Puasa, Mewujudkan Harmoni dan Damai

189

Oleh: Dr. Ijudin, S.Ag., M.Si. (Wk. Rektor Uniga)

RAMADAHAN merupakan bulan agung, bulan yang penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka. Kehadirannya selalu dinantikan oleh setiap muslim di seluruh dunia, sebab di dalamnya terdapat banyak keutamaan bagi orang yang berpuasa.

Seiring dengan kehadiran bulan Ramadhan, kita menginginkan puasa yang kita jalankan mampu mewujudkan kehidupan yang lebih harmonis dan damai, sebab setiap muslim berjihad melawan hawa nafsunya dengan berpuasa. Tidak berlebihan kiranya, jika kita berharap Ramadhan akan menyajikan perdamaian yang khas dan penuh makna.

Hakikat puasa, bukan hanya menahan atau mengekang diri dari makan dan minum sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, namun makna puasa sesungguhnya adalah proses penyucian diri manusia agar memiliki kualitas jiwa yang lebih terkendali, menjadi orang yang lebih bertaqwa. Lebih jauh Rasulullah Saw. telah mengkritik pemahaman dan praktek puasa yang selama ini kita pahami, yakni sekedar menahan dari makan dan minum. Banyak sekali orang yang berpuasa yang tidak ada bagian untuknya kecuali lapar dan dahaga.

Jelas, sabda nabi ini menjadi peringatan keras agar orang yang berpuasa harus mampu menghindarkan dirinya dari hal-hal yang dapat membatalkan dan menghilangkan pahala puasa, dan juga menghindarkan dari perkataan-perkataan menyimpang, seperti berbohong, menggunjing, mengadu domba, mencaci maki, berkata keji, bahkan dari perkataan yang tidak mengandung kebaikan.

Disamping itu, puasa merupakan jihad melawan hawa nafsu yang dapat mendorong kita untuk mengendalikan perilaku. Puasa kita dikatan sukses, jika kita berhasil mengalahkan hawa nafsu ammarah, yaitu nafsu yang selalu mendorong kepada keburukan, sehingga yang menang adalah nafsu muthmainnah (ketenangan). Ketika hati kita dikuasai oleh muthmainnah (ketenangan), maka kita tidak akan pernah berpikir untuk menebar kekerasan, bahkan kebencian. Yang selalu kita pikirkan hanyalah bagaimana mewujudkan harmoni dan perdamaian dalam menyikapi perbedaan yang Allah SWT telah ciptakan.

Perbedaan merupakan hal yang wajar. Dan, tidak seharusnya disikapi dengan tindakan anarkis dan radikal. Tindakan anarkis dan radikal sejatinya lahir dari rahim hawa nafsu yang tidak terkendali. Kemarahan, rasa frustrasi, egoisme, hasrat ingin berkuasa, hasrat ingin mendominasi dan mempengaruhi, serta hasrat ingin mengahancurkan timbul karena kegagalan nafsu muthmainnah menaungi jiwa seseorang.

Setiap tahun di bulan Ramadhan, kita tidak henti berharap bahwa kebiasaan puasa selama satu bulan dapat membentuk kepribadian bertaqwa, yakni menjaga diri dan menahan hawa nafsu demi terciptanya kerukunan, keharmonisan, dan perdamaian.

Saatnya, kini kita bertanya pada dalam diri. Apakah puasa kita sudah dapat mewujudkan harmoni dan perdamaian, serta berhasil mengalahkan nafsu ammarah? Harusnya selama satu bulan kita berada dalam kondisi jiwa yang berpuasa. Berpuasa dari perbuatan yang dapat menyakiti orang lain. Berpuasa dari rasa egois dan marah.

Puasa seharusnya mampu mendidik jiwa kita agar lebih bersikap toleran, penuh kasih, dan kaya akan kemaafan.
Semestinya, puasa dapat memantikkan jiwa cinta perdamaian. Puasa, yang mampu menahan lapar semestinya dapat membimbing hati kita untuk  memiliki hati yang penuh belas kasih atau rasa empati. Puasa, yang mampu membuahkan kearifan dan kebijaksanaan. Puasa, yang mampu menahan diri kita dari perilaku sombong dan arogan. Puasa, yang mampu menahan diri kita dari iri dan dengki. Puasa, Itulah, jihad yang sesungguhnya. Jihad yang bermuara pada aktualisasi nilai-nilai perdamaian dalam agama Islam.

Sangat disayangkan, jika puasa kita hanya sebatas pada menahan makan dan minum. Sebab Allah Swt. memerintahkan kita untuk berpuasa agar menjadi pribadi yang taqwa. Agar kita memiliki perilaku yang menyejukkan dan dilandasi semangat perdamaian. Derajat taqwa yang ingin kita raih, pada dasarnya ialah pengendalian nafsu ammarah menjadi nafsu muthmainnah.

Hendaknya, orang yang berpuasa lebih mengedepankan perdamaian bukan pertentangan, mendahulukan persamaan bukan perbedaan; mengutamakan pengertian, bukan pemaksaan; mementingkan kejernihan, bukan kekeruhan; membuat kerendahhatian, bukan ketakabburan; menorehkan berbagai kemaslahatan/kebaikan, bukan kemadharatan/kerusakan; mendahulukan kepentinggan orang banyak, bukan kepentingan pribadi.

Puasa, juga merekomendasikan pentingnya harmoni antar sesama umat manusia meski dengan latar belakang berbeda. Islam meniscayakan agar setiap muslim hendaknya menumbuhkan sikap dan perilaku silih asih, asah dan asuh, serta tidak saling curiga, saling membenci, saling menghujat, bahkan saling merusak atas nama agama, kemanusiaan, atau apa pun.

Akhirnya, di sisa waktu bulan penuh kemuliaan ini, kita harus lebih meneguhkan komitmen untuk menjalani puasa dengan segenap jiwa raga. Bukan hanya puasa menahan lapar dahaga, namun juga puasa dari nafsu ammarah dan tindak kekerasan. Semoga puasa kita menjadi titik awal pembelajaran untuk semakin melembutkan hati, sehingga sikap dan perilaku kita semakin terpuji, santun, dan menyejukkan.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here