ekonom DBS Indonesia Maysita Crystallin, kemarin (30/5).

Menurut perempuan yang kerap disapa Sita itu, momentum Ramadan dan Lebaran harus dijaga dengan keamanan yang baik. Apalagi, konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu kekuatan utama penyumbang produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Kontribusi konsumsi rumah tangga yang biasanya lebih dari 50 persen setiap kuartal diyakini akan mencapai peak pertumbuhannya pada kuartal II ini.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menambahkan, pemerintah berusaha menjaga momentum pertumbuhan dari aktivitas ekonomi pada saat Ramadan dan Lebaran. Dia berharap tidak ada konsumsi yang tertahan karena faktor keamanan, inflasi, maupun hal lain yang memengaruhi daya beli.

“Karena di desa itu banyak pedagang, penjual makanan, penjual baju, yang juga berharap dagangannya dibeli konsumen. Kita tentu berharap ini bisa menjadi hal yang baik,” ujarnya.

Dia menambahkan, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga agar inflasi terkendali. Ekspektasi inflasi sejauh ini masih tetap terjaga meski beberapa komoditas juga mengalami kenaikan harga.

“Kami terus berkoordinasi agar momentum ini terjaga dan bisa mendorong pertumbuhan,” kata Ani, sapaan akrab Sri Mulyani.

Di bagian lain, BI bersinergi dengan Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BCA serta PT Jasamarga untuk mengadakan kegiatan penukaran uang kecil, penjualan kartu, dan top up uang elektronik (UE). Kegiatan yang berlangsung di rest area Km 57 Cikampek tersebut juga memberikan edukasi untuk mengenali ciri-ciri keaslian uang rupiah (cikur) dan merawat rupiah.

“Juga, ada layanan refreshment bagi pemudik yang singgah seperti pemeriksaan kesehatan, takjil untuk berbuka, minuman hangat, dan kursi pijat serta area bermain anak,” kata Deputi Gubernur BI Rosmaya Hadi, kemarin (30/5).

Rosmaya menyampaikan, kegiatan BI Peduli Mudik tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan uang rupiah masyarakat, baik dalam bentuk tunai maupun nontunai, khususnya yang sedang melaksanakan mudik. Selain layanan pemenuhan uang tunai, pihaknya mendorong cashless society sehingga terdapat layanan nontunai di titik-titik rest area yang dilalui pemudik. Menurut dia, transaksi uang elektronik terus meningkat setiap tahun.

“Untuk tahun ini, volume uang elektronik (sampai April 2019) telah meningkat 62 persen (yoy), sedangkan secara nilai tumbuh hingga 101,2 persen,” imbuhnya. (ken/rin/ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here