KPK Geledah Kantor PT Inersia

119
Basaria Panjaitan dan Febri Diansyah

RADARPRIANGAN.COM, JAKARTA- Usai menetapkan tiga tersangka kasus dugaan suap kerja sama distribusi pupuk di bidang pelayaran pada Kamis (28/3), tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) langsung bergerak cepat.

Febri menjelaskan, kantor PT Inersia merupakan lokasi di mana tim satgas KPK mengamankan barang bukti berupa uang Rp8 miliar terkait kasus tersebut. Ia membeberkan, uang itu dikonversi menjadi pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu yang disimpan dalam enam lemari besi.

“(Penggeledahan) ini penting untuk mengkroscek terkait dengan temuan uang yang ada di lokasi tersebut,” paparnya.

Febri menambahkan, penyidik berhasil mengidentifikasi jumlah suap yang diterima Bowo dari PT Humpuss Transportasi Kimia. Nilainya mencapai Rp1,5 miliar yang diterima secara bertahap sebanyak tujuh kali. Sisanya, Rp6,5 miliar merupakan gratifikasi yang diterima Bowo terkait jabatannya sebagai anggota DPR.

Usai penggeledahan, penyidik akan mulai memeriksa para saksi. Rencanaya pemeriksaan akan digelar pada April 2019 mendatang. “Tapi persisnya kapan dan siapa yang akan diperiksa nanti akan disampaikan,” pungkasnya.

Dalam perkara ini, Bowo ditetapkan tersangka bersama pihak swasta bernama Indung dan Manager Marketing PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti. Penetapan ketiganya terkait kasus dugaan suap kerja sama pendistribusian pupuk PT Pupuk Indonesia dengan PT HTK di bidang pelayaran.

Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan menerangkan, Bowo diduga menerima suap sebanyak tujuh kali dengan total Rp1,5 miliar dari PT HTK. Selain itu, Bowo juga diduga menerima gratifikasi terkait jabatannya sebagai anggota dewan senilai Rp6,5 miliar.

Jika ditotal, dana haram yang diduga dikumpulkan Bowo dari praktik suap dan gratifikasi ditaksir mencapai Rp8 miliar. Uang itu dikonversi ke pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu yang dikemas di dalam 400 ribu amplop dan disimpan dalam 84 kardus.

Dana yang dikemas dalam amplop tersebut diduga digunakan Bowo untuk ‘serangan fajar’. Seperti diketahui, ia kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPR pada kontestasi Pemilu 2019. Namun, beredar kabar bahwa amplop-amplop itu ditujukan untuk ‘serangan fajar’ pasangan capres dan cawapres nomor urut 01, Jokowi-Maruf Amin.

Atas perbuatannya, sebagai penerima suap dan gratifikasi, Bowo dan Indung disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sedangkan Asty, selaku pemberi, disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP. (riz/ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here