Nama AHY Kembali Mengemuka

47
Agus Harimurti Yudhoyono yang namanya disebut-sebut akan masuk kaninet Jokowi-Ma'ruf. (FIN)

Bima Arya Enggan Masuk Bursa Kabinet

RadarPriangan.com, JAKARTA – Spekulasi siapa saja Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo-Maruf Amin kembali mengemuka. Yang menarik, beberapa tokoh muda sebelumnya berada di luar koalisi. Salah satunya Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Menanggapi rumor yang muncul dan beberapa kali ditanyakan wartawan AHY bersikap santai. Terkesan dia tidak ingin berandai-andai menanggapi isu bahwa dirinya dipilih sebagai salah satu menteri pada pemerintahan Presiden Joko Widodo selanjutnya.

“Saya tidak ingin berandai-andai, saya memang banyak mendengar spekulasi yang beredar di media massa dan media sosial. Saya merasa apa pun peran saya nantinya, jika rakyat dan negara membutuhkan kontribusi dari generasi muda, kita semua harus siap,” papar pria itu, Jumat (19/7).

AHY mengatakan sebagai pemuda, semua warga harus bisa melengkapi diri dengan pengetahuan, wawasan dan kepedulian agar dapat memberikan hal terbaik bagi masyarakat Indonesia.

Sebagai warga negara yang baik, dia mengatakan telah melengkapi diri dengan sebaik-baiknya. “Tentu, kita tidak tahu apakah ada tugas tertentu. Bagi saya dalam peran apa pun, harus bisa berkontribusi secara positif,” imbuhnnya.

Agar Indonesia dapat maju di masa yang akan datang, maka harus diisi dengan sumber daya manusia unggul dan hal tersebut dapat dimulai dari keluarga.

“Mudah-mudahan generasi muda benar-benar dapat memberikan kontribusi positif. Kita harus bersyukur Indonesia punya generasi muda yang jumlahnya besar. Tetapi tidak hanya jumlah besar mereka juga harus berkualitas,” terang AHY.

Pernyataan berbeda disampaikan, Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Bima Arya Sugiarto. Tegas ia mengaku enggan masuk bursa menteri Presiden dan Wakil Presiden RI Terpilih, Joko Widodo-Ma’ruf Amin, meski Bima belakangan tampil mendukung pasangan tersebut pada Pilpres 2019.

“Ijtihad saya Jokowi yang terbaik. Engga ada dalam pikiran saya ada kompensasi saya jadi ini, jadi itu. Saya lebih ingin di Bogor, menyelesaikan PR di Bogor,” tegasnya saat berkunjung ke kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor, Jawa Barat, kemarin.

Pria yang juga menjabat sebagai Wali Kota Bogor itu mengaku enggan dipusingkan dengan persoalan bursa menteri yang dianggapnya tak menjanjikan. Sehingga, Bima mengaku akan fokus mengurusi pemerintahan di periode keduanya menjabat sebagai Wali Kota Bogor.

“Saya ga mau pusing masuk ke spekulasi itu. Saya merasa banyak yang belum tuntas yang memerlukan konsentrasi saya di Kota Bogor,” ujar Bima.

Mengenai aksi dukungan Bima terhadap Jokowi-Ma’ruf yang sempat ia gaungkan melalui acara akbar menjelang hari pencoblosan, menurutnya aksi itu hanya berupa upaya politiknya secara pribadi.

“Engga ada, itu ijtihad politik saya dipadu dengan insting. Insting saya, Pak Jokowi akan tetap menang,” bebernya.

Seperti diketahui, meski berbeda gerbong koalisi partai dalam kontestasi Pilpres 2019, Bima Arya secara terang-terangan mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Jokowi – Ma’ruf Amin saat itu.

Dukungan itu secara gamblang ia sampaikan dalam acara yang ia digelar pada Jumat (12/4) di Puri Begawan Kota Bogor Jawa Barat, dengan menghadirkan sejumlah tokoh pendukung Jokowi, seperti Budiman Sujatmiko, Wanda Hamidah, dan lain-lain.

Sementara itu, Pengamat Politik M. Qodari mengatakan, kans milenial baik AHY maupun Arya Bima untuk mengisi kabinet cukup besar. Kata Qodari, figur-figur milenial yang ada sekarang cukup punya kapabilitas untuk menduduki jabatan menteri.

Dia lantas menambahkan bahwa secara umum ada tiga segmen ketika berbicara menteri kalangan milenial.

“Yakni segmen pengusaha, segmen partai, serta yang ketiga dan tidak kalah penting yaitu dari segmen aktivis,” tegas dia.

Qodari lantas mencontohkan sosok seperti Bahlil Ketum HIPMI, Twedy N. Ginting, Bendahara Umum DPP KNPI dan alumni Lemhanas. Kemudian Aminuddin Ma’ruf mantan Ketum PB PMII yang juga Sekjen Relawan Samawi.

Selain itu, Mamberob Rumakiek, peraih suara terbanyak DPD RI dari Papua Barat, mantan Ketum PP GMKI. Kemudian ada Arief Rosyid, mantan Ketum PB HMI dan Plt. Sekjend DMI, serta Angelo Wake Kako, anggota DPD terpilih dari dapil NTT yang juga mantan Ketum PMKRI.

“Mereka ini adalah pejuang kehidupan, aktivis yang merasakan bagaimana berjuang bersama rakyat. Dan pernah memimpin dan mengorganisir puluhan bahkan ratusan ribu anggota di seluruh Indonesia. Apalagi Pak Jokowi akan membangun Manajemen Talenta Indonesia,” ujarnya.

Ya, munculnya beberapa tokoh muda belakangan ini, mendapat respon dari Ketua Bidang Pemuda dan Pengembangan Milenial DPP KNPI, Sahat Martin Sinurat. Ia menyatakan generasi milenial perlu dilibatkan dalam pemerintahan ke depan karena kaum milenial identik dengan ide-ide segar atau inovatif.

“Tidak hanya dalam sektor politik tapi juga sektor ekonomi, perdagangan, peningkatan produktivitas perikanan, seni budaya hingga IT (teknologi informasi),” kata Sahat.

Hal ini selaras seperti yang disampaikan Presiden Joko Widodo, yakni cara-cara lama dalam mengelola-mengelola organisasi, lembaga, maupun pemerintahan harus ditanggalkan. Dengan kata lain semuanya harus berorientasi pada inovasi.

“Karakter-karakter ini sebenarnya merupakan karakter dari generasi milenial, maka pemerintahan ke depan membutuhkan sumber daya manusia dari generasi milenial,” ujar Sahat.

Sahat memaparkan bahwa sejatinya Jokowi menaruh perhatian besar terhadap generasi milenial. Dalam paparan diskusi, kata Sahat, diketahui bahwa sekitar 20 persen tenaga ahli Kantor Staf Presiden merupakan generasi milenial, belum lagi yang bekerja sebagai aparatur sipil negara.

“Artinya selama ini sudah banyak generasi milenial yang membantu mengimplementasikan kebijakan pemerintah,” jelasnya.

Berkaca dari hal tersebut, lanjut Sahat, sangatlah mungkin jika dalam kabinet ke depan, akan ada 20 persen menteri milenial yang memiliki karakter berani, energik, dinamis, cepat merespon perubahan dan eksekutor program.

“Ataupun bisa ditempatkan sebagai staf khusus, badan maupun lembaga lainnya,” tambah Alumnus ITB tersebut. (lut/ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here