Merujuk Hasil Rukyat Global, Majelis Taqorub Ilalloh Garut Lebaran Hari Ini

177

Radarpriangan.com, GARUT – Sejumlah 400 orang Jemaah Majelis Taqorub Ilalloh kabupaten Garut, Jawa Barat menggelar shalat Idul Fitri hari ini (4/6/2019). Mereka merayakan lebaran satu hari lebih cepat dari keputusan pemerintah.

Ridlo Muhammad, (25), tim media Majelis Taqorub Ilalloh Garut mengatakan, penentuan 1 Syawal yang digunakan lembaganya, merujuk pada hasil rukyat global yang terjadi di beberapa negara saat ini.

“Hingga tadi malam kami mendapatkan informasi sudah 35 negara melihat hilal, termasuk di Turki dan Arab Saudi,” katanya usai shalat Idul Fitri di Lapangan Hall Basket, SOR Kerkof, Garut.

Keputusan tersebut merupakan hasil ijtihad para ulama, yang menyatakan jika satu negara telah melihat adanya hilal, maka negara lain wajib hukumnya untuk mengikuti. “Makanya kami mengikuti keputusan itu,” kata Ridlo.

Hingga pengamatan tadi malam, sekitar 35 negara di dunia telah menyaksikan kemunculan hilal, yang menunjukan telah berakhirnya pelaksanaan puasa Ramadan tahun ini.

“Jadi bagi kami ya sudah sah jika hari ini berlebaran, tidak genap sesuai pemerintah,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpunnya, sampai pukul 02.00 dini hari tadi, beberapa negara di dunia yang telah menyatakan adanya hilal, antara lain Arab Saudi, Turki, Tunisia, Moskow, Spanyol, Amerika Serikat, Polandia, Inggris, Thailand hingga Malaysia.

“Tapi silahkan jika pemerintah lebaran, mungkin menggunakan rukyat lokal,” kata dia.

Ia pun tidak mempersoalkan adanya perbedaan pilihan antara majelis dengan pemerintah, termasuk ormas islam lainnya, sebab keduanya berdasarkan keputusan ijtima ulama.

“Kami juga ahli sunnah, yang bermazhab 4 imam fiqih, Iman Syafii, Hambali, Maliki dan Hanafi,” ujar dia.

Saat disinggung adanya dua bendera mirip bendera HTI di atas mimbar khotib, Ridlo menyatakan jika hal itu merupakan atribut bendera, yang sudah biasa dimiliki masyarakat global.

“Tidak ada yang aneh, kan itu sudah biasa,” terangnya.

Sementara itu, Dedi Mulyadi, (60), salah satu jamaah Majelis Taqorub Ilalloh asal kecamatan Cilawu mengatakan, perbedaan perayaan lebaran dengan pemerintah tidak usah dibesarkan dan menjadi perdebatan.

“Kenapa dipermasalahkan kemarin ada majelis di Sumatera lebarannya malah kemarin, aman-aman saja,” kata Dedi.

Menurutnya, pilihan majelis Taqorub Ilalloh merupakan hasil kesepakatan ulama yang menyatakan telah melihat adanya hilal di beberapa belahan dunia. “Intinya kami menggunakan rukyat global, sementara pemerintah menggunakan rukyat lokal, silahkan saja,” tukasnya.

Bahkan berbeda jumlah dengan Ridlo, dalam hitungannya jumlah negara yang telah menyatakan adanya hilal telah mencapai 44 negara. “Dan mungkin hingga pagi ini sudah lebih banyak lagi,” kata dia.

Meski begitu, ia tetap menghormati pilihan mayoritas masyarakat Indonesia yang baru akan melangsungkan lebaran esok hari (rabu, 5 juni 2019).

“Biasa saja, kan semuanya juga punya pilihan masing-masing,” katanya.

Pihaknya berharap dengan adanya lebaran hari ini, memberikan pesan damai bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Kami juga berharap agar syariat islam ditegakan di Indonesia agar memberikan kepastian bagi masyarakat,” harapnya.

Ridlo menambahkan, dalam pelaksanaan shalat idul fitri tadi, beberapa kecamatan yang ikut bergabung yakni Garut Kota, Tarogong Kidul, Tarogong Kaler, Samarang, Leles dan Limbangan. “Tapi ada juga dari Cilawu, Cibatu dan lainnya,” pungkasnya. (erf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here