MK Jangan Jadi Lembaga Kalkulator!

140
Tim hukum BPN saat mendaftarkan gugatan hasil Pilpres ke Mahkamah Konstitusi, Jumat malam (24/5). (Fajar Indonesia Network)

BPN Ajukan 51 Bukti Gugatan

RadarPriangan.com, JAKARTA – Narasi bernada kritik kembali dilemparkan oleh Bandan Pemenangan Nasional (BPN) 02 Prabowo-Sandi. Kali ini melalui koordinator Tim Hukum Bambang Widjajanto, menuding Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) tidak mampu menangani kecurangan pemilu yang telah diajukan pihaknya.

“Kami berharap Mahkamah Konstitusi (MK) bukan lembaga kalkulator yang bersifat numerik,” ujar Bambang dii gedung Mahkamah Konstitusi Jakarta Pusat, Jumat (25/5) malam.

Ia menegaskan permohonan yang ia ajukan salah satunya agar MK bisa merumuskan apa benar terjadi tindakan kecurangan yang bisa dikualifikasi sebagai terstruktur sistematis dan masif. “Ada bukti pendukung menjelaskan hal itu,” tandasnya.

Bahwa laporan dugaan kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif itu sebelumnya telah ditolak Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), menurut Bambang alasan penolakan lebih disebabkan ketidakmampuan lembaga pengawas pemilu itu.

“Misalnya seperti laporan kami soal sistem IT KPU yang bermasalah, Bawaslu sepertinya tidak punya ahli IT tersendiri sehingga harus tidak menerima laporan itu,” timpal Bambang.

Bambang merasa bersyukur telah menyampaikan permohonan pelaporan kecurangan tersebut ke MK. Ia pun berharap MK sebagai lembaga yang profesional bisa memeriksa kecurangan tersebut. Sedangkan MK, menjadwalkan akan melakukan verifikasi dokumen pada 11 juni 2019. Setelahnya proses pemeriksaan di MK akan dilakukan selama 14 hari kerja untuk mengadili perkara dugaan kecurangan hasil pemilihan umum tersebut.

Seperti diketahui aparat gabungan menutup Jalan Abdul Moeis, Jakarta Pusat saat Badan Pemenangan Nasional pasangan capres/cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tiba di MK. Pintu masuk menuju MK RI terletak pada dua titik, yakni pintu depan di Jalan Medan Merdeka Barat dan pintu belakang di Jalan Abdul Moeis.

Ketua tim BPN Hashim Djojohadikusumo dan Bambang Widjojanto bersama sejumlah tim kuasa hukum tiba di MK sekitar pukul 22.30 WIB dan masuk melalui pintu belakang Jalan Abdul Moeis.

Akses sepanjang Jalan Medan Merdeka Barat telah ditutup sejak beberapa hari lalu terkait aksi massa 22 Mei, namun sampai siang hari tadi, Jalan Abdul Moeis tetap dapat dilewati kendaraan. Suasana di sekitar pintu masuk belakang MK, dijaga ketat oleh aparat dari TNI dan Kepolisian.

Sementara itu, setelah rampung mengajukan gugatan, gemuruh takbir yang diteriakkan massa mengiringi kepulangan tim BPN usai mengajukan gugatan sengketa Pilpres 2019 ke MK. Tim BPN keluar dari Gedung MK sekitar pukul 23.30 WIB, Jumat malam (24/5).

Mereka mencoba bersalaman dan berswafoto dengan Tim BPN sesaat sebelum hendak memasuki mobil, berbagai dukungan semangat berjuang terdengar dari mulut para pendukung. Berdasarkan pantauan, gemuruh dan gema takbir dari ratusan pendukung itu tetap dikumandangkan meskipun kendaraan yang membawa Tim BPN telah menjauh dari Gedung MK.

Selain takbir, massa juga menyanyikan yel-yel dukungan terhadap Prabowo-Sandi dengan diselingi teriakan ucapan terima kasih kepada TNI yang berjaga di sekitar gedung tersebut.

Sebelumnya, saat di dalam Gedung MK, Ketua Tim Kuasa Hukum Bambang Widjojanto menyerahkan 51 bukti gugatan sengketa Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi.

Permohonan yang diajukan tersebut akan melalui proses verifikasi terlebih dahulu sebelum sampai ke tangan hakim konstitusi. Permohonan itu nantinya akan diregistrasi pada 11 Juni 2019. Selanjutnya, Mahkamah Konstitusi akan menggelar sidang perdana pada 14 Juni 2019.

Saat itu, hakim akan memutuskan lanjut atau tidaknya sengketa ke tahapan persidangan dengan mempertimbangkan permohonan berserta barang bukti yang diajukan.

Kemudian Mahkamah Konstitusi akan melakukan sidang dengan agenda pemeriksaan pembuktian pada 17 Juni 2019. Adapun putusan akhir sengketa Pilpres nantinya akan dibacakan pada 28 Juni 2019. (khf/ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here