Ratakan Gunung Perluas Mina

29
Lukman Hakim Saifuddin

RadarPriangan.com, MAKKAH – Desakan Pemerintah Indonesia akhirnya didengar. Pemerintah Arab Saudi berencana memperluas kapasitas Mina pascamusim haji 2019. Caranya dengan meratakan sebagian gunung untuk menambah daya tampung.

Selain itu, pemerintah Arab Saudi akan menyediakan tempat tambahan di Mudzalifah. Yakni menggunakan area yang semula digunakan oleh sejumlah negara dari benua Afrika. Sementara untuk di Arafah belum ada agenda terkait penambahan kapasitas. Untuk diketahui kondisi di Arafah relatif lebih leluasa dibandingkan di Mina atau Mudzalifah.

“Memang sejak kita usulkan dalam pertemuan yang lalu ada komitmen dari pemerintah Arab Saudi untuk menambah kuota haji Indonesia sehingga menjadi 250 ribu jamaah. Kita tunggu saja. Yang pasti dengan adanya penambahan daya tampung, sebagian lahan berbukit dikeruk,” turur Menteri Agama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Selasa (20/8).

Yang pasti, sambung dia pemerintah menyambut baik jika hal ini terealisasi. “Jemaah akan semakin nyaman dalam beribadah. Lebih khusuk. Terlebih ada penamnaha sarana termasuk transportasi pengangkut jemaah, sejalan dengan rencana perluasan itu,” imbuhnya.

Pada bagian lain, Kemenag juga tengah berupaya meningkatkan kualitas layanan akomodasi, transportasi, katering, dan hal-hal yang kaitannya dengan penyelenggaraan haji secara umum, Kementerian Agama tahun depan akan fokus pada peningkatan kualitas ibadah jemaah haji.

“Setelah kita mampu meningkatkan kualitas layanan akomodasi, transportasi, katering, dan hal-hal yang kaitannya penyelenggaraan secara umum haji, dan alhamdulillah sudah diapresiasi sebagian besar jemaah, maka tahun depan kita harus fokus pada peningatan kualitas ibadah,” terangnya.

“Jadi bagaimana manasik haji itu tidak hanya berisi tata cara melakukan ibadah haji dalam pendekatan fiqih semata, tapi lebih menjelaskan hal-hal yang sifatnya substantif dan esensial, filosofi haji juga menjadi salah satu hal yang perlu kita kedepankan sehingga jemaah haji Indonesia tidak hanya memiliki pengalaman berhaji semata, tapi juga harapannya bertambah wawasan pengetahuannya tentang haji,” kata Menag.

Melalui peningkatan kualitas ibadahnya, ujar Menag, jemaah haji harus juga memahami dengan baik apa makna thawaf, apa makna sai, wukuf dan lainnya. Itu perlu penjelasan melalui buku manasik haji kita, juga melalui arahan bimbingan dari para pembimbing ibadah haji.

“Para pembimbing ibadah untuk lebih menekankan aspek ini, sehingga harapannya kemabruran itu terwujud tidak hanya pada aspek kesalehan personal tapi juga kesalehan sosial,” imbuhnya.

Selama enam kali menjadi Amirul Hajj, Lukman Hakim Saifuddin selalu menyarakan perluasan atau penambahan kapasitas jamaah di Mina. Dia tidak menampik bahwa penambahan kuota itu penting. Namun penambahan kuota harus diikuti dengan penambahan kapasitas di Mina.

Sebab menurut Lukman, pelayanan haji yang paling krusial adalah di Mina. Lukman tidak hanya meminta daya tampung tenda di Mina yang ditambah. Dia juga berkali-kali mendesak pemerintah Arab Saudi supaya bisa memperbanyak kapasitas toilet di Mina.

Sementara itu, jamaah haji mendapatkan pengawasan. Puskesmas terdekat dari rumah jamaah haji wajib memantau selama tiga minggu. Hal ini bertujuan agar ada pemantauan kesehatan. Terutama untuk menghindari penyakit dari Arab Saudi.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menuturkan bahwa Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jemaah Haji (K3JH) harus disimpan. “Selama tiga minggu kartu itu dipegang. Dan jika ada yang sakit, bawa ke puskemas dan rumah sakit. Kartunya diperlihatkan,” ucap Nila.

K3JH merupakan kartu yang diisi oleh jamaah haji untuk merekam atau mencatat gejala-gejala penyakit yang mungkin timbul selama 21 hari setelah pulang menunaikan ibadah haji. Gejala itu di antaranya sakit demam, batuk, sesak napas, diare, perdarahan, dan kaku kuduk. Bila setelah 21 hari di tanah air, maka K3JH ini diserahkan atau dikirimkan ke puskesmas setempat.

Pemantauan kesehatan ini sebenarnya dimulai sejak jamaah sampai Indonesia. Setelah turun dari pesawat, jamaah haji melewati pemeriksaan kekarantinaan kesehatan. Satu persatu jamaah haji diamati suhu tubuhnya dengan alat pemindai suhu tubuh. Pemeriksaan suhu tubuh ini untuk melakukan skrining terhadap kemungkinan penyebaran penyakit yang dapat menimbulkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (KKM) seperti meningitis, MERS-COV, dan ebola virus.

Jika ada jamaah haji yang terdeteksi suhu tinggi atau demam akan dilakukan isolasi dan observasi. Sampai kemarin belum ditemukan jamaah haji yang terdeteksi memiliki suhu tubuh yang tinggi. Di Arab Saudi, jamaah yang masih dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah sebanyak 174 orang. Ada juga yang dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Madinah masih merawat sebanyak tiga orang dan 219 orang di rawat di RSAS Makkah. “Kementerian Kesehatan tetap akan mendampingi jamaah haji yang masih dirawat di Arab Saudi,” ungkapnya. (ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here