Pengrajin Kolang-Kaling Kebanjiran Pesanan

72
Pengrajin caruluk atau buh kolang kaling di Pamarican, Ciamis, kebanjiran order di bulan Ramadan ini. (RIZKI ALDISAPUTRA/RADAR PRIANGAN)

RadarPriangan.com, CIAMIS – Bulan suci Ramadan 1440 H menjadi berkah tersendiri bagi sebagian besar masyarakat di Blok Siluk, Dusun Sambungjaya, Desa Sukahurip, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, yang lebih dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan kampung caruluk atau pengrajin kolang-kaling.

Selama bulan puasa, sejumlah masyarakat di kampung tersebut menjadi pengrajin kolang-kaling, untuk memenuhi pasar. Pasalnya setiap bulan puasa tiba pesanan caruluk atau kolang-kaling dari wilayah tersebut meningkat tajam. Satu orang pengrajin kolang-kaling dapat memenuhi pesanan hingga 1 ton setiap minggunya, untuk di jual di pasar-pasar yang ada di wilayah Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, bahkan ke pasar-pasar yang ada diwilayah Provinsi Jawa Tengah, seperti Sidareja, Gandrung, Cilacap, Majenang, Wanareja, dan daerah lainnya.

“Mungkin sudah menjadi tradisi tahunan setiap masuk bulan puasa tiba, hampir setiap orang, menjadi pengrajin kolang-kaling musiman, untuk memenuhi pesanan dari berbagai pasar di wilayah Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, dan pasar-pasar di wilayah Provinsi Jawa Tengah,” ujar salah satu pengrajin kolang-kaling, Warsito, saat ditemui ditempat pengolahan kolang-kaling, Selasa (7/5).

Untuk memenuhi pesanan tersebut, biasanya para pengrajin melibatkan anggota keluarganya atau warga lainnya dalam memproduksi bahan makanan yang terbuat dari buah aren tersebut.

“Bahkan tidak hanya orang tua, anak usia sekolah pun di kampung ini, setiap harinya turut membantu orang tuanya dalam pengolahan kolang-kaling, agar mendapat tambahan uang jajan selama bulan ramadhan,” jelasnya.

Warsito mengatakan, Proses pengolahan kolang-kaling sendiri masih mempergunakan alat sederhana, buah aren yang sudah dipetik dari pohon selanjutnya direbus hingga matang, setelah matang dikupas dan ditumbuk terlebih dahulu agar terlihat pipih dan teksturnya kenyal.

“Paling sedikit dalam seminggu kami bisa memproduksi dua hingga tiga kwintal kolang-kaling. Kalau lagi ramai bisa mencapai 1 ton, harga kolang kaling sendiri saat ini Rp10 ribu per kilogramnya,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan pengrajin kolang-kaling lainnya, Usup mengatakan, datangnya bulan suci Ramadan ini, baginya adalah berkah, dan bisa mendatangkan rejeki, untuk mendapatkan tambahan penghasilan dari menjual hasil olahan kolang-kaling.

“Semuanya bekerja mengolah kolang-kaling, mulai dari mencari bahan, menumbuk sampai proses penjualan. Bulan puasa menjadi berkah tersendiri bagi warga sini, ketika warga lain sibuk bekerja keluar kota, warga kami sebaliknya, sibuk di halaman rumah dan di kebun-kebun, mengambil, mencari dan mengolah buah aren untuk dijadikan kolang-kaling,” pungkasnya. (mg2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here