Pengakuan Peserta Aksi Massa Berujung Rusuh

135
Aksi massa di depan gedung Bawaslu, Jakarta (22/5/2019). (Iwan Tri Wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK)

Ditembaki Gas Air Mata di Masjid

RadarPriangan.com, JAKARTA– Aksi unjuk rasa dari berbagai elemen masyarakat yang menolak hasil Pemilu 2019 berujung bentrokan dengan aparat kepolisian, sejak Selasa (21/5) malam, hingga Rabu (22/5) malam. Sedikitnya enam nyawa menjadi korbannya.

Bentrokan berawal dari massa yang tak mau membubarkan diri sesuai arahan petugas pengamanan, sekitar pukul 22.00 wib di depan Gedung Bawaslu. Padahal sudah sesuai kesepakatan massa harusnya sudah bubar.

Sayangnya, ada provokasi dari massa dengan cara merusak kawat pembatas (barier) di depan kantor Bawaslu, seperti diakui pihak kepolisian. Akibatnya, bentrokan pun tak terelakan hingga petugas dengan paksa memukul mundur massa agar dapat membubarkan diri.

Upaya paksa itu dilakukan dengan cara menembakkan gas air mata ke arah massa. Tembakan ini menyulut amarah massa aksi untuk melakukan perlawanan dengan melempari berbagai jenis benda apapun ke arah petugas. Situasi pun makin panas, menangkap sejumlah orang yang diduga provokator.

Aksi pengejaran petugas itu pun sampai ke kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di mana massa juga terus melakukan perlawanannya, dan berdasarkan informasi situasi itu baru dapat cair, sekitar pukul 04.00 wib pagi atau selama sekitar 6 jam.

Fachrul (35), yang mengaku ikut dalam bentrokan menyebut, dia bersama massa, awalnya tak berniat melakukan provokasi dan membuat kerusuhan. Namun upaya petugas menembaki gas air mata dan tindakan kekerasan menyulut emosi dia dan rekan-rekannya.

“Kita dari awal berniat untuk melakukan aksi damai, tapi polisi memprovokasi kami dengan cara menembaki gas air mata. Bahkan memukuli kami agar membubarkan diri. Sehingga wajar kami melawan, polisi biadab, kami hanya ingin menyuarakan keadilan,” ungkapnya ditemui di Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang, Rabu (22/5).

Fahcrul mengakui, situasi saat itu benar-benar mengerikan dan menakutkan. Petugas memukul mundur massa dengan paksa tanpa mempedulikan keadaan massa. Bahkan, ada beberapa orang yang ditangkap dan terluka.

“Kami prihatin dengan sikap arogan polisi itu, polisi biadab,” ucap Facrul yang mengaku sebagai warga Jakarta Barat tersebut.

Sementara itu penjaga Masjid Al-Ma’mur Erik menuturkan, dalam kerusuhan yang terjadi, dia mengakui melihat aksi polisi memukul mundur massa tak hanya dijalan-jalan. Tapi juga hingga ke dalam masjid tempatnya tersebut.

“Memang ada beberapa massa yang melarikan diri ke masjid untuk menyelamatkan diri. Namun, polisi tetap memburunya dan menembaki gas air mata ke masjid kurang lebih sekitar tiga kali. Dan saya lihat dilakukan oleh polisi dari atas kendaraannya,” tutur Erik di lokasi.

“Saya pikir tindakan polisi itu tidak benar, ini masjid kenapa masih ditembaki juga,” sambung Erik.

Di tempat yang sama, Ade (33), seorang pesert aksi dari Bandung, Jawa Barat mengakui, ikut menjadi saksi penembakan polisi ke arah masjid. Dia menyebut, ada lima kali tembakan yang dilakukan polisi ke dalam masjid, hingga seluruh ruangan dipenuhi gas airmata.

“Saya saat itu lagi istirahat dalam masjid, karena memang sudah lelah ikut aksi dari pagi hari. Tiba-tiba, banyak massa berlarian ke dalam dan disusul suara tembakan gas air mata ke masjid hingga penuh asap, dan membuat orang berhamburan keluar,” terang Ade.

