Pembongkaran Bangunan di Lahan KAI Ditunda Usai Pemilu, Warga Inginnya setelah Lebaran

146
MASIH BERTAHAN: Warung nasi milik Misja di Loji, Garut Kota, salah satu bangunan yang pembongkarannya ditunda hingga Pemilu mendatang. (MUHAMAD ERFAN/RADAR GARUT)

RADARPRIANGAN.COM, GARUT – Proses pembongkaran rumah dan bangunan di atas lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Kelurahan Pakuwon, Kecamatan Garut Kota, untuk sementara dihentikan.

Misja, ketua RW 12 mengatakan, pembongkaran akan kembali dilakukan setelah pelaksanaan Pemilu 17 April 2019 mendatang.

“Sebagian rumah ada yang sudah dibongkar. Tapi menjelang Pemilu pembongkaran diberhentikan. Nah nanti setelah Pileg dan Pilpres pembongkaran akan kembali dilakukan oleh warga sendiri,” kata pemilik warung nasi di kawasan Loji Stasiun Kereta Api, Garut Kota.

Menurutnya, dari sebanyak 153 Kepala Keluarga (KK) di RW 12 Kelurahan Pakuwon, hanya 8 KK yang rumahnya tidak dibongkar, karena mereka memiliki sertifikat milik sendiri.

Adapun pembayaran ganti rugi dari PT KAI kepada masyarakat sudah tuntas dibayarkan melalui rekeningnya masing masing.

“Nilainya bervariatif, paling kecil Rp4-5 jutaan, dan yang paling besar Rp30 hingga 50 jutaan. Sekarang warga berpencar mencari rumah baru, ada yang mengambil perumahan, ada yang ngontrak, ada yang kembali ke keluarganya. Kalau saya dan keluarga mengambil perumahan. Tapi kalau jualan untuk sementara di sini dulu,” ujar Misja, Selasa (26/3).

Misja mengatakan, uang yang diterima dari PT KAI sebenarnya bukan untuk ganti rugi, melainkan untuk ongkos bongkar rumah masing-masing warga.

Ia menjelaskan, dalam ketentuannya setelah seminggu uang diterima melalui rekening bank, rumah atau bangunan harus dibongkar oleh masing-masing warga. 

“Bumi sareng bangunan mah kedah dibongkar ku masing-masing weh, janten artos eta teh sanes ganti rugi tapi kanggo ongkos ngabongkar.” kata Misja.

Terkait adanya 8 KK yang sudah memiliki sertifikat hak milik (SHM), Misja tidak mengetahuinya secara rinci.

“Memang di peta lokasi PT KAI delapan rumah milik warga itu tidak nampak, di sananya putih. Mungkin sejak zaman Belanda nya sudah begitu,” katanya.

Sementara itu, sejumlah warga yang berada di bantaran rel kerata api meminta, pembongkaran bangunan rumah dilakukan setelah lebaran idul fitri.

Dengan penundaan itu mereka berharap, agar waktu kepindahan lebih leluasa.

“Ya ari kahoyong mah pembongkaran teh engke weh tos lebaran, supados jongjon sareng terakhir lebaran di lembur ieu,” kata Undang warga Kelurahan Sukamentri. (erf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here