Posisi PSSI Makin Terjepit, KLB Makin Gelap

76

RADARPRIANGAN.COM, JAKARTA – Jika melihat statuta FIFA, agenda Kongres Luar Biasa yang akan dijalankan oleh PSSI tampaknya bisa langsung jalan secepatnya. Tidak perlu harus lapor terlebih dulu kepada federasi sepak bola nasional itu. seperti yang selama ini jadi alasan PSSI.

Hal tersebut memang diakui oleh Anggota Exco PSSI Gusti Randa. Pria yang juga saat ini mengemban amanah menjalankan tugas harian ketua umum PSSI itu menuturkan tidak ada kewajiban mutlak PSSI untuk lapor FIFA dulu dalam melakukan KLB. Bisa langsung saja tanpa perlu diketahui oleh FIFA.

Lantas kenapa permintaan rekomendasi ke FIFA jadi alasan PSSI untuk memperlama KLB selama ini? Gusti menuturkan PSSI dianggap FIFA adalah anak yang nakal. Anak yang selama ini paling sering menggelar KLB dibandingkan member FIFA lainnya.

“Kami nakal lagi sekarang, FIFA bahkan pernah mengeluarkan statement capek dengan urusan KLB di PSSI. benar ini ranah kami sendiri tidak perlu lapor FIFA,” terangnya, Minggu (7/4).

Karena dicap anak nakal, PSSI punya hak untuk meminta rekomendasi. Meminta apa yang sebaiknya dilakukan agar ke depannya tidak ada KLB lagi di PSSI. Tidak ada perseteruan lagi yang menyebabkan pengurus bisa berganti dengan mudah.

“Sudah ada surat yang kami kirim ke FIFA untuk menanyakan. Kami saat ini menunggu direct letter-nya, sudah dua minggu lalu dikirim,” terangnya.

Rekomendasi itu dijelaskan Gusti bukan sekedar meminta saran bagaimana KLB yang baik seharusnya. Melainkan juga terkait Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan Anggota Exco yang terpilih itu bagaimana nantinya. Sebab, masa jabatan untuk kepengurusan yang baru jika melihat statuta hanya satu tahun saja. artinya, tahun depan, akan berganti kepengurusan lagi.

“Apakah KLB ini mencari Ketua Umum dan exco yang kosong? Durasi sampai kapan? Apakah sampai kepemimpinan Edy Rahmayadi atau semua diganti dengan durasinya empat tahun ke depan. Jangan tebak-tebakan masalah ini, karena itu kami meminta rekomendasi,” tegasnya.

Pria yang juga berprofesi sebagai pengacara itu menuturkan KLB kemungkinan besar diselenggarakan pada Agustus mendatang. Penenuan waktu itu juga tidak sesuai dengan statuta PSSI sendiri, Gusti mengakui itu. Sebab, jika melihat statuta, setidaknya KLB digelar tiga bulan setelahnya. Artinya, jika diusulkan pada 20 Februari, paling lambat KLB harusnya dilaksanakan pada 20 Mei.

Dia ingin menjelaskan duduk perkaranya terlebih dahulu kenapa muncul Agustus sebagai waktu yang tepat adanya KLB. Gusti menerangkan adanya Pemilihan Presiden pada 17 April mendatang jadi salah satu faktor yang ikut membuat KLB PSSI mundur. Selain itu, keterbatasan dana alias kas PSSI yang kosong jadi hal terpenting lain kenapa KLB dilaksanakan Agustus.

Gusti mengungkapkan keterbatasan dana itulah yang membuat pembentukan Komite Pemilihan dan Komite Banding Pemilihan baru bisa dibentuk paling lambat awal Mei mendatang. Usai pembentukan, Komite pemilihan juga butuh waktu untuk membuka pendaftaran. Paling tidak dua pekan setelah dibuka.

“Setelah pendaftaran, yang kami sebut notifikasi harus verifikasi. Dilihat berhak atau tidaknya. Dua minggu dikasih, sudah paling cepat. Sekitar Juni, artinya delapan minggu setelahnya baru oke KLB, artinya Agustus. Repot kalau ada yang mau cepat-cepat,” katanya.

Dia berharap masyarakat agar tenang. Pihaknya sedang mempersiapkan KLB dengan baik agar nantinya kepengurusan yang baru benar-benar bisa memberikan perubahan di kubu PSSI. “Ikuti tahapannya, nanti kepengurusan yang baru jangan digoyang lagi. Ya semoga,” harapnya.

PSSI saat ini dalam posisi tejepit. PSSI berutang miliaran rupiah untuk mengikutkan tim nasional U-22 Indonesia ke Piala AFF U-22 2019 yang berlangsung di Kamboja bulan Februari lalu.

“Mengutang itu saya kira bukan hal yang tabu. Kalau besarannya kurang lebih miliaran rupiah, sekitar Rp4,5 miliar-lah,” ujar Gusti.

Menurut dia, ada pihak yang diutangi PSSI agar timnas bisa terlibat di Piala AFF U-22 tersebut. Gusti menyebutnya sebagai Hamba Allah. Hamba Allah inilah yang mengeluarkan uang hingga timnas U-22 bisa berlaga di Kamboja dan pada akhirnya menjadi juara di turnamen tersebut setelah menaklukkan Thailand di partai final.”Hamba Allah memberikan talangan dana. Bahasa resmi talangan itu, ya, kami berutang,” kata Gusti.

Fakta ini menunjukkan bahwa pada tahun 2019, PSSI sudah dua kali kekurangan anggaran untuk memberangkatkan timnas ke turnamen internasional. Selain timnas U-22, PSSI juga tidak memiliki uang yang cukup untuk memberangkatkan timnas U-15 putri ke Piala AFF Putri U-15 2019 yang berlangsung 9-21 Mei 2019 di Thailand. Bedanya, jika timnas U-22 tetap berangkat karena kemurahan hati pihak lain, timnas U-15 harus ditarik keikutsertaannya dari turnamen AFF tersebut. (ngi/dbs/ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here