“Waktu kejadian itu juga, ada salah satu orang langsung meminta bantuan kepada warga lewat pengeras suara. Dan akhirnya, banyak warga sekitar pada keluar rumah dan mengakui kalau gas air mata juga dirasakan mereka di rumahnya,” tambah massa aksi yang mengaku sudah berada di Jakarta, sejak Senin pagi.

Terpisah, Karopenmas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyampaikan, soal kronologi kericuhan unjuk rasa di depan Gedung Bawaslu RI, pada Selasa (21/5) hingga Rabu (22/5) pagi. Menurutnya, awalnya unjuk rasa berjalan damai dan tertib, sampai diberika kelonggaran waktu hingga malam.

“Iya, awalnya damai makanya kami beri kelonggaran hingga buka puasa bersama, shalat isya dan tarawih. Bahkan anggota kami (polisi) shalat bareng massa. Lalu, massa diimbau oleh kapolres untuk bubar,” kata Brigjen Dedi kepada awak media.

Saat itu diakui Dedi, massa peserta aksi pun waktu itu mengikuti himbauan Kapolres untuk dapat membubarkan diri, pada Selasa sekitar pukul 21.00 WIB. Namun, sekitar pukul 23.00 WIB, tiba-tiba sekelompok massa berjumlah ratusan orang muncul di depan Gedung Bawaslu merusak Barier.

Melihat situasi itu, kata Dedi, petugas awalnya berupaya membubarkan massa dengan negosiasi. Namun massa tetap bertahan, hingga kemudian membuat provokasi dengan mendorong petugas dan merusak kawat pembatas.

“Dan saat pendorongan itu, tiba-tiba ada massa yang melemparkan batu, kayu dan bom molotov. Akhirnya, petugas pun melakukan tindakan tegas untuk memukul mundur massa agar menjauhi Gedung Bawaslu. Tercatat pukul 03.00 WIB, akhirnya massa mundur ke arah Tanah Abang,” jelas Dedi.

Dihubungi terpisah, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menyebut, rusuh aksi massa itu merupakan ulah provokator. Hal itu lantaran, aksi demo kemarin sudah berjalan tertib dan bubar dengan damai.

“Kerusuhan itu karena ada segelintir orang yang sengaja membuat provokasi agar membuat warga terlibat, tapi semua bisa kita atasi semua. Dan kita pastikan, aksi demo berjalan tertib dan damai sebelumnya,” ucap Argo.

Adapun terkait pelaku provokasi itu, Argo mengakui, pihaknya masih mendalami. Menurut Argo, saat ini sebanyak 257 tersangka yang dianggap menjadi dalang dari kerusuhan yang terjadi, pada 21 Mei 2019 hingga 22 Mei 2019.

“Saat ini kita masih periksa intensif, untuk penyelidikan orang dibalik mereka semua yang diduga merupakan provokator terjadinya kerusuhan tersebut,” ungkap Argo.

Argo sendiri menyebut, 257 tersangka itu ditangkap dari 3 tempat kejadian perkara yaitu Bawaslu, Petamburan, dan Gambir. Dari Bawaslu ada 72 tersangka, lalu 156 tersangka dari Petamburan, dan sisanya 29 tersangka dari kerusuhan di Gambir.

Argo menegaskan, kepada mereka yang diamankan itu kini sudah ditetapkan sebagai tersangka dengan sangkaan melanggar pasal tentang kekerasan hingga pembakaran.

“Masing-masing kita jerat pasalPasal 170 KUHP, 212 KUHP, 214 KUHP, 218 KUHP, dan untuk di Petamburan 187 KUHP tentang pembakaran,” tegas Argo.

Sementara itu saat ditanya terkait kabar adanya pengejaran dan penembakan ke dalam sebuah masjid saat kerusuhan terjadi di Tanah abang, Argo membantahnya.

“Iya ada memang isu yang menyebut, bahwa personel pengamanan masuk ke masjid-masjid untuk mengejar pengunjuk rasa. Dan saya pastikan itu tidak benar,” tutupnya. (Mhf/gw/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here