KPU Harus Minta Maaf

201
Rekapitulasi suara melalui Situng KPU. (dok. Jawa Pos)

Terkait Kesalahan Input Data pada Situng

RadarPriangan.com, JAKARTA – Kesalahan dalam penggunaan Sistem Informasi Pengitungan Suara (Situng) milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) merupakan masalah klasik. Kesalahan input, menurut sejumlah pengamat, bukan hanya terjadi pada Pemilu 2019. Kesalahan serupa sudah terjadi sejak 10 tahun lalu.

Direktur Eksekutif Indonesia Poltical Review Ujang Komarudin mengatakan, kesalahan yang terus menerus dilakukan dalam Situng, seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama.

“Kesalahan yang paling umum adalah kelirunya memasukkan angka dalam sistem tersebut. Sehingga tidak sesuai antara hasil pemungutan suara dengan hasil yang tertera di Situng,” kata Ujang kepada Fajar Indonesia Network (FIN) di Jakarta, Kamis (16/5), kemarin.

Dosen Ilmu Politik di Universitas Islam Al Azhar Indonesia tersebut menerangkan, meskipun bisa dilakukan perbaikan dan tidak mengubah suara, kesalahan yang terus berulang juga harus segera disikapi KPU.

Terlebih, Badan Pegawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dengan tegas menyatakan jika KPU terbukti melakukan pelanggaran tata cara dan prosedur penginputan. Menurut Ujang, KPU harus berani meminta maaf kepada rakyat Indonesia perihal kesalahan prosedur tersebut. Permintaan maaf, tidak akan mendelegitimasi penyelenggara pemilu.

“Ke depan, saya rasa untuk Situng sebaiknya tidak lagi digunakan. Berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, hal ini terus menuai polemik. Apalagi jika ada wacana perubahan sistem pemilu di Indonesia. Menggunakan e-voting misalnya. Saya rasa Situng sudah harus ditinggalkan,” paparnya.

Dikatakan, Situng harus menjadi evaluasi tersendiri. Jika terus menuai polemik, khususnya bagi peserta pemilu, lebih baik KPU menggunakan penghitungan manual yang bisa diakses masyarakat.

Berbeda dengan Ujang. Pengamat Politik Emrus Sihombing menegaskan, jika Situng harus terus dilakukan. Menurutnya, dengan mengakses Situng, masyarakat yang telah memberikan hak suaranya pada 17 April lalu bisa mengetahui perolehan suara sementara. Meskipun tidak bisa dijadikan acuan, tetapi bisa menjadi gambaran.

“Sekarang kalau tidak ada Situng, siapa yang harus kita percaya. Apalagi masyarakat yang sudah memilih pasti ingin tahu perolehan suara jagoannya. Jika Situng dihentikan, tentu akan merenggut hak masyarakat untuk mengetahui penghitungan secara cepat dari lembaga penyelenggara pemilu,” kata Emrus.

Akademisi Universitas Pelita Harapan ini menambahkan, sudah menjadi rahasia umum jika terjadi kesalahan input yang dilakukan operator Situng. Emrus menyarankan baik ketua ataupun komisioner KPU tampil ke depan meminta maaf atas kesalahan yang telah dibuat oleh petugas Situng.

“Saya rasa itu lebih bijaksana meminta maaf ketimbang menghentikan Situng. Toh, kesalahan bisa diperbaiki. Hanya saja, jika terus terulang memang menjadi sesuatu perhatian,” imbuhnya.

Situng Bukan Hasil Final

Terpisah, Komisioner KPU RI, Pramono Ubaid Tanthowi menyampaikan pihaknya berterima kasih karena Bawaslu tidak memerintahkan menutup Situng. Bawaslu tetap memerintahkan Situng tetap berjalan dengan ada perbaikan. Pramono mengaku, selama ini KPU selalu melakukan perbaikan jika ada temuan kesalahan pada Situng. Hal itu dilakukan meski tanpa putusan dari Bawaslu.

“Selama ini mekanisme itu sudah berjalan dan kami ucapkan kepada Bawaslu terima kasih sudah memberikan keputusan yang sudah adil,” kata Pramono di Kantor KPU, Jakarta, Kamis (16/5).

Namun KPU mengapresiasi putusan tersebut. Pramono menyebut Bawaslu masih memiliki komitmen keterbukaan informasi terkait penyelenggaraan pemilu.

“Sejak awal telah kami tegaskan bahwa KPU terbuka atas laporan dan masukan publik. Jika informasi itu benar, maka akan kami perbaiki,” tuturnya.

Pramono berjanji KPU akan memperbaiki sistem input Situng. Namun, dia juga mengingatkan publik bahwa Situng bukan hasil final yang akan ditetapkan KPU. Menurutnya, putusan Bawaslu sebenarnya menegaskan bahwa proses penetapan hasil-hasil pemilu bukanlah melalui Situng. Karena penghitungan dilakukan secara manual berbasis rekapitulasi secara berjenjang. (khf/fin/rh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here