Mengenalkan Ramadhan Sejak Usia Dini

115
Listia Ningrum, M.Pd

Oleh: Listia Ningrum, M.Pd

MEMASUKI Ramadhan kita senantiasa dihadapkan pada suasana yang istimewa. Kondisi sosial kultur masyarakat bahkan memperlihatkan begitu istimewanya bulan ini. Tak heran, hal ini tentunya sesuai dengan sabda Rasul yang mengatakan bahwa: “Barang siapa yang shaum di bulan Ramadhan karena iman dan mengaharap ridho Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” Keistimewaannya inilah yang menjadikan bulan Ramadhan menjadi berbeda dengan bulan-bulan yang lainnya.

Kegembiran ini tak hanya dirasakan oleh orang dewasa. Bagi anak-anak, Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri. Ramadhan akan identik dengan kegiatan pesantren kilat, shalat tarawih bersama ke masjid dengan orang tua, baju lebaran, uang-uang baru yang dibagikan oleh keluarga. Ramadhan sesungguhnya memberikan spirit tersendiri bagi anak.

Namun, bagaimanakah sesungguhnya Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan penghayatan keagamaan bagi anak usia dini? Mengingat shaum adalah suatu ibadah yang tidaklah mudah untuk dilakukan bagi anak. Di sini, kiranya kita sebagai orang tua perlu memahami cara mereka (anak usia dini), mengenal agamanya.

Mengenalkan ibadah sejak dini merupakan suatu upaya yang tepat dalam rangka membentuk karakter anak yang religius. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat Rasul: “…kami berpuasa dan mengajak anak-anak untuk melaksanakan puasa. Kami juga mengajak mereka ke masjid dan memberikan mereka mainan dari kulit (wol). Jika mereka menangis karena lapar, kami menyodorkan mainan sampai waktu berbuka puasa tiba.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits di atas, pembelajaran bagi anak usia dini mengedepankan kebutuhan mendasar bagi anak sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Mengenalkan ibadah shaum dengan situasi yang menyenangkan adalah pilihan yang sangat tepat.

Bermain merupakan aktivitas yang dilakukan oleh setiap anak dapat digunakan dan dikelola untuk pengembangan perilaku moral pada anak. Menurut hasil penelitian Piaget, menunjukkan bahwa perkembangan perilaku moral anak usia dini terjadi melalui kegiatan bermain. Shaum dan bermain bukanlah hal yang mustahil bagi anak usia dini.

Dari inilah, aktivitas-aktivitas Ramadhan bagi anak hendaknya tak lepas dari unsur bermain, misalnya melibatkan anak ikut serta kegiatan Ramadhan khsusus bagi anak usia dini yang dikemas melalui kegiatan bermain. Melibatkan anak saat sahur dengan menu-menu favorit anak, sehinga sahur bagi mereka adalah hal yang menyenangkan.

Tak hanya itu, pengondisian lingkungan juga merupakan unsur terpenting bagi anak dalam menghayati nilai-nilai ritual ibadah shaum. Anak akan memiliki pemahaman yang kuat tentang apa arti shaum tatkala melihat orang dewasa disekitarnya juga tidak makan dan minum sepanjang hari hingga maghrib tiba. Unsur peniruan bagi anak memiliki kekuatan yang sangat tinggi, children see-children doo.

Dari inilah, anak diantarkan pada proses latihan dan pembiasaan. Latihan dan pembiasaan merupakan strategi yang efektif untuk membentuk perilaku tertentu pada anak-anak, termasuk ibadah shaum. Dengan latihan dan pembiasaan terbentuklah perilaku yang bersifat relatif menetap.

Selain tiga hal di atas, komunikasi interaktif antara orang tua dan anak tentang shaum menjadi salah satu cara yang tepat. Anak dapat diberi kisah-kisah teladan tentang shaum dan Ramadhan. Penghayatan keagamaan pada anak harus didasarkan pada karakteristik perkembangan anak.

Jika memperhatikan pendapat Ernest Harms, usaha penanaman makna keagamaan menjadi efektif jika dilakukan melalui cerita-cerita yang di dalamnya terkandung ajaran-ajaran agama. Dengan demikian daya fantasi anak berperan dalam menyerap nilai-nilai agama yang terdapat dalam cerita yang diterima.

Keberminatan anak terhadap agama sudah mulai muncul sejak usia dini. Rasa ingin tahu anak terhadap agama biasanya muncul melalui banyak pertanyaan yang berkaitan dengan agama, seperti “mengapa harus shaum” atau “mengapa harus sahur?” dan lain sebagainya.

Semoga dengan mengenalkan anak shaum Ramadhan sejak dini, dapat mengantarkan anak menjadi waladun shoolihun, pengantar para orang tua menuju keridhoan-Nya. Aamiin.
Wallohu’Allam..

Semoga Bermanfaat

*Penulis adalah pendidik di TK Persatuan Islam Tarogong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here