Petugas KPPS yang Gugur Mencapai 225 Orang

94

16 Anggota Polri Gugur dalam Pengawalan Pemilu

RadarPriangan.com, JAKARTA – Kabar duka kembali menyelimuti Polri. Anggota Polda Riau Bripka Roma gugur akibat kecelakaan tunggal usai mengawal perhitungan suara di PPK wilayah tersebut. Kabar ini menambah deretan panjang anggota Polri yang gugur menjadi enambelas orang,

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, faktor kelelahan menjadi penyebab kecelakaan tunggal Bripka Roma.

“Diduga kelelahan bertugas di PPK, akhirnya saat berangkat menuju tempatnya bertugas untuk mengawal penghitungan suara di PPK kecelakaan tunggal, kabarnya korban juga baru saja pulang malam berganti shift dengan anggota lain, dan paginya berangkat lagi,” kata Dedi di Mabes Polri, Kamis (25/4).

Seperti 15 anggota Polri lainnya yang gugur pada Pemilu 2019 ini, Roma memperoleh kenaikan satu pangkat dari Kapolri, termasuk pemenuhan hak-hak lainnya.

“Ya, Kapolri langsung memberikan penghargaan kenaikan pangkat luar biasa satu tingkat kepada anggota yang gugur ini, sebagai bentuk apresiasi atas tugas dan tanggungjawabnya,” ujar perwira Polri bintang satu tersebut.

Dedi mengungkapkan, terkait banyaknya anggota polri yang gugur saat tugas pengamanan pesta demokrasi kali ini, tentunya akan menjadi bahan evaluasi. Kemudian, sebagai langkah antisipasi agar tak ada lagi kasus gugurnya anggota dari bidang SDM Polri telah membuat TR atau arahan.

“Arahannya, khususnya bagi yang bertugas di PPK agar betul-betul mengatur shiftnya bergantian dan anggota dapat memperhatikan waktu istirahatnya secara teratur. Dan agar setiap Dokkes di Polda-Polda bisa mengontrol secara teratur kesehatan, dan kasih asupan vitamin ke anggota yang bertugas guna memberikan stamina tambahan,” tuturnya.

Dedi mengakui, jumlah personel yang gugur dalam Pemilu 2019 meningkat 100 persen dari pelaksanaan Pemilu 2014. Sebelumnya hanya ada sebanyak 8 anggota yang gugur tapi kini totalnya 16 personel.

“Faktor banyaknya anggota gugur tahun ini, karena memang waktu Pemilu kali ini cukup panjang. Bahkan, anggota-anggota yang bertugas tak cukup bekerja 12 jam, melainkan bisa sampai 24 jam lebih. Sementara pada tahun 2014 lalu, sore hari usai pencoblosan sudah selesai,” ujarnya.

“Intinya, durasi waktu yang panjang ini yang akibatkan banyak anggota gugur. Dari anggota yang jaga TPS, mereka harus kawal penghitungan surat suara sampai selesai kemudian antar ke PPK. Dan sekarang ini, waktu penghitungan bisa sampai 8 jam bahkan sampai pagi hari. Kalau 2014 lalu, kan tidak sore penghitungan selesai malamnya tinggal antar ke PPK,” tambah Dedi.

Sementara itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan update petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia selama proses Pemilu 2019. Data per Kamis (25/4) pukul 19.00 WIB, petugas KPPS yang meninggal mencapai 225 orang.

Jumlah petugas KPPS yang meninggal dunia ini semakin bertambah dari data sebelumnya. Catatan per Rabu (24/4), jumlah petugas KPPS yang meninggal dunia mencapai 144 orang.

“Catatan kami, petugas yang wafat ada 225,” ungkap Komisioner KPU, Viryan Aziz kepada wartawan, Kamis malam (25/4).

Selain data KPPS yang meninggal, KPU juga mencatat jumlah petugas yang sakit selama proses Pemilu 2019 yakni sebanyak 1.470 orang.

“Total petugas yang kena musibah, baik yang wafat dan sakit mencapai 1.695,” ungkap Viryan.

Sementara itu, Komisioner KPU, Wahyu Setiawan menyebut kelelahan menjadi faktor utama petugas KPPS jatuh sakit dan meninggal dunia. Hal ini, kata dia, harus menjadi perhatian para petugas lain yang sedang menjalankan tugas.

“Faktornya kelelahan ya. Bukan karena kecurangan,” ungkap dia, Kamis malam (25/4).

Wahyu menjamin negara akan memberikan santunan kepada petugas KPPS yang wafat dan sakit. Hanya saja, dia belum tahu waktu penyaluran santunan akan diberikan. “Sesegera mungkin, ya mungkin hari Minggu besok mulai,” pungkas dia. (jpnn/mhf/fin/tgr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here