Pelatih dan Atlet Berprestasi Garut Tolak Bonus

146
Rizal Syam

Besaran Bonus Tidak Sesuai dengan Usulan

RadarPriangan.com, GARUT – Sejumlah insan olah raga mulai dari atlet maupun pelatih berprestasi di Kabupaten Garut memnolak pemberian bonus dari Dinas Pemuda dan olahraga (Dispora) Kabupaten Garut.

Bahkan simbolis penyerahan bonus yang akan digelar pada apel gabungan di Lapang Setda Garut, pagi ini (22/4) rencananya tidak akan dihadiri para pelaku olahraga.

Juru Bicara cabang olahraga, Rizal Syam, mengungkapkan alasan penolakan bonus disebabkan tidak sesuainya besaran bonus yang akan dibagikan Dispora dengan ajuan sebelumnya.

Oleh karenanya, kata Rizal, jika tetap dilaksanakan akan terjadi kegaduhan dilingkungan atlet dan pelatih.

Rizal mengatakan, usai menerima undangan terkait rencana pemberian bonus dari Dispora, para pengurus cabor menggelar pertemuan di aula KONI dan dihadiri hampir seluruh pengurus cabor.

Menurutnya, dari hasil pertemuan tersebut disepakati beberapa keputusan, di antaranya seluruh cabor yang didalamnya terdiri dari pelatih dan atlet sepakat menolak bonus.

“Rencananya bonus itu akan diberikan oleh Dispora secara simbolis pada hari Senin tanggal 22 April bersamaan dengan apel gabungan di lapang Setda Garut. Tapi sudah disepakati pulapara atlet dan pelatihan tidak akan memenuhi undangan tersebut,” kata Rizal saat dihubungi Radar Garut, kemarin (21/4).

Rizal menjelaskan, penolakan ini disebabkan beberapa alasan, pertama besaran bonus senilai Rp900 juta untuk bonus bagi perorangan maupun kelompok tidak sesuai dengan usulan KONI yaitu sebesar Rp1,4 miliar.

“Yang kami ajukan Rp1.4 miliar dengan asumsi peraih emas mendapat bonus Rp35 juta, perak Rp25 juta dan perunggu Rp15 juta. Alasan Kedua dari besaran bonus yang Rp900 juta tersebut ternyata bukan hanya bonus untuk para atlet Porda saja tapi diberikan pula untuk bonus atlet Asian Games, Popda dan Pospeda,” katanya.

Sehingga kata Rizal, pemberian bonus itu dinilai sangat menyimpang dari usulan semula dimana bonus hanya diperuntukkan bagi atlet peraih medali di Porda Jabar 2018.

Rizal mengatakan, jika yang Rp900 juta itu hanya diperuntukan bagi atlet dan pelatih cabor di Porda saja bisa diterima. Tetapi kalau dibagi-bagi untuk bonus atlet Asian Games, Pekan Olahraga Pelajar (Popda) dan Pekan olahraga Pesantren (Pospeda) tidak akan diterima dan itu butuh musyawarah lagi.

“Masa bonus Porda Bogor lebih kecil dari bonus Porda di Bekasi, Terutama bagi bonus pelatih. Kalaupun Dispora ingin memberikan bonus diluar Porda, Ya silahkan saja tapi jangan mengambil dari jatah bonus buat kami sebagai pelatih dan atlet peraih medali Porda. Jadi sekarang ini besarannya tidak sesuai dengan usulan. Kalau dipaksakan Rp900 juta bisa diatur-atur. Tapi kalau yang Rp900 juta itu diambil lagi buat bonus Asian Games, Popda & Popenas'” beber Rizal.

“Jelas kami keberatan dan memutuskan untuk menolak bonus tersebut. Mestinya Dispora itu bermusyawarah dulu dengan kami. Jangan ujug-ujug ada undangan, kata Ketua cabor balap sepeda itu,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, pembagian bonus juga terjadi ketimpangan yang cukup besar, dimana yang mendapatkan emas diberi Rp30 juta, sementara yang mendapatkan perak Rp9 juta. Kemudian pelatih yang seharusnya mendapat Rp17,5 juta (setengah dari besaran atlet peraih emas, ini menjadi Rp2,5 juta, perak Rp2 juta, dan perunggu Rp1 juta.

“Coba bayangkan sudah empat tahun berlatih dapat perak diberinya Rp9 juta?” kata Rizal.

Menurutnya, imbas dari kekacauan dalam pembagian bonus ini berpotensi pada hengkangnya sejumlah atlet berprestasi untuk membela daerah lain di luar Garut.

“Bahkan dari Papua apalagi, disana kekurangan atlet untuk balap sepeda, bela diri itu kekurangan atlet pasti mereka lagi mencari (termasuk atlet Garut, red),” katanya.

Ketika ditanya alasan penurunan jumlah bonus dari Dispora, Rizal mengatakan hal itu dikatakan pihak Dispora karena kemampuan keuangan daerah. (erf) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here