Puluhan Hektar Sawah di Desa Kertajaya Kekeringan

54
ilustrasiu

RadarPriangan.com, GARUT – Puluhan hektar swah di beberapa Blok di Desa Kertajaya Kecamatan Cibatu, saat ini mulai dilanda kekeringan akibat musim kemarau. Irigasi teknis debet airnya sudah menyusut tajam, bahkan ada yang sudah mengering.

Dampaknya, tanaman padi banyak yang terancam mati kekeringan Seperti di Blok Cipanas Desa, Kondang, Pulo dan lainnya. Sebagian petani memilih tak menanam padi ketimbang harus menanggung risiko kekeringan.

Yoyo, 56, petani warga Kertajaya, mengatakan, bagi para petani yang rajin “ngandir” irigasi, tanaman padinya masih bisa diselamatkan. Bagi yang enggan ngandir, sebagian tanaman padi dibiarkan terancam mati kekeringan. Apalagi debet air irigasi menyusut tajam bahkan banyak yang kering.

“Kondisi tanaman padi terancam mati akibat kekeringan, selalu terjadi setiap musim kemarau. Kondisi semacam itu sulit diantisipasi karena menyangkut faktor alam. Beberapa bulan kemudian bila tak turun hujan, sebagian warga Kertajaya akan dilanda rawan air bersih karena sumur gali di beberapa tempat sudah mulai mengering,” ungkap Yoyo, Senin (24/6).

Di Blok Cimencek, kondisi tananan padi sebagian sudah berubah warna menjadi merah akibat kekurangan air. Para petani pun berupaya ngandir siang malam untuk menyelematkan tanaman padinya dari ancaman kekeringan. Irigasi tekhnis di Kertajaya sumber airnya berasal dari irigasi Citameng. Irigasi Citameng pun saat ini debet airnya amenyusut tajam.

Selain itu, tanaman palawija seperti jagung dan cabai banyak yang mengering dan terancam mati karena kekeringan. Para petani tak berdaya menyiram tanaman palawija karena air irigasi mulai mengering.

Menurut para petani lainnya, bila rajin ngandir air irigasi bisa mengalir dari bagian hulu meski membutuhkan waktu cukup lama. Terlebih petani yang membutuhkan air mulai rebutan, sehingga penggunaan air irigasi harus digilir secara bergantian. (pap)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here