Puluhan Tahun Berjualan Kulit Beduk

134
Penjual kulit beduk musiman di Maleber, Ciamis. (RIZKI ALDI SAPUTRA/RADAR PRIANGAN)

RadarPriangan.com, CIAMIS – Setiap datangnya Ramadan, pedagang musiman selalu bermunculan untuk menjajakan dagangannya. Termasuk penjual kulit beduk yang biasa mangkal di kawasan Maleber, Kabupaten Ciamis. Mereka berjualan kulit sapi untuk gendang besar itu sejak puluhan tahun lalu yang turun temurun.

Salah satunya adalah Haer, 45, warga Kelurahan Maleber, Ciamis. Dia mengaku berjualan kulit beduk tersebut karena amanah dari orang tuannya agar mempertahankan bisnis kulit beduk. Di luar bulan Ramadan, Haer berjualan kupat tahu dan lengko di tempat yang sama, Jalan RE Martadinata, Ciamis. 

“Sudah lama jualan sekitar 11 tahun, memang sudah turun temurun jualan kulit bedug setiap bulan puasa. Semua orang sudah tau kalau nyari kulit bedug biasanya kesini,” ujar Haer.

Haer tetap bertahan menjual kulit beduk bukan hanya ingin mengantongi keuntungan. Namun, tujuannya ingin supaya setiap masjid di Ciamis memiliki beduk. Sehingga, sambung dia, suasana bulan Ramadan tetap terasa dengan merawat tradisi ‘ngadulag’ atau menabuh beduk yang biasa berlangsung usai tarawih.

“Pembeli itu memang sudah langganan, kalau beduk sudah rusak pasti mencari ke sini. Jadi tradisi ‘ngadulag’ itu tetap bertahan di bulan puasa,” tuturnya.

Kulit beduk yang dijual Haer bisa tahan hingga empat tahun. Ukuran diameternya sekitar 80 sentimeter. Haer biasa menjual Rp350 ribu untuk satu lembar kulit beduk.

“Alhamdulillah setiap tahun laku rata-rata 40 sampai 50 lembar, itu jualan dari awal puasa sampai mau Lebaran. Langganan bukan hanya dari Ciamis, tapi dari Pangandaran, Banjar, Majalengka bahkan Bandung,” ucapnya.

Menurut Haer, penjual kulit beduk di Ciamis masih satu kerabat. Bahkan kulit tersebut merupakan hasil produksi keluarga. Bahan baku kulit sapi didapat saat Idul Adha, lalu diolah dan dikeringkan menjadi kulit beduk. 

“Kakak saya kan biasa kirim kulit ke Garut, jadi sebagian disimpan untuk dijadikan kulit beduk dan dijual pada bulan puasa,” ujar Haer. 

Senada diungkapkan pedagang lainnya, Beni. Dia mengaku sudah berjualan kulit beduk sejak 1980. Ia dan Haer, yang masih satu kerabat, sama-sama berjualan kulit beduk.

“Saya jualan kulit bedug ini bukan untuk ekonomi saja, tapi melanjutkan usaha orang tua, pesan saya, tetap bunyikan bedug di masjid-masjid, saat takbiran jangan lupa ‘ngadulag’,” pungkasnya. (mg2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here