Partisipasi Pemilih Pilpres Diprediksi Lebih Tinggi dari Pileg

97
Junaidin Basri

RadarPriangan.com, GARUT – Meski Pemilu dilaksanakan secara serentak, namun tingkat partisipasi pemilih untuk Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatig diprediksi berbeda.

“Kalau untuk Pilpres, dari hasil survei di tingkat nasional itu tingkat partisipasi pemilih bisa sampai 95 persen, kalau Pileg pasti kurang dari itu (Pilpres, red),“ kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Garut Djunaedin Basri, kemarin (7/4) kepada wartawan di Pendopo Garut.

Menurutnya, tingkat partisipasi pemilih pada Pilpres memang bisa sangat tinggi, sementara untuk Pileg diperkirakan lebih rendah di angka 80 persen.

Lanjutnya, penyebab rendahnya partisipasi pemilih disebabkan kurang dikenalnya para kandidat atau partai oleh pemilih.

“Bisa rendah penyebabnya karena pemilih tidak tahu harus milih siapa, jadi partisipasi pemilih untuk Pileg paling tinggi 80 persen,” katanya.

Djunaedin mengatakan, KPU sendiri telah melakukan berbagai upaya sosialisasi untuk meningkatkan partisipasi pemilih. Salahsatunya adalah lewat gerakan relawan demokrasi. Relawan ini, berasal dari berbagai segmen masyarakat dan melakukan sosialisasi soal Pemilu 2019 kepada kalangan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Sementara itu, Dian Eldo Nugraha, Ketua Lembaga Pemantau Pemilu (LPP) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kabupaten Garut melihat, masih banyak masyarakat masih belum mengenal calon-calon legislatif.

“Tingkat partisipasi pemilih (Pileg) paling di angka 70 hingga 80 persen,” kata Dian.

Terpisah, Sekretaris DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Garut Beben Ridwan memperkirakan adanya potensi raihan suara yang berbeda dari tiap tingkatan calon legislatif.

“Amanat dari Plt Ketum, raihan suara partai untuk DPRD kabupaten hingga pusat harus linier, karena Pemilu lalu selisihnya cukup besar mencapai 27 ribu suara, masih besar raihan suara untuk DPRD kabupaten daripada pusat,” katanya.

Berkaca pada Pemilu 2014, Beben menjelaskan, partainya mendapatkan 6 kursi di DPRD Garut. Sementara, untuk DPR-RI hanya satu kursi. Perbedaan raihan suara ini, menurut Beben terjadi karena para Caleg dari pusat tidak banyak yang kerja turun ke masyarakat.

“Saat ini paling hanya ada beberapa orang saja, sekitar 5 orang dari 10 caleg. Karena ada yang orang Tasik dan juga dari Jakarta,” katanya.

Pada Pemilu 2019, setidaknya PPP bisa meraih suara minimal sama dengan raihan suara pada Pemilu 2014 lalu. Dengan sistem pembagian kursi DPR-RI seperti saat ini, PPP berpeluang meraih dua orang caleg di DPR-RI dari daerah Pemilihan Garut, Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya. (erf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here