Polisi Selidiki Pembuat Pesan Teror

57
Guru PNS di SMA Negeri di Garut diamankan Polda Jabar setelah terbukti melakukan penyebaran ancaman pengeboman di Jakarta. (IQBAL GOJALI/RADAR GARUT)

Sebar Ancaman, Guru SMA Negeri di Garut Diamankan

RadarPriangan.com, GARUT – Seorang guru berinisial AS, 54, yang mengajar di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Garut, Sabtu (18/5) diamankan pihak Kepolisian Resor Garut. Ia diamankan karena diduga menyebarkan pesan ancaman teror melalui whatsapp ke sejumlah grup dan kenalannya.

“Polda Jabar melalui Polres Garut mengamankan AS pada Sabtu (18/5) di rumahnya, Kampung Jatijajar, Desa Sindangsuka, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut,” kata Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko didampingi Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna, Selasa (21/5).

Sebelum diamankan pihaknya, kata Trunoyudo, pihaknya menerima laporan polisi pada 18 Mei 2019 dan melakukan penyelidikan hingga penyidikan. Selain itu, pihaknya juga memeriksa sejumlah saksi dan kemudian mendapatkan adanya tindakan pidana yang dilakukan AS.

“Lalu kemudian AS ini kita tetapkan sebagai tersangka,” katanya.

Barang bukti handphone yang digunakan untuk menyebar pesan ancaman bom.

AS merupakan guru ASN yang diketahui mengajar pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) di salah satu SMA Negeri di Garut. Ia ditetapkan tersangka karena membagikan pesan teror ancaman pengeboman masal di Jakarta pada 21-22 Mei.

“Di antara grup yang dikirimi pesan tersebut adalah PAI, media Islam, sedulur Banten, SGT, dan Indonesia for Palestin,” ungkapnya.

Adapun isi pesan yang disebarkan AS, adalah:
MARI HANCURKAN PERUSAK NKRI.
UNDANGAN PENGEBOMAN MASSAL DI JAKARTA!!!
PERANG BADAR DILAKUKAN KETIKA RAMADHAN, MARI KITA BERPERANG DI BULAN RAMADHAN INI,, INGAT TANGGAL 21-22 MEI !!!.
CATATAN : Bagi yang ingin membantu jihad kami, dapat datang ke Jl. HOS Cokroaminoto No.91, Menteng, Jakarta untuk mengambil peralatan peledakan (jangan membawa antum)

Trunoyudo menegaskan bahwa penegakan hukum yang dilakukan merupakan tindakan terakhir. Hal tersebut ia ungkapkan karena selama ini kepolisian sudah melakukan tindakan preventif untuk mencegah penyebaran hoaks.

“Untuk lokasi ancaman pengeboman hanya dituliskan nama Jakarta saja, tidak ada lokasi jelas yang dituliskan. Namun yang jelas ini semua hoaks dan pelaku asal menyebarkan informasi yang diterimanya. Kami juga masih mendalami darimana pelaku dapat informasi tersebut,” katanya.

Selain itu juga, Trunoyudo menyebut bahwa AS posisinya sebagai penyebar pesan saja ke grup dan kontak whatsapp miliknya. Untuk pembuat pesan itu sendiri, berdasarkan pengakuan AS bukanlah dirinya. Pihak kepolisian sendiri terus melakukan pendalaman untuk pembuat pesannya.

“Pesan tersebut didapatkan AS pada Kamis (16/5) sore dari salah satu grup. Ia kemudian menyebarkan pesan tersebut ke beberapa grup lainnya pada Kamis malam. Tentu kita ketahui dampaknya ke masyarakat adalah membuat rasa ketakutan,” katanya.

Pihak kepolisian mengamankan sejumlah barang bukti dalam kasus tersebut, seperti smartphone milik AS dan saksi. Selain itu juga, pihak kepolisian mengambil postingan twitter akun atas nama Nona Cebong Manado.

Akibat perbuatannya itu, AS dikenakan pasal dugaan tindak pidana pemberantasan terorisme, pasal 45A ayat 2 undang undang RI nomor 19 tahun 2016 tentang ITE, dan pasal 15 undang undang RI nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

“Ancaman hukuman minimal 5 tahun, maksimal 20 tahun,” katanya. (igo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here