KPPS Bertumbangan, Komnas HAM Bergerak Kumpulkan Data

141
KPU menyerahkan santunan senilai Rp36 juta kepada keluarga petugas KPPS yang wafat saat menyelenggarakan Pemilu 2019, 3 Mei lalu. (Faisal R Syam / FAJAR INDONESIA NETWORK)

RadarPriangan.com, JAKARTA – Ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) bertumbangan. Tidak hanya sakit, banyak di antara mereka sampai kehilangan nyawa. Kondisi itu mematik perhatian banyak pihak. Termasuk juga Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Pekan ini mereka bakal menurunkan Tim Pemantau Pemilu 2019 untuk mencari tahu lebih jauh data maupun informasi terkait kondisi tersebut.

Komisioner Komnas HAM Choirul Anam termasuk di antara tim pemantau yang turun ke lapangan pada agenda puncak pemilu beberapa waktu lalu. Dia bertugas di Jawa Timur. Menurut pria yang biasa dipanggil Anam itu, banyak hal melatarbelakangi tumbangnya ratusan petugas KPPS dalam pemilu tahun ini. Bukan hanya fisik. Masalah psikologis juga dinilai patut menjadi perhatian. “Konteks yang juga harus dilihat adalah psikologis,” imbuhnya.

Beban kerja petugas KPPS memang berat. Sehingga menguras fisik mereka. Namun, tekanan psikis juga tidak kalah hebat. Anam menyebutkan situasi dan kondisi sepanjang helatan pemilu tahun ini bisa jadi turut menekan psikologis petugas KPPS. Media sosial yang gaduh, sambung dia, ditambah dengan ekspektasi masyarakat serta kekhawatiran dituduh curang berpotensi menekan petugas KPPS dari dalam. Sehingga mereka bekerja ekstra.

Tujuannya tidak lain untuk menunjukkan komitmen kepada masyarakat. “Di situlah tekanan psikologis itu berat sekali,” imbuh Anam.

Belum lagi, masih kata dia, berbagai persoalan teknis yang turut mengiringi penyelenggaraan pemilu serentak tahun ini. Beberapa jadwal yang bergerser pascaputusan Mahkamah Konstitusi (MK) serta masalah logistik yang bermunculan pada detik-detik terakhir jelang coblosan juga menambah beban petugas KPPS.

Anam menyebutkan bahwa instansinya melihat itu sebagai pemicu tumbangnya ratusan petugas KPPS hingga banyak di antara mereka meninggal dunia. “Bukan menyebabkan kematian. Tapi, memicu kematian,” imbuhnya. Tekanan yang muncul terhadap fisik maupun psikis membuat petugas KPPS yang punya riwayat penyakit kambuh. Hingga nyawa mereka tidak dapat diselamatkan.

Untuk memastikan dugaan tersebut, Tim Pemantau Pemilu 2019 yang dikerahkan Komnas HAM kembali bekerja. Mereka bakal menggali data dari sumber-sumber utama. Mulai keluarga petugas KPPS yang sakit maupun meninggal dunia, petugas KPPS yang tidak tumbang, KPU, sampai instansi terkait lainnya. “Kami mau verifikasi,” imbuh Anam. Verifikasi dilaksanakan dengan mengambil sampel dari beberapa daerah.

Targetnya, semua data dan informasi yang dibutuhkan sudah terkumpul sebelum pengumuman hasil pemilu serentak dilakukan oleh KPU. Dengan begitu, rekomendasi bisa mereka sampaikan sebelum penyelenggara pemilu menyampaikan siapa saja yang memenangkan pemilu. Itu penting untuk evaluasi maupun penyelenggaraan pemilu ke depan. Sehingga pesta demokrasi tidak lagi merenggut banyak nyawa petugas. (syn/ful)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here