KPK Kecewa Hasil TPF Novel

72
Kepala Divisi Humas Polri Irjen M Iqbal didampingi Juru bicara tim Pakar Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), Nurcholis dan Hendardi memberikan keterangan tentang kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan, setelah merampungkan masa kerjanya pada 7 Juli 2019 lalu di Gedung Awaluddin Jamin Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (16/7/019). Tim Gabungan yang terdiri dari Polri, KPK dan Tim Pakar ini, faktanya tak mampu ungkap pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. TGPF hanya memberikan rekomendasi ke Kepolisian untuk membentuk tim lapangan yang akan dipimpin langsung Kabareskrim agar dapat mengungkap kasus tersebut. (Iwan Tri Wahyudi/FIN)

RadarPriangan.com, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai belum ada perkembangan yang signifikan terhadap penanganan kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior Novel Baswedan oleh kepolisian. Terlebih soal identitas pelaku penyiraman

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif mengatakan, pihaknya sejak awal berharap pelaku dapat segera diungkap. Namun berdasarkan pemaparan, Tim Pencari Fakta (TPF) belum kunjung menemukan calon tersangka.

“Wajar jika KPK kecewa karena sampai saat ini bahkan pelaku lapangan belum ditemukan,” ujar Laode kepada wartawan, Rabu (17/7).

Kendati demikian, kata Laode, setidaknya terdapat fakta baru yang berhasil diungkap TPF. Yakni sifat serangan yang dilakukan bukan atas dasar masalah pribadi, melainkan akibat pekerjaan yang digeluti Novel sebagai penyidik.

“KPK sejak awal meyakini hal ini. Sehingga kami juga memandang serangan terhadap Novel bukan serangan terhadap pribadi, bahkan ini kami pandang serangan terhadap institusi KPK,” kata Laode.

Lebih lanjut dikatakan Laode, KPK kurang memahami konteks penggunaan istilah excessive use of power yang dilontarkan TPF. Ia menegaskan, dalam melaksakan tugasnya, penyidik menggunakan wewenang sesuai hukum acara yang berlaku.

“Jadi tidak ada perbuatan penggunaan kewenangan secara berlebihan. Bahkan dalam kasus Buol (suap kepada Bupati Buol Amran Batalipu), justru Novel dan tim yang diserang dan hampir ditabrak saat menjalankan tugasnya,” ucapnya.

Laode mengajak aparat penegak hukum untuk tetap fokus menemukan pelaku alih-alih mencari alasan atau membangun isu-isu lain. Ia pun menyatakan, pimpinan KPK akan membicarakan langkah berikutnya agar teror dan serangan seperti ini bisa ditangani, pelaku ditemukan, dan hal yang sama tidak terulang kembali.

Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK Yudi Purnono menyatakan TPF telah gagal dalam mengungkap pelaku penyerangan Novel. Untuk itu, ia menuntut Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) untuk mengambil tanggungjawab atas pengungkapan kasus Novel Baswedan dengan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang bersifat independen serta bertanggungjawab langsung kepada presiden.

Ia juga mendesak Jokowi sebagai kepala negara serta panglima penegakan hukum untuk tidak melempar tanggungjawab pengungkapan kasus ini ke pihak lain. Presiden kata dia secara tegas diharapkan dapat bertanggungjawab atas pengungkapan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. (riz/fin/tgr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here